Runtuhnya Benteng Vasternburg


Oleh : Ila Abdulrahman

“Maaf Ibu, Ibu berniat mencarikan istri atau pembantu untuk mas Darma? Kalo Istri, saya bisa, tapi kalo istri yang di perlakukan sebagai pembantu yang ibu tidak pernah sedikitpun berempati pada mereka, ibu salah orang.” Suara Sasma tegas dan terdengar melawan ibu mertuanya.

“Bu, Tidak pernah ada dalam sejarah, Blambangan di taklukan oleh Mataram, tidak dulu atau sekarang, kita selalu berjalan beriringan, jaman sudah berubah, hanya sopan santun dan keyakinan manusia akan kebaikan yang harus tetap, kalo ibu begini terus, tidak hanya aku yang akan meninggalkan rumah ini dan membuat hati ibu senang, tapi juga Mas Darma dan para Abdi Dalem itu. Mereka bertahan karena Mas Darma Bu, bukan karena ibu. Nyuwun pangapunten Bu, dalem Pamit.” Sasma melipatkan tangan sembari meninggalkan Mertuanya yang masih kaget dengan ucapannya.

Bu Sastro pun, meninggalkan Pendapa rumahnya dengan senyum kecut, tidak semanis dan seindah tiang-tiang pendapa yang di penuhi ornamen ukiran jawa dari kayu jati berkualitas, atau lantai marmer yang di injak oleh sepatu atau sandal yang tak pernah menyentuh tanah, juga tak se kokoh atau se antik perabotan yang ada di ruangan itu. Setelah sebelumnya bertutur panjang lebar tentang kelakuan menantunya yang menurut standarnya sangat menganggu dan tidak layak di lakukan seorang istri di keluarga Sastro Atmodjo. Ia tidak menyangka, kali ini menantunya akan menjawab, tidak diam saja dan hanya mengagguk”injih bu”. Rasa sakit di lawan, apalagi hanya oleh seorang menantu, membuat dadanya bergemuruh menahan amarah. Namun ia tidak bisa melampiaskan amarahnya, Sasma meninggalkannya sebelum sempat ia bertutur lebih banyak.

Dari balik pintu Darma menghela nafas panjang. Hatinya bingung, satu sisi Istrinya dan di sisi lain ibunya. Harus bagaimana?

“Ibu, maafkan Darma, Darma akan bicara dengan Sasma. Semoga ibu lapang dada untuk memaklumi semua ini.”

“Darma, kamu menikah dengan pilihanmu sendiri, semua calon yang ibu carikan kamu tolak semua, Ibu hanya berharap kebahagiaan untukmu Nak. Semoga kamu bisa memperbaiki tindhak tandhuk dan tatakramanya. Ibu ndak suka dengan tata karma dia makan, minum dan sopan santunnya dengan orang tua, ndak ada batas sama sekali.

“Injih, bu.”Darma berlalu, membawa entah apa yang ada di benaknya, beban atau hal yang biasa saja.
Pernikahan itu kini di ombang ambingkan keadaan, keteraturan dan ketidak biasaan yang harus Sasma sesuaikan. Dalam batinnya Sasma membenarkan semua perkataan mertuanya, tapi aku harus jadi siapa? Jadi seperti mereka, aku sudah mencoba, dan aku tak juga bisa. Harus selama apa aku bertahan dan terus mencoba? Apa aku harus membiarkan ketiadaanku? Apa aku harus membuat orangtuaku kehilangan anak?

Perbedaan latar belakang keduanya, akhirnya menjadi batu sandungan yang mengancam kelangsungan pernikahan Sasma dan Darma, hal yang mereka anggap sepele ketika mereka memutuskan menikah. Sasma tomboy, preman, cenderung urakan untuk ukuran jawa dan begitu setia dengan persahabatan, tidak pernah merasa benda yang di milikinya adalah mutlak miliknya, ada di makan bersama, tidak ada ayo berusaha bersama. Darma, keturunan priyayi Jawa, dengan segala keteraturan dan aristokrasinya. Dua sosok yang sangat berbeda, yang berharap bisa membaur.

Masih terbayang tragedi sendok berbunyi itu. Makan malam pertama Sasma sebagai keluarga Darma. “mati aku, mana biasa makan pakai tangan, angkat kaki pula. Aduhhh, bismillahh.” Batin Sasma. Sasma berusaha makan dengan se sopan mungkin, namun memang belum terbiasa, sendoknya menimbulkan irama dengan piringnya.

“Nak Sasma, kalo makan piringnya jangan bunyi ya, itu ga sopan.” Pelan ibu mertuanya memberi nasehat, namun bagai petir menyambar di tengah terik. Sesaat merah padam muka Sasma, segera ia kuasai dirinya. “Maaf semuanya.” Dan makan malam itu berakhir dengan tawa kecil.

Belum lagi kebiasaan Sasma minum dg menenggak langsung dari kendi gerabah. “Ya ampun Sasma, kamu minum kok kayak begitu to nduk, ndak sopan sekali.” Teriak Ibu mertuanya dengan sangat kaget.

Aqiqah cucu pertama keluarga Satro Atmodjo sedang berlangsung. Semua tetangga dan saudara berkumpul untuk saling membantu, ada yang masak, ada yang bikin kue. Dengan santai Sasma beredar dengan mencicip di setiap tempat ibu-ibu memasak. Tanpa dia sadar sang mertua sudah di dekatnya dan “maaf ya ibu-ibu, menantu saya yang ini memang agak ga sopan, comot sana-sini, jangan kaget ya.” Lagi, muka Sasma merah padam, antara malu dan marah pada dirinya sendiri yang merasa sangat tidak tahu tata karma. Sasma pun berlalu, ke kamar mandi, menumpahkan airmatanya dalam guyuran air, kejadian itu membuat Sasma tidak punya muka.

“Ya Allah, hamba tidak pantas berada di sini, jangankan pantas, layakpun tidak.” semua berlalu, Sasma mulai berusaha berubah dan membiasakan diri. Namun tidak semua hal bisa ia terima. Ia merasa tidak di terima di keluarga Darma, namun ia anggap itu adalah masa adaptasi, ia hanya perlu waktu, hingga akhirnya ia jalani semua hingga saat ini.

Dalam keadaan yang membuatnya merasa tidak berharga, dunia luarpun di batasi. Handphone ada fixphone pun tersedia, tapi silahkan isi sendiri pulsanya. Dunianya hanyalah anak-anak dan rumah. Bersyukur masih ada sobatnya di SMA yang masih rutin meneleponnya, mengupdatekan perkembangan di luar sana, memberikan nomor telepon teman-temannya yang lain. Sobat itu sering sekali menyarankannya membuat accout YM (Yaho Mesenger) dan Facebook.

“Ayolah Sas, kamu buat FB, disana banyak temen-temen kita, atau temen-temenmu kuliah. Sasma, aku melihat kamu bukan Sasma yang dulu yang aku kenal, yang lantang dan tegar, kini yang ku lihat Sama yang lemah tak berdaya. Mana semangatmu yang dulu, yang membuatmu rela tidur di gedung DPR/MPR untuk menggulingkan rezim Soeharto? Apa Benteng Vasternerg yang kamu bilang itu benar-benar sekokoh ini sehingga mampu menghapus sosok Sasma sahabatku yang dulu? Bangkit Sas, Bangkit!” Bram berbicara dengan amarah yang terpendam.

“Bagaimana caranya Bram, aku tidak tahu.”

Sasma bicara kepada suaminya. “ Mas tolong aku di buatkan YM ya. Entah hingga berapa bulan, Ym itupun tak pernah ada. Dengan alasan aplikasi Yahoo di kantor di blokirlah, sibuklah atau segudang alasan lain. Akhirnya malah di sarankan untuk minta tolong kepada tetangga. Sasma tidak habis pikir, sesulit itukah membuat sebuah akun YM. Ia pun memberanikan diri minta tolong kepada tetangganya. Dan dia dapatkan sebuah akun YM, dunianya mulai terbuka lebar.

Sejak saat itu, hati Sasma sudah mulai tidak peduli, terserah, Darma mau pulang kerja jam berapa, terserah Darma mau pulang , mandi, makan, dan keluar lagi. Aku punya temen sekarang, Hp jadul ini bisa mengajak Sasma menjelajahi dunia, membaca berita yang tak sempat ia tonton di tv, atau Koran yang tak pernah ia berlangganan. Bersyukur, Sasma cepat belajar dan menguasai Tehnologi informasi. Bahkan kini iapun sudah tak memikirkan lagi ketika setiap sabtu akhir bulan Darma meeting ke kantor pusat di Jakarta. Dan dengan senang hati, Sasma berkata, silahkan, aku sudah punya temen sekarang ketika setiap malam Darma pamit keluar untuk meetinglah, bilyard lah.

Dengan HP jadulnya Sasma mendownload aplikasi facebook di Hpnya dan membuat akun di sana. Ia ingat betul status pertama yang dia buat “teman”, satu kata saja. Ia sangat merindukan teman-temannya. Selain keluarga yang jarang sekali ia berkomunikasi, karena keterbatasannya, hanya temanlah yang ia rindukan. Sahabat-sahabat yang dulu ia bercanda, tertawa dan menangis, mendaki gunung dan menjelajah rimbunnya hutan gunung dan mata air di dalam perkebunan coklat.

Ketidaksinkronan itupun sementara teratasi, namun tidak terselesaikan hingga akar permasalahan. Sampai, entahlah hari naas apa hari itu. Sepasang suami istri berteriak-teriak di teras rumah Sasma, meneriakkan perselingkuhan Darma. Geledek menyambar, petir membakar, syahdu dan sucinya ramadhan saat itu tidak juga bisa mendinginkan hati Sasma yang di bakar genderang penghianatan.

Tak banyak kata keluar dari Darma kecuali hanya kapan dan hotel mana. Kata penegasan yang menyangkal semua tuduhan itu, tidak ada. Saat itupun pikiran jernih Sasma tidak berdaya. Selain berusaha memaafkan dan menerimanya. Tidak ada penegasan dari Darma bahwa semua itu tidak benar, juga tidak mengiyakan, semuanya tenggelam seiring berjalannya waktu. Dan selama itu pula hati Sasma penuh gejolak, berjalan seperti mengambang, menjejak bumi tidak, terbang di langit juga tidak, ia jalani semua demi buah hati yang masih membutuhkan belaian dan keberadaan figur kedua orang tuanya. Ia simpan semua kejadian itu rapat-rapat dalam hatinya. Apapun biarkan Darma menjadi sosok ayah yang baik dan anak yang tanpa cacat. Karena Sasmapun tidak mempunyai bukti akan teriakan akan affair itu. Hatinya berjalan dengan segala kehampaan, ia jalani sekedarnya tanpa rasa, semua hambar dan berusaha keras berkompromi dengan hatinya, menganggap semua itu tidak benar.

Hari itu ada undangan pernikahan salah seorang kolega Darma, undangan jam 19.00 wib, dan sepakat berangkat dari kantor Darma. Ia menyuruh sopirnya untuk menjemput Sasma dan anak-anak kemudian menjemput Darma di Kantornya. Sasma pikir setelah menjemput Darma langsung berangkat ke tempat undangan, ternyata berbalik arah dan menjemput rekan sekantor Darma, seorang perempuan yang di teriakkan sebagai teman affair Darma. Hati Sasma bergolak, rasa marah jengkel dan benci berkecamuk di dadanya. Dia yang sebagai istri hanya di jemput oleh sopir, dan perempuan ini di jemput Darma. Semua latar belakang itu membuatnya penuh prasangka. Tanpa basa basi Sasma pun mengeluarkan isi hatinya.

“Enak bener kowe mba, di jemput serombongan, di jemput Mas Darma, sedangkan aku hanya di jemput Sopir.” Darma hanya tersenyum mendengar pernyataan Sasma. Dan seperti biasa, tanpa penjelasan setelahnya.

Sudah 3 tahun ini prahara itu melebar, semua tata karma dan peraturan tidak tertulis kaum priyayi itu namun terlihat begitu nyata seperti Benteng Vasterberg membuat Sasma begitu tertekan. Kamu menikah tapi, jangan harap kamu dianggap bagian keluarga. Dia hanya berharap, sang mertua setidaknya meminta ijin padanya, jika ingin suami yang notabene adalah anaknya, kalaupun tidak ijin, minim memberitahu, hanya itu yang di inginkan Sasma. Sasma dan anak-anak tidak akan ikut pulang, yang hanya akan mengganggu aktifitas ibu dan anak, dan berpindah tempat menjadi penjaga rumah di rumah mertuanya.

Kamu menikah, jangan berharap kamu di perlakukan sebagai seorang istri. Kamu ada, tapi seperti tidak ada. Dan, kamu bertugas menjaga rumah dan pengawas di rumah ini, kamu tidak boleh bekerja, karena Darma lebih suka kalo kamu dirumah, beberes, mengurus anak-anak. Kamu menikah jangan berharap keluargamu mendapatkan anggota keluarga baru, kehilangan iya. Sedihnya hidupku, batin Sasma, aku punya keinginan, aku punya segudang cita-cita, bagaimana mewujudkannya? “Andai dirimu terkurung dalam jeruji besi,kakimu dirantai, sedang taring dan kukumu dicabut, maka tetaplah pelihara kilau bulumu, berjalanlah dengan tegak, dan perdengarkan aummu yang menggetarkan itu,” Ia teringat semboyan ksatria Blambangan yang menggugah jiwanya untuk berontak.

Darma sangat menjunjung tinggi tutur kata ibunya, ibu, ibu, dan ibu. Itulah yang sering menjadi sandungan buat keluarganya. Tidak hari kerja atau hari libur, Darma harus siap laiknya ajudan, untuk memenuhi panggilan ibunya. Sasma merasa anak-anaknya di abaikan. Namun, Darma tidak bisa memperlakukan ibu Sasma seperti ibunya sendiri, minimal dengan menjalin silaturahmi, melalui telepon. Beberapa kali Sasma membicarkan ini ketika suaminya mengkomplain tindakan Sasma yang menurut Darma tidak seharusnya.Namun, hanya berjalan satu-dua minggu, setelah itu, Darma tidak pernah lagi berkomunikasi dengan keluarga Sasma. Janji berkunjung rutinpun hanya tinggal janji.

Sejak itu Sasma memutuskan untuk mengurus keluarga masing-masing. Kamu urus keluargamu, aku urus keluargaku. Terdengar egois memang. Namun Sasma tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sasma semakin tidak mampu berkompromi. Keterkungkunganya dalam rumah tangga menekan jiwanya, kesulitan berkomunikasi dengan keluarganya sendiri, terbatasnya waktu bersilaturahmi dengan keluarganya sendiri yang hanya terlaksana setahun sekali mempengaruhi progres penyakit yang di deritanya.

Setelah turun di stadium dua, tiba-tiba ia menjadi sering kesakitan, kolik dan pingsan, pemeriksaan penyakit yang di deritanya naik ke stadium 4, untuk melakukan terapi yang dulu sudah tidak memungkinkan, karena dosis maksimal sudah di gunakan, jika di paksakan akan mengakibatkan efek samping yang berbahaya untuk kesehatan lainnya. Hal yang dilakukan sementara adalah mereduksi rasa sakitnya dengan menggunakan analgesik. Hampir berjalan 6 bulan Sasma jalani hidupnya dengan sakit yang menyerang setiap saat. Tak pernah ia mengeluh, sebisa mungkin ia sembunyikan sakitnya, dari Darma dari anak-anaknya. Namun tidak mungkin ia bersembunyi terus menerus. Darma pun mengetahui jika istrinya mulai kambuh lagi. Tak mampu berbuat banyak, karena memang belum ada obat untuk sakit Sasma, kecuali hanya mereduksi rasa sakitnya.

“Dengan semua komplikasi permasalahan ini, tidak akan aku membiarkan diriku dalam ketertindasan. Aku akan memberi kesempatan untuk otak cerdasku mengembangkan apa yang tersimpan, dan tidak hanya terkungkung dalam paradigma seorang istri buat Darma, dengan semua kecurigaan yang tak berdasar itu. Aku harus meruntuhkan Benteng Vasternberg ini dengan caraku sendiri.” Berontak batin Sasma.

Kerikil tajam yang menghujam Sasma beberapa tahun silam, yang ia mengaggapnya sebagai fitnah, kini menancap lagi di kakinya. Perselingkuhan Darma yang entah benar atau tidak, telah ia terima dan ia maafkan, kini membuka hati Sasma untuk mengakuinya. Pesan-pesan pendek yang tidak sengaja ia temukan, membuatnya berfikir, memang perselingkuhan itu pernah dan mungkin masih terjadi. Hati Sasma mendidih, marah. Bukan marah kepada Darma sekarang, tapi marah atas kebodohannya selama ini yang menganggap itu tak benar.Kini entah benar atau tidak, hati Sasma sudah tidak bisa berkompromi lagi, dan menganggapnya itu benar. Seribu penyangkalanpun tak akan meluluhkan hatinya.

Bukan Sasma kalo emosional, dengan mengaggap semua yang terjadi karena keadaannya, kesalahannya, ia tidak pernah mempertanyakan pesan-pesan pendek itu, ia hanya memberi tanda kepada Darma, bahwa ia membaca pesan itu. Meski dalam hatinya sakit teramat sangat, ternyata itu cukup membuat Darma di landa deperesi di iringi demam selama beberapa hari. Dan dengan keadaanya sekarang demi kebaikan semua pihak Sasma memutuskan untuk pergi. Untuk kebahagianmu, kebahagiaan ibu dan kebahagiaanku, aku harus pergi mas Darma.

Perlawanannya kepada ibu mertuanya adalah langkah awal untuk meninggalkan keluarga besar Darma. Ia hanya berharap, anak-anak di ijinkan tinggal bersamanya, karena selain kesempurnaan sebagai seorang wanita tidak ia milki, hanya itu yang dia milki sekarang. Semoga Darma memberikan hak asuh atas anak-anaknya.

April di penuhi rintik hujan, Benteng Vasternberg itu akhirnya runtuh, Sasma melangkahkan kakinya dengan gontai ke Pengadilan Agama, hari ini adalah sidang ke 4 atas gugatan permohonan talak yang di ajukan Darma dengan agenda pandangan hakim. Sebenarnya mudah saja buat Sasma untuk mempercepat proses ini, cukup dengan 3 kali sidang tanpa ia hadiri maka, gugatan Darma akan langsung di kabulkan oleh Pengadilan. Namun ia tidak ingin terlihat sebagai orang yang tidak pernah ada apa-apa, bagaimanapun dia dan Darma akan tetap mengasuh anak-anak bersama, meski dalam atap yang berbeda.

Agak kepagian Sasma datang kali ini, jadwal sidangnya pukul 09.30, ia mesti menunggu beberapa lama sampai giliran kasusnya yang di sidangkan. Sidang pagi itu hanya berlangsung singkat, hakim memutuskan mengabulkan permohonan pengajuan talak Darma. Sidang dilanjutkan seminggu kemudian di hari yang sama untuk pengucapan talak.


Senyum cerah dan rona bahagia tersungging di muka Darma. Disampingnya seorang perempuan cantik anggun dan kalem menggelayut manja di pundaknya, menyambut kedatangan Sasma dan kedua buah hatinya.

“Mas Darma, aku mau titip anak-anak dua minggu, karena aku harus eksplore banyuwangi, semua keperluan sekolah sudah aku siapkan, dan juga mbake akan ikut menemani mereka, jadi mas Darma dan Ratna tidak terlalu repot. Ratna, terima kasih ya bersedia mengasuh anak-anak selama aku tinggal pergi.” Ayo anak-anak, kasih salam sama ayah dan bunda Ratna. Sasma menyampaikan maksudnya yang sudah di bahas via telpon sebulan yang lalu.

“ Nggak apa-apa mba, aku senang anak-anak mau disini, semoga aku bisa menjadi teman mereka.” Kata Ratna sambil mengerlingkan matanya kepada dua anak tirinya tersebut yang di balas dengan senyum manis.

Begitulah akhirnya, perpisahan itu membuat ketiganya bahagia dengan keadaan baru masing-masing. Setelah putusan cerai Darma menikah dengan Ratna, dan Sasma kembali ke dunia yang di gelutinya sejak SMA, menjadi jurnalis.