Kearifan Merapi “The Wisdom of Merapi”




Hari Minggu Pagi, 05 november 2010 saya berkesempatan masuk ke Lokasi bencana Merapi yang masih di tutup itu dengan menggunakan Ambulance Pemkab Klaten. Setiap pintu masuk di lakukan pemeriksaan identitas oleh PASKAS, Marinir, SAR, ataupun Polisi.


Sistem buka tutup di berlakukan. Ketika Pagi, para penduduk yang mengungsi di kembalikan ke tempat tinggalnya masing-masing untuk membersihkan sisa-sisa kearifan merapi. dan ketika sore menjelang, mereka harus kembali ke pengungsian.Lokasi bencanapun di tutup, untuk mencegah terjadinya korban lagi jika merapi sewaktu-waktu masih ingin "batuk", juga untuk mengisolir daerah yang sudah mulai terjangkit wabah.


Di beberapa pintu masuk terpampang tulisan dalam sepanduk,"Bukan Daerah Wisata, Dilarang berkunjung"


Bencana merapi membawa dampak psikologis yang tidak ringan. Banyak korban yang menjadi depresi, karena kehilangan harta benda dan keluarga.


Jaenu…seorang Bayan di desa Balerante, ketika merapi dinyatakan awas dan di haruskan mengungsi tanggal 26 oktober 2010, dia pun mengungsikan sebagian sapinya (17 ekor) ke sisi sebelah kali Gendol. Ternyata, Allah berkehendak lain, ketika letusan kedua tgl 3 nopember, sisi kali gendol menjadi jalan Allah melelehkan sebagian material panas merapi. Ke -17 sapi Jaenu pun ikut meleleh…bersama “mbok tuwonya”(ibu, atau bude atau mungkin istri tua, saya kurang mengerti dengan istilah ini di kalangan masyarakat Jogja). Kini Jaenupun menjadi orang yang "ngeng" alias depresi.


Lain lagi dengan cerita yang dialami si Lurah. Rumah yang baru saja dia bangun dengan dana sekitar Rp 500 juta, beberapa motor baru, mobil ikut hangus bersama semburan awan panas dan lelehan lahar pijar. Kini…diapun depresi…tragisnya ketika mengungsi dalam keadaan terburu-buru ia hanya mengendarai Bravo bututnya.


Di Ngipik-Balerante, sebuah masjid berdiri tegak, masjid Al Qoddar. Bangunan sekitarnya rusak parah, bahkan hancur luluh, namun rumah allah itu berdiri tegak, setegak merapi.


Di bekas desa Glagah Harjo, saya bertemu dengan seorang perempuan. Dia bertutur, “ketika di haruskan mengungsi dan merapi bergemuruh, kami sekeluarga berlari. Sepuluh menit sudah kami berlari..teringat ibu saya di kampung sebelah. Saya kembali, saya lihat rumah ibu saya bergetar karena gemuruh merapi dan pijaran lava sudah mengarah ke sana, saya hanya terpaku, melihat ibu saya berteriak, “ora usah rene, mlayu o, aku tinggalen (Gak usah ke sini, lariiiii, tinggalkan tempat ini). Ibu saya bersama rumahnya pun meleleh dalam pelarian saya menjalankan perintah ibu untuk lari. Di tempat itu, juga ada 4 tetangga yang lain.”


Innalillahi wainna ilaihii rooji'unn…kalimat taroji’ itu yang selalu bergumam. Ini hanya sebagian kecil dari cerita di balik kearifan merapi. Kini yang tersisa adalah nikmat dan kebaikan yang sudah mulai bisa di manfaatkan. Informasi yang saya terima, jalur lelehan lava pijar, akan di jadikan hutan lindung.


Ketka kemarin saya ke bekas jalur lelehan lava pijar, masih tampak uap panas mengepul di mana-mana, bercampur dengan bau ozonisasi belerang, bangkai dan pembakaran. Suhu di kedalaman 1 meterpun masih 200 derajat celcius. Berdiri di atasnya seperti mandi sauna.


Di sana juga masih terlihat rumah bekas camp pengungsi letusan pertama, lengkap dengan Mobile toilet. Terlihat semua tinggal menjadi rongsokan besi panas. Puluhan motor relawan pun tertimbun material. Dan di perkirakan di situ masih tertimbun 2 relawan yg hilang dari 6 relawan yg hilang bersama beberapa pengungsi.


Desa Glagah Harjo yg berbatasan dengan desa Jetis itu kini seperti padang pasir tandus, dengan pohon-pohon kering, dan bongkahan batu-batu besar, serta sisa-sisa kehidupan sebelumnya (sepeda, jam tangan, tabung gas, dll). Entah…berapa puluh, atau bahkan ratus, atau ribu nyawa yg tertimbun di bawahnya. Wallahua’lam. Pemerintah DIY pun hanya mengklaim Korban dalam angka ratusan.


Seorang anak kecil berjalan menunduk, apa yang dia cari, sepedanya, atau entahlah. Dia hanya berkata, “ Omahku biyen neng endi yo? (rumahku dulu di mana ya?)”.


Hufhtttt..sesak dada saya, perih rasa hati, pandangan menjadi nanar. Saya duduk lemas di atas batu, memandang lurue ke arah lava pijar itu mengalir, meluluh lantakkan apa yang di lewati. Sesekali saya menengok lurus kebelakang, di mana merapi berada dengan kawahnya yang sekarang terlihat terbuka, dan sewaktu-waktu masih siap memuntahkan bebatuan pijarbersuhu 8000 derajat celcius.


Akhirnya saya hanya bisa berlalu dengan cerita di masa dulu dan kenyataan yang ada sekarang, yang saya rekam dalam memori dan foto, yang akan saya wariskan kemudian kepada siapapun yang ingin mengetahui, bagaimana kearifan merapi berbicara.


Akhirnya hanya satu kalimat penutup, apakah ini ujian, cobaan atau hukuman, hanya kita dan Allah saja yang tahu. Yang jelas, Allah tidak akan menguji hambaNya di luar kemampuannya. Dan setiap perbuatan akan mendapat balasan yang setimpal.


Ya Robb..ampuni segala kedholiman, kelalaian, kesombongan, keangkuhan dan kemiskinan jiwa kami.


Surakarta, 06 Nopember 2010


Foto-foto “ The Wisdom Of Merapi” dan Merapi Charity bisa di lihat di :

http://www.facebook.com/album.php?aid=39370&id=100000067251366&l=9d80232f4c

http://www.facebook.com/album.php?aid=44662&id=100000067251366&l=e5f10790a7

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan tanggapan, pertanyaan di sini, kami akan segera meresponnya.

Recent

PROFIL FINANCIAL PLANNER - ILA ABDULRAHMAN

ILA ABDULRAHMAN, S.Pt., RIFA, RFC Siti Ruhailah Abdulrahman, S.Pt., RPP, RFA,   RIFA, RFC atau yang dikenal dengan Ila Abdulrahman, ad...

Baca Juga