KOTABARAPRABA


Jam menunjukkan pukul 23.45 WIB, ketika aku terbangun dari tidurku yang cepat malam ini. Pesan itu begitu nyata. Aku sedang membereskan laptop di ruang tengah, ketika kudengar deru mobil berhenti di halaman rumah. Sudah 2 hari ini, aku menyepi di salah satu rumah dinas ASMIL Panularan ini unuk menulis. Seorang berseragam Militer masuk ke rumah tanpa mengetuk pintu, seolah ini adalah rumah yang biasa ia tinggali. Aku agak terkejut, tapi setelah mengamati seragamnya langsung otakku aku komando untuk bisa menguasai diri.

“Selamat malam. Kami ada tugas Negara yang harus kami komando dari sini. Untuk itu Kami mengambil alih rumah yang ini. Silahkan, ibu boleh pergi atau tetap tinggal di rumah ini. Kami minta ibu menemui pejabat yang berwenang untuk mendapatkan surat keterangan pengambilalihan ini.”
Biar aku perempuan yang hanya suka menulis, otakku ku latih atas kepekaan semacam ini. Otak besarku berbisik, there is something wrong and dangerous. Oleh karena itu aku tidak menanyakan surat pengantar yang seharusnya di serahkan kepadaku sebagai tuan rumah, bukan aku yang harus mencarinya sendiri atas permintaan orang tersebut. Aku merasakan ini lebih dari sebuah Intimidasi, dan nyawaku menjadi bayarannya kalo aku banyak bertanya. Aku segera fokus. “Hmm berguna juga buku Terapi Berpikir Positif nya DR Ibrahim Elfiky yang masih ada di depanku ini ku baca.” Tapi otakku masih juga penuh prasangka.
Seorang komandan berpangkat Kolonel berbicara kepada anak buahnya tersebut dengan berbisik, namun masih cukup tajam untuk telingaku. Ku dengar sebuah kalimat pendek namun singkat,”screening rumah ini, dan mulai set up.” Semakin aku merasakan hawa bahaya yang amat.
Aku tidak berfikir untuk bertanya. Yang kulakukan adalah melanjutkan packing laptop dan kertas-kertas tulisanku sebelum mereka mendahului dan membuangnya sebagai sampah. Kolonel itu terus membicarakan untuk mendapatkan surat keterangan pengambilalihan rumahku. Aku merasa surat itu bukan tujuannya, tapi ia ingin pejabat yang berwenang mengetahui keberadaan mereka di tempat ini, di rumah ini.
Aku berkemas, kukenakan Sweater merah untuk menghalau dingin yang menyerang malam ini. Aku tidak bertanya apa-apa. Bukan takut, tapi lebih kepada kerhati-hatian dan mengharap mereka menganggapku bodoh, karena dengan begitu aku merasa jiwaku aman. Aku hanya menyerahkan kertas dan pena, untuk di tulis tentang surat pengantar tersebut. Entahlah apa yang dia tulis, satu halaman bolak-balik selembar kertas itupun penuh, dan di akhiri dengan tanda tangan.
Komandan itu menyerahkan kertas itu kepadaku, untuk aku serahkan kepada pejabat yang berwenang di Asrama MIliter Yang aku tempati ini. Aku langsung memasukkannya ke dalam kantong belakang sebelah kanan jeansku, tanpa aku membacanya. Dari mimik muka orang-orang ini membuatku ingin segera pergi meninggalkan rumah ini, toh bisa ku baca nanti.
Aku berjalan keluar di pintu tengah , seorang Jendral berbintang dua menghalangi langkahku dengan tongkatnya. Wajah nya begitu familiar, tinggi,berkopiah, berkacamata hitam dengan stelan seragam khasnya. Tidak mungkin ini pak Karno, tidak mungkin.” Itu yang terlintas di benakku.
Beliau menghadangkan tongkatnya untuk menghalangi langkahku. “ Sebentar dik, Kamu tahu Kotabarapraba?”
“Aduh pak, saya gak tahu itu apa.” Aku yakinkan dengan mimik bodohku.
“Ya sudah.” Orang yang kuyakini mirip sekali dengan Jendral Soekarno itu menarik tongkatnya dan mempersilahkan aku pergi. Ia melepasku dengan senyuman yang sangat misterius, senyuman kemenangan, dan senyuman yang seolah-olah berbicara” bagus, dia tidak tahu, ini perempuan polos.”Dari senyuman itu aku tahu, aman bagiku berlaku sebagai orang polos.
Aku segera melintasi Ruang tamu untuk segera keluar dari rumah yang dalam sesaat berubah menjadi markas militer ini. Ruang tamu sudah penuh dengan militer. Kapan ya mereka datang. Kenapa aku hanya mendengar deru satu mobil. Mungkin saking konsentrasinya aku tadi dengan pembicaraan si komandan, akhirnya konsentrasiku tidak bisa mendengar deru-deru mobil lain yang berdatangan. Ternyata 5 mobil sudah parkir di halaman rumput rumah yang hijau ini.
Aku terpana untuk beberapa saat. Badanku menjadi gemetar, gigiku gemeletuk menggigil. Aku kedinginan. Tiba-tiba rasa takut menjalar dalam pikiranku yang direspon tubuhku dengan menggigil kedinginan. Segera kusatukan kedua telapak tanganku dan berusaha menghangatkannya. Aku berusaha menguasai pikiranku, aku baik-baik saja dan membayangkan hawa yang hangat, tubuhku merespon, gemeletuk gigiku akhirnya pergi.
Aku melihat seseorang berdiri sambil berbicara di telepon genggamnya.
“Mau Kemana, Dik?” Dhana? Ada mimik kaget di wajah itu.
“Pak Adi? Ini pak Saya hendak ke rumah Pak Agus.”
“Ya sudah, bergegas ya, Pak Agus tadi sebenarnya sudah di hubungi, seharusnya ia sudah disini. hati-hati bawa mobil dalam gelap.”
“Njih Pak, permisi.”
Rasanya aku ingin pergi meninggalkan ASMIL (Asrama Militer) ini, tanpa perlu mengantar surat tersebut ke Rumah Dinas (Rumdin) Komandan. Tapi aku melihat senyuman penuh ancaman dan kemarahan dari dalam tadi yang seolah-olah berkata, pergilah tidak usah kembali, tapi ingat seluruh keluargamu akan mati. Langsung terlintas bayangan wajah bapak dan mak yang sedang sumringah melihat hasil panennya yang selalu dihargai murah. Aku tidak mau senyum itu hilang akibat kecerobohanku nanti. Yang sedikit membuatku tenang adalah kehadiran Pak Adi, Letkol Inf Adi Nugroho yang menjadi Danrem 074/Warastratama (WRS) Salatiga, yang menandakan ini urusan tingkat tinggi. Karena dari sekian banyak yang ada tadi hanya beliau yang aku kenal.
Aku terus bertanya-tanya, apa itu Kotabarapraba? Pertanyaan itu terus bercokol sepanjang perjalanan menuju rumah Dinas Komandan ASMIL Panularan yang aku susuri dalam gelap malam.

Erick Sudah di Jemput
Siang menjelang sore pukul 14.30, sekolah Erick di SD Muhammadiyah Kotta Barat berakhir di tandai dengan bunyi bel. Beberapa anak melanjutkan ke Masjid untuk sholat Ashar dan sebagian yang lain bersiap pulang baik dengan jemputan sekolah ataupun menunggu jemputan orang tuanya.
Tiada yang aneh dengan hari itu, Erick pun di jemput dengan mobil yang biasanya, hanya tidak seperti biasa agak begitu cepat.
“Erick.” Suara seseorang memanggil Erick sambil melambaikan tangannya dan memberi senyum kepada beberapa guru yang bertugas piket di beberapa pintu sekolah. Tampak Erick berlari menghampiri, Namun sedikit mengernyitkan dahinya karena yang menjemput bukan Pak Min yang biasanya. Namun iapun segera berlalu menuju mobil yang di parkir di seberang tepat di depan kantor Dinas Pendidikan Kecamatan Laweyan.
Mobil berjalan melintasi Solo Grand Mall (SGM), Mall terbesar kedua setelah Solo Square yang ada di Jantung Kota Solo. Seharusnya Mobil itu Belok persis di jalan masuk sebelah SGM, Namun kali ini mobil tersebut memilih melewatinya. Erick yang sudah duduk di kelas 4, bertanya.”Kita mau pulang lewat jalan lain ya pak?”
“Ya begitulah, sekali-sekali kan nggak apa-apa tho?”
“ Hehehe, iya pak, Pak Min kemana Pak, kok ga menjemput saya?”
“Ow, Pak Min ada tugas Bapak mengantar ibu ke Salatiga.”
Sejenak kemudian hening, setelah Erick minum juss jeruk pemberian sopirnya tersebut. Erick tidur.
Pak Min, sopir yang biasa menjemput kembali tidak membawa pulang Erick bersamanya. Menurut pihak Sekolah, Erick sudah di jemput, memakai seragam militer loreng. Pihak sekolahpun yakin orang tersebut memang yang ditugaskan menjemput Erick.
Sebenarnya Keluarga besar Erick sudah pindah tempat tinggal mengikuti penugasan papanya Letkol Inf Adi Nugroho yang menjadi Danrem 074/Warastratama (WRS) di Salatiga. Dan posisinya sebagai Dandim 0735/Surakarta di gantikan oleh Letkol Infantri Agus Sugiyantoro. Namun karena alasan sekolah Erick dan kakaknya masih tetap tinggal di ASMIL Panularan. Hanya Ibunya saja yang bolak-balik Solo-Salatiga.
Pencarianpun di lakukan, meski dari pihak militer keluarga juga melaporkan hilangnya erick tersebut kepada pihak yang berwajib. Polisi mencatat pengaduan tersebut sebagai tindakan penculikan. Namun polisi belum berani berbuat apa-apa, karena hilangnya seseorang akan dianggap hilang jika tidak di temukan dalam 24 jam. Selama itu masih di lakukan pencarian yang biasa. Polisi menunggu adanya kontak dengan penculik jika memang hal itu yang terjadi. Karena biasanya penculik akan meminta tebusan.
Letkol inf Adi nugroho yang sudah menjabat sebagai Danrem 074/Warastratama (WRS) di Salatiga itu berusaha menenangkan istrinya. Bu Dania Fitriani yang terus saja menangis, memikirkan hal yang tidak-tidak. Meski biasa di haruskan bersikap tegas dan tegar, Letkol inf Adi nugroho tidak kuasa juga menyembunyikan kepanikan dan kesedihannya. Sekuat mungkin ia berusaha tegar.
“Ma, Papa berjanji akan menemukan dan membawa pulang Erick dalam keadaan selamat, Mama doakan kami semua, yang sabar dan tegar, dengan begitu mama sudah membantu dalam pencarian ini.” Bu fitri hanya bisa mengangguk sambil mengusap airmata yang keluar menitik dari wajah penuh harap Letkol inf Adi nugroho

Banjir Melanda Solo
Sepasang suami istri ini adalah pejabat yang baik. Sarah, salah seorang temanku bercerita, Ketika banjir melanda Solo beliau turun tangan membantu warga yang masih terisolasi. Masih teringat malam itu, ketika banjir melanda tempat tinggal Sarah adalah satu-satunya daerah yang tidak kebanjiran, meski di kepung daerah yang banjir.
Sarah bercerita. “Seorang teman, mba heni aku memanggilnya, tinggal di kampung Kutu yang terletak di bantaran Bengawan Solo meneleponku, mengatakan bahwa di kampungnya, rumahnya adalah satu-satunya rumah yang tidak kebanjiran, paling tidak sampai malam itu, entahlah untuk besok, kalo hujan masih juga turun dan bengawan masih tidak mampu lagi menampung airnya. “ kami semua disini kelaparan, tidak bisa keluar, listrik padam, baterai Hp sudah mau mati. “
“Aku yang menerima telepon sudah membayangkan bagaimana nanti mereka. Aku menelpon ke pusat Bencana PMI Solo, meminta pertolongan untuk evakuasi dan pengiriman bantuan makanan. Sambil memberikan identitasku dan identitas serta tempat korban yang akan di evakuasi. Mereka berjanji paling lambat dalam satu jam akan memberikan kabar. “
“Aku menunggu dengan hati penuh harap dan permohonan. satu jam kemudian Telepon berbunyi.”
“Mba, kami sudah kirim personal ke Kutu, tapi mohon maaf personal kami tidak bisa masuk ke lokasi karena derasnya arus dan tingginya banjir. Sebenarnya kami bisa jika menggunakan perahu karet, tapi perahu karet yang kami milki terbatas dan sedang di gunakan semua untuk evakuasi di daerah Joyotakan. Tapi Kami menstandbykan personal di sana untuk memantau, jadi ketika memungkinkan akan langsung menuju lokasi. Kalau mba bisa coba kontak ke Mako Brimob (Markas Komando Brigade Mobile) yang satu komplek dengan mba.”
“ Waduh pak, menurut saya akan lebih efektif kalo dari PMI aja yang koordinasi dengan Mako Brimob, karena saya tidak punya kenalan secara personal.”
“ Baiklah.”
Pembicaraan berakhir disitu. Telepon saya berdering lagi. Mba Heni menyatakan, mereka sudah kelaparan dan kedinginan, apapun dirumah itu sudah habis di makan dan baju-baju sudah basah semua.
Merinding, menangis, Ya Allah, apa yang bisa saya lakukan. Akhirnya saya ingat Letkol inf Adi nugroho, saat itu beliau masih menjabat sebagai Dandim 0735/Surakarta, kebetulan sama-sama menjadi wali murid di sekolah yang sama. Saya cukup akrab dengan Istrinya Teh Fitri. Saya SMS dulu malam itu, karena sudah jam 11 malam. Setelah ada jawaban, bahwa masih terjaga, baru saya menelepon beliau.
“Assalamualaikum, Teh.”
“Waalaikumsalam, ada apa mba?’
“Saya menceritakan keadaaan mba Heni bersama tetangganya yang terkurung banjir, kelaparan dan kedinginan. Saya meminta barangkali Letkol inf Adi nugroho bisa membantu. Alhamdulillah, malam itu juga, Letkol inf Adi nugroho menerjunkan anak buahnya ke lokasi teman saya yang terisolasi dan kelaparan. Malam itu juga warga di evakuasi ke tempat yang lebih aman. Namun banyak juga yang memilih tinggal, karena berdasarkan pantauan BMG banjir akan mereda esok hari, karena hujan di Wonogiri, Klaten sudah reda juga.”
“Pukul 3 dini hari mba heni kembali memberi kabar bahwa bantuan dari Dandim sudah masuk, begitu juga dengan yang PMI yang standbye di lokasi pintu masuk desa. Mba heni minta nomer teh fitri untuk mengucapkan terima kasih secara personal. Akhirnya dini hari tersebut aku baru bisa meletakkan mata dengan tertutup rapat, hati yang tenang dan jiwa yang penuh syukur.” Sarah mengakhiri ceritanya kepadaku.

Erick di Culik
Ini adalah hari kedua hilangnya Erick atau 15 jam dari hilangnya Erick di culik, dan di pastikan ia masih hidup. Kepastian penculikan tersebut di peroleh setelah tim bekerja selama 12 jam penuh. Berdasarkan penelusuran TKP dan saksi sudah di peroleh keterangan berikut sketsa penculiknya. Cepat juga polisi bergerak. Apa karena korbannya anak orang penting Solo? Mungkin ya, atau memang kepolisian sekarang sudah lebih tanggap dengan berbagai demo atas lambannya penanganan polisi terhadap berbagai kasus. Tapi menurut Kolonel Braja ini cukup terlambat. Karena sebenarnya pihaknya sudah mendapatkan informasi akan adanya penculikan dengan sasaran anak pejabat Solo. Waktu memang relatif bagi setiap kebijakan dan keputusan.
Jam menunjukkan pukul 05.45 pagi ketika dering telepon di ruang komando mengagetkan yang ada, semua dalam keadaan tegang.
“Halo. Kodim 0735 Surakarta.”
“Dari Siapa ini?” Petugas operator memberikan satu Isyarat, yang kemudian suara penelepon itu bisa di dengar oleh semua yang hadir.
“Sampaikan kepada yang bertanggung jawab di sini, bahwa Erick ada bersama kami dan dalam keadaan sehat.” Kami hanya Minta satu, bebaskan Ustad Ba’asyir atau anak ini tidak akan pernah kembali meledak bersama bom di tubuhnya.
“Papaaaa….” Suara Erick dan Klik, terdengar telepon itu di akhiri di seberang sana entah di mana.
Terlihat wajah-wajah kaget sekaligus senang. Kaget, Erick di Sandera dan senang bahwa Erick masih hidup. Semua sesuai prediksi. Penculik akan menelpon dan meminta tebusan. Tebusan yang di luar dugaan.
Pertikaian dua kepentingan tak terelakkan. Masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Siapa yang mau mengalah untuk sebuah nafas yang terancam dan bisa berakhir di pemakaman. Dan siapa pula yang rela melepaskan tahanan nomer satu Negara yang juga sasaran pemerintah Amerika, hanya demi nyawa seorang bocah.
“Saya pun tidak akan mau, kecuali Densus 88 sudah bertindak, dan memberikan jaminan” Kolonel Braja memberikan argumen. Semua yang hadir diam, tidak ada yang berani menimpali lagi.
Letkol inf Adi nugroho diam terpaku di sudut ruang meja kerjanya. Perang batinnya berkecamuk. Erick adalah anaknya, namun di sisi lain kepentingan dan keselamatan Negara di pertaruhkan. Ia tidak bisa membiarkan istrinya menangis namun ia juga tidak rela Ibu Pertiwi menangis. Ia seorang ayah dan juga seorang prajurit. Lebih Baik mengorbankan nyawa Erick demi kelangsungan dan kepentingan yang lebih besar. Andaikan malam itu Ia sedikit mempercayai Kolonel Braja, pasti semua ini tidak akan terjadi. Matanya Menerawang.

Menuju Rumdin Dandim
Dalam batin yang terus bertanya, apa itu Kotabarapraba. Aku menyusuri jalan yang gelap karena malam itu listrik padam mendadak ketika aku menuju Rumdin Dandim, untung lampu mobil ini terang. Akhirnya tiba juga saya di Rumdin Dandim. Rupanya Mas Tarjo dan satu lagi kawannya yang sedang bertugas jaga.
“Assalaamualaikum Mas. Mas maaf saya harus bertemu bapak.”
“Walah, mba Dhana ini sudah jam berapa, mbokya besok pagi aja. Tadi bapak berpesan tidak ingin di ganggu dulu, kata beliau kelengkapan tulisan mba Dhana akan di jawab besok gitu.” Ngapunten njih mba.”
“Mas ini darurat, bukan tentang tulis menulis, rumah yang saya tempati sudah diambil alih pasukan entah dari mana itu. Dan komandan pasukan itu, menitipkan surat untuk disampaikan ke Bapak, darurat Mas, urusan hidup dan mati ini, kalau surat ini tidak sampai ke tangan Pak Agus.
Mas Tarjo gamang, ia pun mempersilahkan saya masuk. Dan menyampaikan maksud kedatangan kami ke ajudan Letkol Infantri Agus Sugiyantoro. Kebetulan juga saya sudah akrab dengan beliau, saya biasa memanggilnya Mas Dendy.
“Piye tho mba ceritane, wis sik bentar saya tak matur bapak dulu kedatangan jenengan.” Mas Dendy masuk. Sebentar kemudian keluar.
“ Sebentar ya mba, bapak sebentar lagi menemui mba Dhana.”
Letkol Infantri Agus Sugiyantoro akhirnya datang. Saya tidak akan berkata apa-apa. Saya akan langsung menyerahkan kertas bertuliskan pesan dari komandan tadi yang entah siapa namanya tadi, oh iya Braja. Anak buahnya memanggil dengan Kolonel Braja.
“Semoga kedatanganmu ini Tentang hal penting Na, karena kalau tentang bahan tulisanmu,sudah saya pesan ke Tarjo, besok saya berikan.”
“Semoga Pak, saya tidak tahu dan tidak bisa menilai sepenting apa, saya hanya di mintai tolong untuk menyampaikan surat ini.” Saya berikan surat itu.
Letkol Infantri Agus Sugiyantoro membaca surat itu dengan seksama, sesekali dahinya berkerut. Dan Nampak raut muka terkejut ketika membaca akhir surat itu, sambil ia berkata lirih, “ Kotabarapraba, segera ia mengambil ponselnya. Keterkejutannya bertambah dengan raut wajah ketakutan. Terdengar suaranya pelan, “ Beliau yang datang menerobos penjagaan tadi, saya pikir anak-anak bercanda tentang penerobosan itu.”
“Dendy, suruh Tarjo buka gerbang, kita ke rumah Dhana, Kontak anggota yang lain untuk berkumpul disana dalam 5 menit. Dhana sebaiknya kamu pergi, tapi tunggu siapa tahu kamu bisa melakukan sesuatu di sana.”
Letkol Infantri Agus Sugiyantoro, Mas Dendy, dan Saya dalam satu mobil kembali kerumah yang saya tempati. Listrik sudah menyala kembali. Jalan kembali terang, tidak seperti ketika saya melaju berangkat tadi. Hati saya terus bertanya-tanya, ada apa ini sebenarnya.
Ku dengar Letkol Infantri Agus Sugiyantoro berbicara di telepon. “Siap Ndan, saya dalam perjalanan.”
Tak lama kemudian hanya sekitar 5 menit kami sudah sampai di markas hasil pengambilalihan. Semua sudah tampak berbeda. Kini seperti markas Militer, penuh dengan alat-alat pemantau seperti di film-film yang saya tonton.
“Siap Komandan.” Hampir semua yang di ruangan itu memberikan hormat kepada Letkol Infantri Agus Sugiyantoro. Dan beliau sendiri memberikan Hormat kepada Kolonel Braja, pak adi dan “pak Karno” yang ternyata adalah Pangdam IV/Diponegoro, Brigjen TNI Langgeng Sulistiyono.
Saya sendiri di perkenalkan oleh Letkol Infantri Agus Sugiyantoro, sebagai Dhana, seorang kerabat yang sedang menyepi untuk menulis biografi Letkol inf Adi Nugroho. “Apes benar saya ini, baru dua hari menginap ada kejadian aneh begini, ya? entahlah.”
Kolonel Braja mengatakan ada informasi dari dinas intelejen, bahwa anak seorang pejabat di solo akan menjadi sasaran penculikan untuk suatu tebusan yang sangat besar. Oleh karena itu berdasarkan hasil rapat dengan BIN (Badan Intelegen Nasional), kami bermarkas di sini.
“ Letkol Adi, jaga keluarga, siapa tahu keluarga pak Adi juga termasuk target, kita harus memperluas perimeter.”
Brigjen TNI Langgeng Sulistiyo melanjutkan menyampaikan informasi dan pengarahan. Siapa saja yang harus mendapatkan pengamanan, Walikota dan keluarga, Wawali dan keluarga. Dan masih banyak lagi.
Malam itu Letkol inf Adi nugroho tidak banyak berkata namun juga tidak mempercayai informasi itu begitu saja. Ia merasa meski daerahnya adalah wilayah yang terkenal sebagai “daerah merah” sarang teroris, daerahnya adalah wilayah yang paling aman dari kejahatan serupa. Namun Ia juga tidak mau naïf, kemungkinan itu selalu ada. Dan kenyataan itu yang terjadi. Buah hatinya Erick lah yang menjadi korban keisengan orang yang tidak bertanggungjawab itu.
Penelusuran terhadap pelaku penculikan terhadap Erick terus di gali. Begitu juga dengan identitas penelepon. Semua data sudah di kumpulkan. Kesimpulanpun sudah diambil.

Nama Saya Syam Ali
Belantara hutan duren di sepanjang jalan menuju Karanganyar menusukkan harumnya. Bertarung dengan ranumnya buah mangga yang juga menandakan akan di mulainya musim lalat. Dulunya Daerah ini merupakan daerah lahan kritis yang hampir tidak bisa di tanami pohon apapun.
Pemerintah orde baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto mengusahakan berbagai upaya agar daerah ini tidak lagi menjadi wilayah lahan kritis. Organisasi pangan dan pertanian dunia FAO serta UNDP melakukan rehabilitasi dan konservasi tanah sehingga tanah di sekitar desa ini menjadi subur kembali. Keberhasilan ini di tandai dengan di bangunnya Monumen Tanah Kritis seluas 1.000 meter persegi, di Sukosari Jumantono Karanganyar.
Seorang pemuda putus sekolah berusia 25 tahun salah satu warga yang tinggal dengan memanfaatkan pertanian dan perkebunan durian. Ia termasuk taat dan rajin beribadah. Ketika ashar tiba ia pun menjadi guru ngaji di Musholanya yang kecil namun asri. Warga mengenalnya sebagai pemuda yang baik. Ia pun rajin mengisi berbagai pengajian di Jumantono tersebut.
Syam Ali warga mengenalnya. Ia rajin juga mengikuti perkembangan dunia islam lewat berbagai media massa, Koran, Televisi, maupun internet. Hatinya miris mengetahui saudaranya di palestina di bombardier Israel. Batinnya menangis. Namun ia tidak dapat melakukan apa-apa, selain infak rutin saja. Rasanya ingin sekali ia berangkat ke medan jihad itu, mempertaruhnya nyawanya, namun ia tidak memilki ketrampilan perang, ataupun ketrampilan lain yang sekiranya bermanfaat di sana. Bahkan jika ia memaksa ia hanya akan menjadi beban buat warga palestina. Oleh karena itu, ia memutuskan berjihad dengan amwal/harta tidak dengan anfus/raga, dengan menjadi muslim yang taat, dan giat bekerja. Bekerjalah untuk duniamu, seolah-olah kau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akheratmu seolah-olah kau akan mati besok. Ia berusaha menjalankan itu dengan istiqomah.
Hari itu 10 agustus 2010, menjelang puasa ramadhan, dari layar televisi berita mengejutkan itu membuat jiwanya berontak. Ia tidak bisa menerima orang yang dia jadikan sebagai panutan dan juga panutan sebagian besar masyarkat Surakarta Ustad Abu Bakar Baasyir, ditangkap untuk kesekian kalinya dengan tuduhan keterkaitan dengan kegiatan terorisme di Indonesia bahkan dengan jaringan Al Qaeda pimpinan Osama Bin Laden.
Ketaqlidanya kepada pimpinan membuatnya buta. Ia ingin membela. Syam yang pernah menggali ilmu di Pondok Ngruki merasa tahu benar siapa ustadnya tersebut. Tidak pernah sang ustad menyeru muridnya untuk menjadi teroris. Ustad itu memang menyeru untuk berjihad di jalan Allah.
Hatinya yang tidak bisa menerima semakin berontak. Otaknya berputar untuk melakukan sesuatu. Syam menjelajahi internet, mencari sesuatu, yang bisa dia gunakan untuk berjihad.
Siang itu ia kedatangan tamu istimewa, sobat kecilnya yang juga murid privatnya. Anak laki-laki itu kira-kira berusia 8 tahunan. Ia nampak senang sekali bermain di halaman mushola Syam. Bergabung bersama anak-anak yang lain, hal yang belum pernah ia kerjakan sebelumnya.
“Mas Syam, rumah mas enak ya, dingin, banyak pohon buahnya. Kok mas ga pernah ngajak ke sini sebelumnya?”
“Kamu senang di sini? Kalau kamu mau, boleh main kesini kapan saja kamu mau.”Syam berkata polos.
Anak itupun melanjutkan aktivitasnya bermain. Gobak sodor dan kelereng. Ia belum pernah memainkan permainan itu di rumahnya di ASMIL Panularan. Selain terbatasnya teman juga terbatasnya waktu, karena ia harus mengikuti scedule les yang sangat padat.
Erick nama anak itu. Syam adalah guru privatnya BTQ (Baca Tulis Alquran). Syam mengenal keluarga Letkol Inf Adi Nugroho 2 tahun yang lalu. Saat itu ia salah satu relawan yang ikut dalam penanggulangan Bencal (Bencana Alam) Banjir di Solo. Pak Adi tertarik pada cara Syam mendekati anak-anak korban banjir yang santun dan penuh perhatian. Syam mengajari anak-anak mengaji dan menjadi Story Teller buat anak-anak tersebut.
Suatu hari ketika semua relawan sedang makan siang, pak Adi mendatanginya.
“Dik, namamu siapa?”
“Saya Pak?” Syam meyakinkan bahwa yang di tanya sang Dandim itu dirinya.
“Iya kamu.”
“Nama saya Syam Pak, Syam Ali.” Jawab Syam dengan penuh hormat.
Akhirnya pak adi menawari Syam untuk menjadi Guru privat Erick yang khusus mengajarkan BTQ. Syam dan Erick pun menjadi akrab, laiknya kakak adik.
“Erick, Ayo mandi dulu, nanti lanjut TPA ya, nanti lanjut buka bersama di mushola. Kamu udah bisa mandi sendiri kan? Itu baju gantinya, mas taruh di kursi. Kamu itu, wong cuman main kesini aja kok yo ndadak beli baju baru. Kasihan itu teman-temanmu yang disini, iri liat bajumu.”
Erick bergegas mandi. Iapun bersiap ikut TPA. “ Mas Syammmm.” Erick berteriak ke syam yang sedang mandi.
“Ya rick. Ada apa?”
“Aku nanti di jemput jam berapa mas?”
“Lho, tadi kata bapak kamu nginep sini mungkin 2 atau tiga hari, sekalian liburan di desa.”
“Ow..ya sudah Mas, Erick berangkat duluan ya.”
“Yo, dolanan sik karo cah-cah kae.”
Erick berlari menuju Mushola, sesaat kemudian terdengar surat-surat pendek Ayat-ayat suci Alquran di baca berjamaah.
Malam itu Erick menikmati suasana yang lain. Biasanya ia berkumpul dengan mama ,papa dan kakaknya. Kali ini ia berdua saja dengan mas syam, namun ia bisa beradaptasi. Itu karena didikan militer pak adi, yang membuatnya harus bisa hidup dan bertahan dalam situasi dan kondisi apapun.
Malam sebelum tidur, Syam bercerita kepada Erick, betapa ingin ia membantu saudaranya di palestina, namun yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa untuk keselamatan dan kebaikan mereka. Erick tertidur pulas mendengar cerita Syam, buat Erick itu seperti dongeng pengantar tidur.
Pagi sebelum subuh tiba Syam membangunkan Erick.
“Erick, bangun yuk, kita sahur dulu. Besok puasa kan?”
Erick bangun mengucek matanya. “Ngantuk Mas.”
“Ya sudah, kamu cuci muka dulu biar ngantuknya hilang, biar mas siapin makan sahur dulu.”
Mereka berdua makan sahur dengan menu yang sederhana, sayur daun singkong dari belakang rumah, dan dadar telur dari kandang ayam samping rumah. Menu itu kelihatan begitu nikmat, ketika mereka berdua melahapnya.
“Alhamdulillah.” Ucap Syam mengakhiri makan sahurnya. “ Rick, kita tunggu subuh sekalian ya, baru habis itu kamu tidur lagi. Kalo mas mau langsung ke kebun, sayurannya sudah waktunya di panen.”
“Iya Mas, kalo gak ngantuk nanti saya ikut Mas syam aja. Tapi kalo sudah ngantuk, boleh ya mas saya tidur lagi?”
“Boleh, terserah Erick aja, lagian kan hari ini hari minggu, kamu libur sekolah kan?”
“iya Mas.”
Adzan subuh berkumandang dengan syahdunya dari mushola kecil itu. Beberapa warga datang untuk sholat berjamaah. Syam menjadi imam di sholat subuh itu. Ia melanjutkan untuk tilawah.
Pagi menyeruak. Mentari mulai menampakkan sinarnya, menghapus embun yang masih enggan beranjak dari daun-daun sayuran di kebun Syam. Dedaunan itu Nampak begitu segarnya, sesegar perasaan dan jiwa Syam pagi itu. Ia mulai memetik sayuran dan sesekali merapikan gundukan tanah agar akar-akar tanaman tertimbun tanah.
Begitu asyik dan menikmatinya Syam tidak menyadari bahwa rumahnya sudah di kepung ratusan anggota brimob. Ia baru sadar setelah pundaknya di tepuk seseorang.
“Syam, kamu harus menyerah.”
“Pak Adi, ada apa pak, kok pagi-pagi sekali menjemput Erick? Kemarin kata yang mengantar 2 atau tiga hari disini?” Syam bertanya dengan polosnya.
“Syam, kamu harus menyerah.”
Syam tidak tahu yang terjadi, ia belum bisa mengerti ada apa sebenarnya, yang ia tahu tangannya sudah di borgol dan di bawa ke mobil Brimob.
Di seberang Erick di amankan oleh mas Dendy ajudan Letkol inf Agus. Ia berontak, berteriak. “ Mas Syam, ada apa ini Mas? Mengapa Mas di borgol?”
Syam hanya bisa memandang penuh tanya sambil menggeleng.
“Sudahlah Rick, Syam akan mendapatkan hukuman yang setimpal, karena menculikmu.” Kata mas Dendy.
Erick bingung. “Mas Syam menculik aku mas? Enggak, bukan, aku kesini diantar orang suruhan papa, katanya menggantikan Pak min yang di suruh papa ngantar mama ke salatiga. Mas Syam hanya menerimaku mas Dendy.”
“Iya rick.” Mas Dendy mengiyakan saja kata-kata Erick. Ia mengira itu adalah Sindrom pasca penculikan. “nanti Kita bicarakan sama papamu ya, kalau memang Syam tidak bersalah pasti akan di bebaskan.”
Erick mengangguk. Tiba-tiba ia berteriak. “Mas Syam, Erick akan bilang sama papa, mas tidak menculik Erick.”
Syam baru menyadari kenapa ia di borgol, dan di tangkap dengan pasukan sebanyak itu. Ia hanya berucap, Ya Allah lindungilah hamba, tunjukkan yang benar dan yang salah, hamba bertaubat dan bersujud kepada Engkau ya Allah, hamba tidak bersalah.


Erick Pulang
Pagi itu, senyum kembali mengembang di Rumah Pak Adi. Seindah bunga kamboja red star yang sedang bermekaran. Seharum melati yg mewangi di pagar komplek ASMIL. Erick pulang, setelah kepergiannya selama hampir 29 jam. Dalam drama penculikan yang menegangkan bagi orang-orang yang mencarinya, tapi tidak demikian buat Erick. Buatnya itu adalah liburan terpendek dan terindah dalam sejarah hidupnya.
Syam Ali di bebaskan, ia kembali ke Jumantono mengajar mengaji di mushola kecilnya yang asri dg tetap berjihad semampu dia.
Semua kembali berjalan normal seperti sebelum kejadian itu. Hanya pihak militer yang masih berjibaku dengan dalang di balik hilangnya Erick.
Hingga tulisan ini selesai, apa itu Kotabarapraba tetap menjadi rahasia yang penuh tanda tanya. Barangkali ada di antara pembaca yang mengetahui?


Selesai
Catatan : Semua Cerita dalam cerpen ini adalah fiksi, jika ada kesamaan nama, tempat dan kejadian, itu adalah suatu yang menginspirasi.

Comments