Kotabarapraba

Jam menunjukkan pukul 23.45 WIB, ketika aku terbangun dari tidurku yang cepat malam ini. Pesan itu begitu nyata.

Aku sedang membereskan laptop di ruang tengah , ketika kudengar deru mobil berhenti di halaman rumah.

Seorang berseragam Militer masuk ke rumah tanpa mengetuk pintu, seolah ini adalah rumah yang biasa ia tinggali. Aku agak terkejut, tapi setelah mengamati seragamnya langsung otakku mengkomando untuk bisa menguasai diri.

“Selamat malam , Bu. Kami ada tugas Negara yang harus kami kendalikan dari sini. Untuk itu Kami mengambil alih Rumah ibu. Silahkan, ibu boleh pergi atau tetap tinggal di rumah ini. Kami minta ibu menemui pejabat yang berwenang untuk mendapatkan surat keterangan pengambilalihan ini.”

Biar aku perempuan bodoh yang hanya suka menulis, otakku ku latih atas kepekaan semacam ini. Otak besarku berbisik, there is something wrong n dangerous. Oleh karena itu aku tidak menanyakan surat pengantar yang seharusnya di serahkan kepadaku sebagai tuan rumah, bukan aku yang harus mencarinya sendiri atas permintaan orang tersebut. Aku merasakan ini lebih dari sebuah Intimidasi, dan nyawaku menjadi bayarannya kalo aku banyak bertanya. Aku segera fokus. “Hmm berguna juga buku Terapi Berpikir Positif nya DR Ibrahim Elfiky yang masih ada di depanku ini ku baca.”

Suamiku yang sedang berada di kamar mendengarkan percakapan kami dengan seksama. Ia keluar, hal yang seharusnya tidak ia lakukan.

Komandan itu berbicara kepada anak buahnya dengan berbisik, yang masih cukup tajam untuk telingaku. Ku dengar sebuah kalimat pendek namun singkat,”screening rumah ini, dan mulai set up.” Semakin aku merasakan hawa bahaya yang amat.

Aku tidak berfikir untuk bertanya. Yang kulakukan adalah melanjutkan packing laptop dan kertas-kertas tulisanku sebelum mereka mendahului dan membuangnya sebagai sampah. Komandan itu terus membicarakan dan mengintimidasiku untuk mendapatkan surat keterangan pengambilalihan rumahku. Aku merasa surat itu bukan tujuannya, tapi ia ingin pejabat yang berwenang mengetahui keberadaan mereka di tempat ini, di rumah ini.

Aku berkemas, kukenakan Sweater merah untuk menghalau dingin yang menyerang malam ini. Aku tidak bertanya apa-apa. Bukan takut, tapi lebih kepada kerhati-hatian dan mengharap mereka menganggapku bodoh, karena dengan begitu aku merasa jiwaku aman. Aku hanya menyerahkan kertas dan pena, untuk di tulis tentang surat pengantar tersebut. Entahlah apa yang dia tulis, satu halaman bolak-balik selembar kertas itupun penuh, dan di akhiri dengan tanda tangan.

Komandan itu menyerahkan kertas itu kepadaku, untuk aku serahkan kepada pejabat yang berwenang di Asrama MIliter Yang aku tempati ini. Aku langsung memasukkannya ke dalam kantong belakang sebelah kanan jeansku, tanpa aku membacanya. Dari mimik muka orang-orang ini membuatku ingin segera pergi meninggalkan rumah ini, toh bisa ku baca nanti.

Aku berjalan keluar di pintu tengah , seorang jendral mengahalangi langkahku dengan tongkatnya. Wajah nya begitu familiar, tinggi,berkopiah, berkacamata hitam dengan stelan seragam khasnya. Tidak mungkin ini pak karno, tidak mungkin.” Itu yang terlintas di benakku.

Beliau menghadangkan tongkatnya untuk menghalangi langkahku. “ Sebentar dik, Kamu tahu KOTABARAPRABA?”

“Aduh pak, saya gak tahu itu apa.” Aku yakinkan dengan mimik bodohku.

“ya sudah.” Orang yang kuyakini sebagai jendral Soekarno itu menarik tongkatnya dan mempersilahkan aku pergi. Ia melepasku dengan senyuman yang sangat misterius, senyuman kemenangan, dan senyuman yang seolah-olah berbicara” bagus, dia tidak tahu, ini perempuan bodoh.”Dari senyuman itu aku tahu, aman bagiku berlaku sebagai orang bodoh.

Aku segera melintasi Ruang tamu untuk segera keluar dari rumah yang dalam sesaat berubah menjadi markas militer ini. Ruang tamu sudah penuh dengan militer. Kapan ya mereka datang. Kenapa aku hanya mendengar deru satu mobil. Mungkin saking konsentrasinya aku tadi dengan pembicaraan si komandan, akhirnya konsentrasiku tidak bisa mendengar deru-deru mobil lain yang berdatangan. Ternyata 5 mobil sudah parkir di halaman rumput rumah yang hijau ini.

Aku dan suami terpana untuk beberapa saat. Badanku menjadi gemetar, gigiku gemeletuk menggigil. Aku kedinginan. Tiba-tiba rasa takut menjalar dalam pikiranku yang direspon tubuhku dengan menggigil kedinginan. Suamiku segera meraih tanganku dan berusaha menghangatkannya. Aku berusaha menguasai pikiranku, aku baik-baik saja dan membayangkan hawa yang hangat, tubuhku merespon, gemeletuk gigiku akhirnya pergi.

Rasanya aku ingin pergi meninggalkan ASMIL ini, tanpa perlu mengantar surat tersebut ke Rumah Dinas Komandan. Tapi aku melihat senyuman penuh ancaman yang seolah-olah berkata, pergilah tidak usah kembali, tapi ingat seluruh keluargamu akan mati. Langsung terlintas bayangan wajah bapak dan mak yang sedang sumringah melihat hasil panennya yang selalu dihargai murah. Aku tidak mau senyum itu hilang akibat kecerobohanku nanti.

Aku terus bertanya-tanya, apa itu KOTABARAPRABA? Pertanyaan itu terus bercokol sepanjang perjalanan menuju rumah Dinas Komandan ASMIL Panularan yang aku susuri dalam gelap malam.

1 comment:

Tinggalkan tanggapan, pertanyaan di sini, kami akan segera meresponnya.

Recent

PROFIL FINANCIAL PLANNER - ILA ABDULRAHMAN

ILA ABDULRAHMAN, S.Pt., RIFA, RFC Siti Ruhailah Abdulrahman, S.Pt., RPP, RFA,   RIFA, RFC atau yang dikenal dengan Ila Abdulrahman, ad...

Baca Juga