Entah (Trilogi 2, If..Aku mencintaimu)

Mengapa semua terjadi dan memang sesal selalu datang terlambat. Kuusap mukaku dengan telapak tangan, hmm, penat di kening tak pernah mau pergi menyesali saja rasanya hidup makin tak berguna haruskah untuk kedua kalinya aku melakukan kesalahan yang sama? Betapa berharganya detik demi detik yang berlalu aku harus berubah pikirku.


Ku usap kedua kakiku, ku pandangi dengan seksama, lekat ku telusuri, "ada apa dengan kamu?" Tanyaku. "Kenapa kamu tak menuruti perintahku. Apakah sekarang kepala ini sudah kurang berwibawa, ataukah bibir ini kurang tegas berucap, atau mungkin mataku kurang tajam menatap?" Semakin lama kurenungi, kusesali, semakin terporosok, semakin dalam, dalam keterpurukan.

Hari ini seorang yang terkasih mengirimkan pesan di hp ku.

Ketika "kaki" sdh tak kuat berdiri,"BERLUTUTLAH",
Ketika ""tangan" sdh tak kuat menggenggam, "LIPATLAH",
Ketika "kepala" sdh tak kuat ditegakkan, "MENUNDUKLAH",
Ketika "hati" sdh tak kuat menahan, "MENANGISLAH",
Ketika "hidup" sdh tak mampu utk dihadapi, "BERDOALAH"
Dan apa saja yang kamu minta dalam DOA dgn penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya AMIINNN."

Hmmmmm, setengah tersengat batinku terlihat cahaya terang di hadapanku, setelah sekian lama bergelut dalam duka lara merenungi nasib yang terjadi. Aku harus berubah tekadku terpatri dalam hati.

Sambil ku elus kakiku aku berucap" Kakiku walau sekarang kamu tak menuruti perintahku, walau sekarang kamu mogok bekerja tapi kamu adalah bagian dari aku, akan ku bawa kemanapun aku pergi sepenuh cinta, akan ku jaga, kau adalah pengingat hidupku."

Telah hampir tiga bulan ini kakiku tak mampu berjalan, entah kenapa mau lupus mau si boy aku ngak perduli apa nama penyakitku ini, yang pasti saat ini sekarang aku harus tetap berjuang dan semangat, segala sesuatu pasti ada hikmahnya.


IF

Semakin hari semakin cinta
Semakin hari semakin rindu
Semakin dalam perasaan kasih dan sayangku kepada kamu

“Kamu dimana kak?” Sudah hampir tiga bulan ini rutinitas yang biasanya terjadi seolah hilang di telan bumi.

Ku buka laptop kulihat daftar kontak di YM terlihat nama kakak offline, coba-coba kusapa berharap itu hanya status tersembunyi.

"Hai kak." Detik berlalu menit pun menjauh, hmmm, hampir satu jam tapi kamu tak menjawab.

"ya sudahlah." Batinku berucap "semoga dia baik baik saja."

Tapi kenapa ada perasaan sangat kehilangan kak, semenjak kamu sering menyapa aku di ym, saat kita berjumpa, saat kedua mata kita saling bicara, ketika fatamorgana saling terucap? Maklum kita sama-sama punya harapan yang tinggi. Dan ketika semuanya tiba-tiba saja hilang di telan bumi, aku merindu kakak, rindu yang menghujam jiwa "kakak ade kangeeeen."

Huffhh, kak,
When you know that you know who you love, you can't deny it. Or go back, or give up, or pretend that you don't buy it.

‎When it's clear this time you've found the one, you'll never let him go. Coz you know, and you know that you know.


"Hey If, pagi pagi kok melamun sih?" Yeni teman baikku membuyarkan semua hayalanku, hayalan di saat kakak antar aku ke bank, hayalan saat kakak berikan senyuman termanis, hayalan saat kakak ajak aku jalan jalan ke puncak.
"Ahh kamu ngagetin aja Yen."

Sejenak ku tatap tajam yeni hmm terasa ada hal yang diluar kebiasaan tak seperti biasanya hari ini terlihat dia begitu ceria ku tatap wajahnya lebih dalam.

"Yen kenapa hari ini kamu begitu ceria?"

"Loh bukannya aku setiap hari ceria, xixixixi, liat ini apa?"

"Apaan itu yen?" kulihat sebuah undangan warna perak di tangannya.

"Ini undangan buat kamu doain ya bulan depan aku menikah, hehehehe."

"Haaaaah selamat yaaaaaa duuuh pantes dari tadi ceria banget."

"Iya donk eh kamu kapan donk udah jangan kelamaan pacaran." ucap yeni seolah menghujam dadaku.

"Aku sama mas bram break dulu yen, karena banyak masalah yang sulit di selesaikan, kadang kita miss komunikasi." Ujarku.

"Loh kok bisa? Jadi untuk siapa tulisan "kakak ade kangen" yang kamu tulis di monitor itu?" Tunjuk yeni ke laptopku.

Secepat kilat ku tutup laptop sambil tersipu. Aku hanya tersenyum penuh makna. Seandainya kau tahu yen ada seseorang yang sekarang mengisi relung hati meski takan mudah kumiliki.




Semakin jauh ku mengenalmu ku mengerti dirimu sehari hari
Semakin dalam diriku tenggelam kedalam samudra cintamu yg dalam

If, kuingin kau mengenal aku lebih dalam dan menerima aku apa adanya karena cinta datang tak terkira begitu saja hadir dan kumengerti cinta adalah keikhlasan menerima seutuhnya semoga kau fahami

Hp di tanganku sudah berpuluh puluh kali berpindah dari tangan kanan ke tangan kiri. Rasa bimbang dan khawatir semakin menjadi. Malam ini aku rindu kamu If, ingin bercerita setelah hampir tiga bulan tak mendengar suaramu, candamu, atau tulisan kamu di ym.

Hmmm malam ini langkah awal kebangkitanku melawan penyakit ini. Adalah kejujuran bahwa kamu harus tahu keadaanku saat ini. Tak sebaiknya aku menghindar begitu saja, meratapi keterpurukanku ini. Bukankah allah tak akan merubah suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak berusaha merubahnya? Perlu kebulatan tekad menghadapi semua ini If. Dan kamulah matahariku, kamulah yang bisa membangkitkan semangatku, walaupun nanti dirimu menjadi cinta, tak termiliki, aku akan tetap tersenyum bahagia karena kau telah mengenalkan aku, akan hakikat cinta yang seutuhnya.

"Halo...haloo..."

Sejenak kudengarkan suara diseberang sana, bibirku tak bisa berkata, keluh, serasa berat tuk berucap sepatah katapun.

"If, ini kakak."

"Eh kakak kemana aja."

"Ada aja de... Bi..bi..a..s..a"

Terasa kepalaku memberat kedua tanganku tak sanggup lagi memegang telpon. Inilah serangan penyakit itu. Pikirku yang secara perlahan akan mematikan syarap motorik yang ada di seluruh tubuhku, mulutku tak sanggup lagi berbicara.

"Kakak ...kakak.. Halooooo... Kenapa kak..".

"Haloooo".

"Kakak..kakak...kaaaakak"

Ingin hati ini menjawab semua panggilanmu, hanya saja semua anggota badan ini mulai mogok bekerja, disaat aku mulai berusaha bertekad melawan semua ini, dan penyakit ini semakin menjadi.

"Ya Allah inikah akhir dari hidupku?" Disaat seluruh anggota badanku tak mau lagi berkompromi, tak ada satupun di raga ini yang mengikuti perintahku. Maha besar Allah pemilik semua ini, aku yg selama ini merasa memiliki tak berdaya upaya. Hanya untuk mengedipkan mata saja sudah tak mampu, inilah akhir dari perjalanan hidupku pikirku.




Hmmmm.

Aneh, pikirku. Kok telpon seperti itu. Semakin banyak pertanyaan dalam otakku apa sih kak yang terjadi malam ini? Berbagai pikiran ku melayang, gambaran semua kemungkinan terlukis rapi, harus cari tahu pikirku.

Ku ambil telpon ku coba menghubungi nomer yang tadi, nada sibuk masih terdengar.
Hmmm, makin bertanya tanya apakah kakak mencampakan aku ataukah kakak? Ah semakin tak menentu. Kucoba telpon lagi.

"Halo....." Suara wanita terdengard diseberang sana.

"Halo maaf bisa bicara dengan Rama"

"Emmm, dari siapa ya?"

"Dari If."

"De If, Rama saat ini terkena syndrom penyakit lupus."

"Apaaan tuh bu? Gimana keadaannya?"

"Yah semua sudah suratan dari yang maha kuasa de." Huff, saat ini seluruh anggota badannya tidak dapat bergerak, hanya otaknya masih bekerja."

"Oh......."Seperti terkena sambaran petir hati ini teriris ingin rasanya menangis tapi otakku masih terus bertanya tanya kenapa kakak ngak pernah bilang kenapa kakak ngak mau berbagi.

"Kakak, bukankah mencintai itu keikhlasan tuk menerima?"



by hedi ramdhan rismawan

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan tanggapan, pertanyaan di sini, kami akan segera meresponnya.

Recent

PROFIL FINANCIAL PLANNER - ILA ABDULRAHMAN

ILA ABDULRAHMAN, S.Pt., RIFA, RFC Siti Ruhailah Abdulrahman, S.Pt., RPP, RFA,   RIFA, RFC atau yang dikenal dengan Ila Abdulrahman, ad...

Baca Juga