Karina, Di Balik Selimut Mega Pagi


Oleh : Ila Abdulrahman

Juli 2006, Pasca Gempa Jogjakarta
Masih hangatnya bencana gempa Jogjakarta  27 mei 2006  menjadi bahasan topik utama di media elektronik, menjadi hal utama yang di simak anak-anak Dhana. Namun siang itu, berita recovey gempa Jogjakarta  tiba-tiba di selingi berita lain yang sangat mengejutkan.
“Fenomena Facebook, kembali memakan korban, kali ini seorang gadis belia usia 9 tahun diajari cara berjimak oleh seorang  oknum, melalui situs jejaring social Facebook alias FB.” Reporter  membawakan berita itu dengan sangat meyakinkan dan membuat mata terbelalak.
 “Ma, liat deh, itu temen mama di FB.”
“Sopo tho?”
“Temen mama jaman kuliah kayaknya.”
“O Karin, iya sobat mama, satu kamar waktu kuliah.  Ada apa memangnya?”
“Astaghfirullah.”
Segera ku nyalakan my ebuddy account, melalui HP aja, more safe siapa tahu Karin sedang online, entah di YM, FB, atau situs lainnya
Alhamdulillah, di YM, hmmm coba ajak chating ahh
Dhana : Assalamualaikum
Karin_78: Waalaikumsalam, Na, aku mau nangisss
Dhana : iya Rin (panggilan jaman di kost an) sabar ya
Dhana :tadi aku liat di berita  TV, is that right say?
Karin_78:I’m sorri Na, I can’t explain at present hiks
Karin_78: I’m sorry, may I come to you?
Dhana : Its ok say
Dhana : Any time you wanna talking about it
Dhana : I will be here anytime, be patient say
Dhana : Take a deep breath, than .Ambil wudhlu sana
Karin_78: Thanks Na
Dhana : Ya udah, tenangkan diri, aku pamit sik
Dhana : Assalamualaikum
Karin_78 : Waalaikumsalam

Karin  menikah di usia yang sangat belia, menurut ukuran kami saat itu. Dua puluh (20) tahun usianya.Pemahaman agamanya yang dalam, membuat Karin memilih  pacaran setelah menikah. Selain karena memang tak diperbolehkan secara syar’i, juga karena ia trauma dengan masa lalunya, sewaktu SMA.
Dan ia memilih untuk bercerai ketika suaminya menginginkan restunya untuk menikah lagi. Sukses sebagai guru teladan, menambah bebannya yang berstatus sebagai single parents, sekaligus single fighter buat kedua malaikat kecilnya yang  sepakat untuk diasuh Karin, smiling woman.
Kini dalam statusnya yang amat rentan dengan fitnah, harus menghadapi kenyataan pahit untuk kedua kalinya bahwa sang mantan telah menodai anak tirinya, astagfirullah. Karin merasa benar keputusannya untuk meminta cerai. Media massa  menayangkan kejadian itu. Nama baik dan mental anak-anak otomatis terganggu. Entah berita itu benar atau tidak. Masih harus ada pembuktian di pengadilan.
   Seminggu berlalu tanpa kabar berita dari Karin, entahlah di bumi mana ia menghilang. FB tak pernah berganti status, tweetnya pun ga ada lagi di timelines, Account nimbuzz nya juga ga pernah online, nomornya di hubungi juga tidak pernah aktif. Aku hanya bisa berdoa semoga semua baik-baik saja, dan  meninggalkan pesan di inbox  FB dan  offline message di YM nya.
“Rin, kamu dimana? Hubungi aku ya, semoga kamu baik-baik saja”.

Di Sudut Bayat-Klaten
“Assalaamualaikum anak-anak”, seorang ustadzah muda, meski gurat lelah tampak jelas di wajahnya, namun sisa-sisa kecantikannya masih tampak bersinar. Baru 6 bulan beliau mengajar  di tempat ini.
“Wa’alaikumsalam Bu”. Serempak anak-anak Kelompok TPA  Masjid Al Hikmah Dukuh, Dukuh-Bayat, Klaten.
Bu Mira, ustadzah baru yang menjadi idola murid-murid TPA, dan juga murid-murid SMK ROTA. Sebuah Sekolah Hasil bantuan pemerintah Dubai yang di bangun di kecamatan  Bayat, Klaten untuk anak-anak korban gempa Jogjakarta yang terjadi Mei 2006 silam.
Sejak tahun 2008 sebenarnya Bu Mira tinggal, menumpang di rumah salah satu kerabatnya di Dukuh ini.
Tapi baru 6 bulan terakhir  beliau menjadi guru TPA, selama ini beliau belum berani, namun karena kurangnya tenaga pengajar dan atas permintaan warga, Bu Mira bersedia menjadi guru TPA” ustadzah” di masjid tersebut. Sekalian mengajar anak-anaknya juga.
Bu Mira tinggal bersama 2 orang anaknya, dan seorang adik perempuan yang kuliah di Jogjakarta. Menempati salah satu bungalow milik saudaranya, yang kebetulan seorang penggede di Kejari. Maka tepat sudah pilihannya memilih tinggal disitu, dimana masyarakat masih begitu menghormati pangkat dan jabatan seseorang, juga terhadap anggota keluarganya. Setiap lewat, Bu Mira akan mendapat anggukan warga yang berpapasan,
Monggo Bu (Mari Bu)”, sambil menundukkan kepala penuh hormat.
Tidak banyak yang warga ketahui tentang Bu Mira, hanya itu saja. Siapa sebenarnya  Bu Mira ini,  darimana ia berasal sebelumnya hanya beberapa orang yang mengetahuinya, kerabat dimana ia tinggal dan lurah di situ yang juga masih terhitung kerabatnya.
Masyarakat desa yang biasanya usil dengan keberadaan status warga baru, tidak terjadi di Dukuh ini.  Mereka sudah berpergaulan tingkat tinggi, tidak peduli dengan  hal-hal yang tidak begitu perlu, kecuali hal tersebut mengganggu kenyamanan dan keamanan warga. Hal ini karena tingkat pendidikan warganya yang sudah tinggi. Dalam satu keluarga rata-rata ada 2 sarjana di dalamnya. Dan banyak dari warganya yang menjadi pejabat di Ibu Kota.
Rahasia tentang seorang Mira tetap aman dalam genggaman kerabatnya tersebut. Siapapun tak ada yang bisa mencari tahu lebih banyak.
Secara keamanan dan kenyamanan Bu Mira merasa aman dan nyaman, namun ia merasa risih dengan anggukan tadi.
   “Ahh…ini mesti harus di rubah”’ kalo tidak mereka akan terkagum-kagum kepadaku dan bukan kepada penciptaku. Bahaya nya kalo suatu saat mereka kecewa karena kekuranganku, maka mereka akan mengabaikan semua hal baik , yang menganggap itu dari aku, dan bukan dari penciptaku.
Bu Mira melayang mengingat beberapa waktu yang lalu saat kajian sore, seorang ibu menyatakan sangat kecewa terhadap pernikahan kedua Aa Gym, yang berujung dengan perceraiannya dengan teh Nini, istri pertamanya. Berulang kali di jelaskan juga tidak mempan, si Penanya tetep bersikukuh, seharusnya tidak begitu, dan tetap tidak mau lagi mendengarkan dakwah yang disampaikan oleh Aa Gym. 
Agaknya  kalimat” dengarlah apa yang di sampaikan, bukan yang menyampaikan, sulit diterima masyarakat. Mereka tetap melihat  sosok figur siapa yang menyampaikan. Itulah yang sangat membebani pikiran Bu Mira.  Bagaimana jika nanti mereka tahu siapa aku yang sebenarnya, mereka akan meninggalkan semua hal baik yang telah Bu Mira sampaikan.
Akhirnya Bu Mira hanya bisa pasrah , seperti yang selama ini beliau lakukan, saat ia benar-benar sudah tidak mampu lagi menanggung sebuah persoalan. Hanya satu hal yang selalu ia yakini. Laayukallifullahu nafsan illa wus’ahaa” dan tidak Aku Coba seorang hamba kecuali dalam batas kemampuannya. Itu yang selalu beliau pegang teguh. Hingga beliau tetap sekuat dan setegar ini.
Pindah dari kota besar dan harus tinggal di dusun kecil pinggiran Jawa Tengah, yang berbatasan dengan Gunung Kidul, dimana pada musim kemarau tanah sangat gersang, debu beterbangan dimana-mana, dan hanya terlihat hijau ketika musim penghujan tiba. 
Belum lagi daerah yang sekarang beliau tinggali adalah daerah patahan yang terus bergerak, gempa kecil sering terjadi, saat malam larut, pagi buta atau siang bolong ketika beliau tengah asyik menikmati dunianya sebagai guru bahasa inggris adalah hal yang agak sulit untuk beliau beradaptasi, terutama kedua anak Beliau. Namun, inilah tempat yang tepat, untuknya sekarang dan untuk kedua buah hatinya.
Tempat ini akan menempa anak-anaknya menjadi pribadi yang tangguh, yang masih menganut sopan-santun dan tatakrama tingkat tinggi, dan juga agama yang kuat. Meski ajaran yang akan diterima anak-anaknya berbeda dengan yang dia peroleh dahulu, tidak menjadi persoalan, toh semua sama, hanya tata cara nya aja yang sedikit berbeda. Bu Mira berdoa Qunut dan anak-anaknya tidak.
Pernah suatu ketika anak-anaknya menanyakan. “ Ibu, aku  sholat subuh tidak seperti ibu, apa itu tidak apa-apa?”
“Owh, nggak apa-apa nak, yang tidak boleh itu yang tidak sholat subuh” jawab Bu Mira sambil menjelaskan panjang lebar  perbedaan dalam sholat yang tidak boleh di perdebatkan.
Ditempat baru ini Alhamdulillah, anak-anaknya mendapatkan sekolah terbaik seperti waktu  di kota yang lama. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) BIAS namanya terletak di Kecamatan Pedan, meski harus menepuh perjalanan selama 30 menit, tidak apa-apa untuk mendapatkan yang terbaik.
Bu Mira membesarkan kedua buah hatinya seorang diri, dan berjuang sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik yang ia mampu. Meski ia harus bekerja keras untuk itu, mengajar di mana-mana, dan membuka les privat Bahasa Inggris di sela-sela waktu longgarnya.
Alhamdulillah, rezeki memang Allah yang memberi, bukan dari seorang laki-laki yang berstatus suami, atau  sepasang orang tua yang dipanggil nenek/kakek oleh kedua buah hatinya. Bukan bermaksud mengecilkan peran keduanya, mereka semua hanyalah perantara. Rezeki bisa  dari mana saja, dari tempat yang di duga.  Hal yang selama ini ia takutkan, sudah tidak lagi, Allah pasti memberikan rezeki dimanapun hamba itu berusaha. Itulah yang membuatnya mantap dan tegar memutuskan untuk sendiri, dan hengkang ke desa ini.
Kesantunan dan kepandaian Bu Mira dalam bahasa inggris, membawanya menjadi salah seorang guru terpilih dan favorit wali murid untuk memberikan anaknya tambahan pelajaran bahasa inggris. Apalagi di daerah tersebut, masih sangat jarang tempat kursus yang bonafit, kecuali kalo mau pergi agak jauh yaitu ke Klaten Kota, atau ke kota Solo sekalian.

Libur Telah Tiba
Liburan sekolah kenaikan sebentar lagi menjelang. Kami sekeluarga, sudah membahasnya bahwa liburan kali ini kami akan pulang kampung.  Dan menghabiskan semua liburan di sana.
Aku sudah seminggu datang berkunjung kerumah nenek anak-anak, menghabiskan liburan kenaikan kelas.  Alhamdulillah Andien anakku yang besar naik ke kelas empat, dan Adiknya Bintang masuk TK tahun ini, meski sedikit memaksa karena umurnya yang terhitung kurang. Tapi berdasarkan hasil Psikotes dia mampu untuk masuk TK, dan agak terpaksa, sekolah mau menerimanya.
Akibat liburan ini, Andien juga libur di kelas Inggrisnya di LBPP LIA Solo. Padahal bahasa kalo ga terus diasah dan dipake dalam pergaulan sehari-hari akan hilang dari memori otak.  
Aha, nenek Andien bercerita tentang Bu Mira yang memberikan les bahasa Inggris di dusun ini.  Hmmmm, lumayan kalo Andien les dalam liburan ini, ya meski tidak kelas Formal seperti sebelumnya, tapi paling tidak untuk merefresh dan mengingat kembali kosa kata yang telah diperoleh sebelumnya.
“Sore inilah mbah (panggilanku terhadap ibu mertua) aku mau temui Bu Mira. Semoga masih bersedia menerima  satu murid lagi”.
“Darimana to mbah, Bu Mira itu? Kalo asli sini Pasti sudah terkenal dari dulu, tapi kok ini baru-baru ini aja, saya dengar cerita tentang Bu Mira?” ternyata, aku yang usil, pengen tahu tentang Bu Mira, padahal orang-orang sini aja tidak peduli. Maklum, instingku selalu bergerak jika ada hal-hal yang baru, dan a little weird.  Bisa jadi bahan tulisan nehh, Bu Mira, Idola Baru, hihihihi. There must be something, that usefull for another.
“Ahh, ora pati mudeng mbak (gak terlalu ngerti aku mba), yang jelas beliau itu masih kerabatnya bu Lurah.”
“Lho mbah uti kan deket sama bu lurah, dan biasanya bu lurah kan suka curhat mbah?” usil masih berlanjut.
   “Lha yo kuwi lho mba, kadingaren Bu Lurah kuwi anteng,  mungkin sok di seneni Pak Lurah.” (ya itulah mba, tumben Bu Lurah itu diem, mungkin Pak Lurah memarahinya).
“O, gitu mbah, ya sudahlah mbah,yang penting Andien bisa lanjut bahasa inggrisnya”.
“Nanti ketemu Bu Mira nya pas jam TPA di masjid saja, kalo dirumahnya susah ketemu.”
“O, Injih mbah. Bukan orang Jawa Tengah to mbah Bu Mira itu?” kalo orang Jawa Tengah, mampus aku mesti bahasa Jawa Krama pula, mana bisa.
Dudu mba, ketoke soko mBandung kono lho ( bukan mba, sepertinya  dari Bandung).”
“Alhamdulillah, Aman mbah ga perlu bahasa Krama.”
Yo sing kebangeten ki kowe mba, pirang-pirang taon nyang Solo yo tetep ora iso Krama (yang keterlaluan itu kamu mba, bertahun-tahun di Solo tetap gak bisa bahasa Jawa krama).”
“Ya mbah lidahnya sudah kelu.” Ngeles.com, padahal malesnya belajar Krama, susah, seperti ada kasta aja.
Ahhh, sudah jam TPA. Ku lenggangkan kaki menuju masjid Al Hikmah, yang jaraknya hanya 100 meter. Sayup-sayup kudengar suara anak-anak sedang mengaji, makin jelas terdengar. Wah, cara ngajarnya pasti disukai anak-anak. Buktinya pada semangat. Aku masuk ke serambi masjid, ada salah satu ustadzah kecil yang membantu Bu Mira sedang di serambi masjid, mba Nur.
Assalaamualaikum…”.
Waalaikumsalam, njih mba, wonten nopo niki, tumben kok njanur gunung tindak masjid, (ya mba, ada apa ini, kok tumben datang ke masjid)?” Gubrakkk….tahu aja ini anak kena deh. Makanya Na, sekali-kali sholat jamaah di masjid, biar orang tahu kamu itu masih ada, kan menjalin silaturahmi juga, bisik batinku.
Iyo iki, arep ketemu Bu Mira, diaturke yo (iya nih, mau ketemu Bu Mira, tolong disampaikan ya)”. Mba nur masuk ke dalam masjid dan menemui Bu Mira.
 “Maaf Bu, wonten tamu (ada tamu)”. Mba  Nur menyela, Bu Mira yang sedang menyimak anak-anak Tilawah.
“Oh iya, di  aturi pinarak sik yo,” hmmm ku kernyitkan dahiku, sepertinya aku kenal suara ini. ku dengar jawaban Bu Mira dengan bahasa Jawa halus tapi logat sunda yang kental. Pintar neh orang, pikirku.
   “Assalaamualaikum, ibu mencari saya?” ku dengar suara di belakangku, Aku kaget, aku kenal suara ini, segera kubalikkan badanku.
“Rin…..?”
“Na…..?”
Suara kami keluar bersamaan. Selanjutnya  kami larut dalam pelukan. Tanpa terasa air mata mengalir. Akhirnya kami berdua bisa menguasai diri. Anak-anak murid TPA heran dan terbengong-bengong melihat kami.
“Rin, aku ga nyangka ini kamu? Subhanallah, Alhamdulillah, akhirnya Allah mempertemukan aku dengan kamu lagi. Kamu baik-baik saja kan? Anak-anak gimana, di mana mereka sekarang? Rin, kamu menghilang, tanpa sepatah kata. Maaf kan aku Rin, aku tidak ada ketika kau membutuhkan teman, sahabat untuk bersandar. Aku hanya bisa menemanimu lewat chating, itupun hanya sejenak, sampai kau menghilang bagai di telan bumi.
“Ya Allah Rin, aku bahagia sekali. “ Berondongan pertanyaan yang membuat Karin alias Bu Mira semakin tak kuasa menahan tetesan air  matanya.
“Ya sudah, aku senang sekali bertemu denganmu di sini, lanjutkan dulu tugasmu, nanti lepas Maghrib aku ke rumahmu ya?”Karin tak mampu berkata, ia hanya mengangguk.
Gontai kulangkahkan kaki keluar masjid, kembali ke rumah. Berbagai pertanyaan berkecamuk. Kok Karin  bisa nyasar dan terdampar di sini, di Bayat, hal yang tak bisa ku bayangkan sama sekali, jalurnya darimana lagi. Ahhh ga nyampe ternyata otak detektifku yang dangkal ini menganalisa. Ahhh sudahlah nanti juga ada jawabnya. Kurebahkan sejenak badanku di dekat anak-anak yang sedang bermain, sambil menunggu maghrib tiba. Pikiranku tak bisa diam, tetap melayang, mengembara memikirkan Karin.  Karin-Karin, ternyata dunia memang sempit jauh-jauh kau menghilang dari Bandung, bertemu lagi denganku.
Adzan maghrib berkumandang, aku seperti di kagetkan, di bangunkan dari lamunan panjang tentang Karin. Segera  aku bangkit , ngantri kamar mandi bersama sepupu-sepupu anak-anakku yang lain. Masih juga aku bengong, hingga kakak iparku memercikkan air ke mukaku.
“ Hayo…maghrib-maghrib bengong, di samber wewe gondrong tau rasa”.
“Hehehehe, Iyo mbak yu, wis entek tho antriane?” yaa urutan terakhir ini, alamat air buat wudhlu  udah kosong neh, dan harus ngerek dari sumur, apes-apes mbah-mbah, mbok ya daya listriknya di naikin, biar - bisa tetep pake pompa air kalo sore gini.
“Yaaaaaa nimba deh hiks -hiks” , kataku setengah berteriak memancing perhatian keluarga yang laki-laki , agar ada yang ngambilin air nimba dari sumur.  Ternyata, tidak ada yang tertarik untuk membantuku, semua sedang sholat berjamaah, hanya tadi sempat ku dengar teriakan kecil.
   “ Na, masbuk ya, kelamaan nunggu kamu ngerek di sumur”.
   “Yo, munfarid juga ga pa pa, malah cepet”. Kulihat ayunan jotos kakak iparku dari dalam. Weks,  Balasku.
Akhirnya bisa wudhlu juga. Yaaaa, mukenanya  gantian, makin lama pula neh bakalan. Soalnya kalo udah tahu gini, mereka bakalan lanjut rawatib ,sabar-sabar. Entahlah kali ini semua terasa tidak mendukungku untuk segera melaju ke rumah Karin. Semua terasa lamaaa, padahal juga tiap harinya begini. Benar mungkin, waktu itu terasa lama atau sebentar tergantung dari momentum yang dilaluinya.
Alhamdulillah, akhirnya, sholat magrib juga. Allahu Akbar, Assalaamualaikum. Terimakasih ya Allah, Engkau pertemukan kembali hamba dengan saudara, sahabat hamba. Berkahilah kami ya Allah. Amiinnn.
Maghrib telah berlalu seiring perginya mega di atas sana. Aku bersiap mengunjungi Karina di rumahnya. Tapi rasanya hatiku sedang kacau, aku belum siap sebagai sahabatnya. Aku takut dan belum siap mendengar kabar buruk. 
“Karin… maafkan aku ya, aku belum bisa berkunjung ke rumahmu sekarang, aku mesti menemani anak-anak. Bagaimana kalau besok pagi jam 9an kita jalan. Aku jemput ya?” ku kirim SMS ke Karin, membatalkan janjiku untuk datang malam itu. Aku merasa pasti tidak cukup satu dua jam ngobrol dengannya nanti. Jadi kuputuskan untuk menemuinya besok pagi.
   Hp ku berbunyi, ku buka SMS balasan dari Karin.   
“Gak apa-apa Na, Aku juga rasanya juga belum siap. Tomorrow morning will be ok. Tak tunggu.”
Malam itu aku berusaha tidur sebaik mungkin. Senyenyak mungkin. Aku mempersiapkan lahir batin untuk mendengarkan terdamparnya Karin di tempat ini. Apa yang terjadi padanya seperti terjadi padaku. Aku adalah bagian dirinya.
Alarm Hp ku berdering, jam 3 pagi. Ku buka mataku, owh bapaknya anak-anak sudah bangun duluan, aku kalah lagi kali ini. Beliau sudah nyampe witir. Aku baru mulai. Gak apa-apalah, dari pada tidak sama sekali, toh masih jam 3.
Kulaungkan rasa ku dalam sendu malam, diatas hamparan sajadah maroon ini. Kutumpahkan resahku, asaku dan doaku untuk Karin. Semoga ia selalu di beri kekuatan dalam dirinya dalam hatinya dalam menghadapi semua cobaan hidup yang ia terima.
Airmata Karin tumpah dalam kelam pagi itu. Seiring subuh menjelang harapannya pun datang, kesedihannya menghilang, sahabat yang berusaha ia lari darinya tanpa ia kehendaki, malah datang. Karin tidak ingin membagi deritanya dengan siapapun. Buat Karin penderitaanya ibarat sampah yang hanya layak di buang di tempat pembuangan sampah akhir.
Jam menunjukkan pukul 08.45 wib. Ku injak pedal gas menuju rumah Karin.
“Hmmm….disini rupanya dia tinggal, rumah sesederhana ini?” Jika tidak melihat kehidupannya dulu, mungkin aku tidak akan heran, tapi, Karin dulu tinggal di komplek perumahan Elit, bisa juga dia menurunkan standard hidupnya. Ahh emang dia kan adaptable dimana-mana oke-oke saja.


Memenuhi Janji
Hmmmm, rumah Karin nampak sepi, jangan-jangan dia pergi. Gak mungkin dia bukan tipikal yang suka lupa akan janji.
“Assalaamualaikum, Karin.” ku ucapkan salam sambil ku panggil namanya. Tidak ada jawaban.
“Assalaamualaikum, Rinn”
“Waalaikumsalam,” ku dengar jawaban dari dalam rumah, tapi sepertinya bukan suara Karin. Pintu terbuka.
Monggo Mba, pinarak rumiyen.” Seorang gadis 20an tahun membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk. Aku duduk sambil mataku beredar ke seluruh ruangan. Karin, kau mampu bertahan dengan kehidupan seperti ini, aku salut.
“Mba.” Panggilan gadis itu membuyarkan lamunanku.
“Mba maaf, tadi mba Karin berpesan, mba di minta menunggu sebentar, mba Karin sedang menjemput anak-anak di sekolah, kebetulan hari ini ada kegiatan disekolahan. Kata mba Karin acara selesai jam 9 an mba.”
“Ok, gak apa-apa dik…siapa ya sepertinya nggak asing?”
“Mba Dhana, aku Tiara mba. Masa sih mba Na lupa?
“Tiara? Adiknya Karin, yang super tomboy itu? Ahh, gak-gak bukan-bukan. Tiara yang mba kenal dulu, tomboy, rambut ancur babat abis, sepatu kets, sepeda balap. Gak mungkin kamu Tiara yang itu, karena mba ga ketemu dia cuman 3 tahun aja.”
“ Masya Allah mba, iya aku Tiara yang itu.”
Aku berdiri, kutarik Tiara, dia ikut berdiri. Ku putar-putar badannya, Tiara menurut saja.
“Udahlah mba, aku Tiara. Tiara Daniswari Atmaja. Ini kan yang mba Dhana cari?” Tiara menunjukan tanda lahir yang ada di siku  kanannya.
“Ya Allah, Tiara ? Rara, Rara, Kamu kok udah segede ini, jadi feminim, bagaimana mba gak lupa, sayang,  Maafkan mba Dhana ya, tidak mengenalimu.”
“Iya mba, gak apa-apa.” Semalam mba Karin cerita kalau ketemu mba Na di masjid. Mba Karin bahagia sekali mba, baru Rara  lihat senyum itu lagi setelah hampir 2 tahun hilang.” Tampak kesedihan dalam raut muka Tiara.”
“Ra, sambil nunggu mba Karin, bisa kamu cerita, apa sebenarnya yang terjadi?” mba hanya sekilas melihat berita di TV. Karena setelah itu tidak ada  berita tentang kejadian tersebut tayang, kasus itu sepertinya di keep dari publik. Sampai-sampai mba, yang kamu tahu sendiri sedekat apa mba sama kakakmu tidak bisa untuk hanya sekedar ngobrol dengan Karin.  Karin sehat kan Ra?”
“Sehat Mba. Entahlah mba, tidak ada yang tahu sebenarnya apa yang terjadi, baik mba Karin atau keluarga, tidak ada yang buka suara. Hanya mba Karin terlihat menyembunyikan sesuatu yang begitu besar.”
“Huhhf, berat ya, kasian Karin. Tapi aku yakin, dia tegar dan tabah.” Ra, tadi katamu acara sekolah sampai jam 9, ini udah jam 10 kurang lho, kok belum nyampe ya, harusnya kan cuman 30 menit aja. Ahh kali masih di jalan ya.” Kataku menghibur diri.
“Iya ya mba, atau mungkin mampir pasar Cawas dulu untuk belanja, buat masakin mba Dhana, Ca kangkung kan Mba? Masih ingat lho aku, ehmmm sama tempe goreng dan sambal tomat super pedas.
“Ingat aja kamu Ra, sambil kujitak lembut Tiara, seperti dulu. Oh ya, Kamu udah  tingkat berapa sekarang, kuliah dimana?
“Aku semester 8, di UAD (Universitas Ahmad Dahlan) mba. Sama bapak, aku disuruh kuliah di sini aja, sekalian buat nemenin mba Karin. Sebenarnya aku kost di Jogjakar
“Ow, gitu. Baguslah Ra. Kok ini Kakakmu lama bener ya?” Aku duduk semakin tidak tenang. Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Kariiinnnnn, cepatlah kau datang. Teriakku dalam hati.
“Ahh, entar lagi juga datang mba. Kita Tunggu aja, di minum mba tehnya, sampe lupa ya mba.”
“Enggak apa-apa Ra, maklum kok. Percakapan kami terhenti, sebuah Mitsubishi Kuda berhenti tepat di depan rumah Karin. Dua orang berseragam turun dan masuk sambil mengucapkan salam.
“Selamat siang Bu, mohon maaf benar ini tempat tinggal saudari Rima  Sandrina Atmaja ?”
“Oh iya pak, maaf ada apa ya pak? Ini mba Rimanya juga tidak ada pak, sedang menjemput anak-anak sekolah.” Aku melihat Tiara mengedipkan mata kepadaku. Owh, aku mengerti, Rima.
“Maaf Ibu ini siapa ya? Tanya Polisi tersebut.
“Oh maaf, saya Dhana pak, temen ibu Rima, dan ini Tiara adik ibu Rima.” Jawabku dengan nada heran dan penuh pertanyaan. Bagaimana pak?
“Saya minta keluarga bu Rima ikut saya sekarang.” Salah satu polisi itu berkata dengan tegas.
“Sebentar pak, bisa di jelaskan ada apa sebenarnya? Tanyaku dengan nada penuh penasaran.
“ Nanti saya jelaskan.”
“Ya sudah Ra, kamu ikut dengan beliau, aku akan menyusul dengan mobil sendiri.” Instingku mengatakan, there is something wrong, aku mending menyusul dengan membawa mobil sendiri saja.” Semoga, tidak ada apa-apa.
Ku ikuti laju Mitsubishi tersebut, mengarah ke cawas. Kantor Polisi di sebelah Terminal Cawas sudah lewat, mau kemana sebenarnya Tiara di bawa?
Sirine Mitsubishi itu dinyalakan, lajunya semakin kencang. Mobil  melaju kearah Klaten Kota. Hatiku deg-degan tidak karuan, ada apa ini sebenarnya?
Ya Allah  beri hamba kekuatan, ketajaman mata hati dan fikiran karena hamba harus membawa mobil ini dengan kecepatan tinggi. Bismillahitawakkaltu ‘Alallahi Laa haula wala Quwwata illabillahhh..Subhanallladzi sakharalanaa haadaa wamakunna lahuu mukriniina wainna illa robbinaa lamunkoolibuunn. Ku lafalkan do’a safar, berharap dan memohon supaya perjalanan ini selamat sampai tujuan. Amiiin.

Antara Hidup dan Mati

Dengan sekuat tenaga aku berusaha menjaga mata dan hati agar tetap waspada. Apalagi lalu lintas begitu ramai. Kami membelah keramaian kota Klaten. Lampu merah RSI Klaten , kami berbelok kanan. Innalillahiiii, ya Allah semoga tidak seperti yang aku pikirkan.
Tepat di depan Unit Gawat darurat Mitsubishi berhenti. Aku mengambil parkir di deket mushola.
Ku cari Tiara, sekilas ku lihat Ia di bawa masuk ruang UGD.  Aku berlari dengan perasaan tak menentu.
“Maaf bu, hanya keluarga yang boleh masuk.” Seorang perawat menghalangiku untuk masuk
“Saya keluarga bu Mira, suster.”
“Oh, silahkan bu.”
“Masya Allah, Karin, Azriel, Zahrah, Kututup mulutku menahan agar tidak berteriak. Karin, Nafasnya tersengal-sengal. Setiap nafas menghembus, darah segar ikut keluar dari lehernya menembus perban yang membalut.
Tiara duduk lemas di samping kepala Karin, sambil mulutnya bergerak membaca do’a. Lima orang tim medis berusaha melakukan sesuatu untuk menolong Karin. Azriel berbaring diam, Zahrah di bed sebelah dengan infus, tangan kanannya berbalut perban.
Azriel, nak kenapa denganmu, kenapa engkau diam? Kupegang kepala Azriel. “Sayang, Azriel bangun nak, ini bunda Na, Azriel…”
“Maaf ibu, Azriel sudah pergi, kami sudah berusaha semampu kami.”
“Tidak, Azriel masih ada, kugoyang-goyangkan badan Azriel, nak  Azriel, bangun sayang, jangan tidur, bangun Riel. Bunda sama Zahrah menunggumu, Azriel bangun sayang.”
Kurasakan hawa hangat dari jemari yang ku genggam, bergerak.
“Dokterrrrr! Bergerak, jarinya bergerak.” Aku berteriak tanpa sadar.
Tim yang sedang menangani pendarahan Karina sebagian berusaha membangunkan Azriel. Alat deteksi detak jantung di pasang, ada gerakan. Azriel  membuka mata.
Alhamdulillah ya Allah, terima kasih ya Allah, ku dekati Azriel.
“Bunda Na, Bunda, Azriel kangen sama bunda.” Suara Azriel lemah.
“Iya sayang, bunda juga. Ternyata kamu masih inget sama bunda.” Aku cium kening Azriel, aku peluk dia. “Awwww..bunda sakit.”
Azriel berteriak, ketika belum jadi aku memeluknya, baru aku menyentuh pundaknya. Azriel, pingsan.  Tim medis menyadarkan Azriel. Dari hasil rontgen terlihat tulang bahu Azriel retak. Dan harus di gypsum.
Aku kembali melihat Karin, masih bernafas dengan tersengal-sengal, hatiku pilu, mataku berkabut dan lidahku kelu memandang ibu dan 2 anak tersebut.  Ku usap kepala Tiara,yang setia di samping Karina sambil terus membisikkan kalimat syahadat di telinga Karina.
“Ra, siapa yang harus dihubungi? Bapak-ibu di Bandung?”
Tiara menggeleng, ”Tidak ada Mba, Mereka sudah tiada, setahun yang lalu,  hari ini tepat setahun  Bapak pergi, menyusul ibu yang sudah pergi dulu 4 bulan sebelumnya.”
Aku duduk lemas, seorang perawat memberiku minum. Rasanya ingin ku peluk Tiara yang terus meneteskan airmata begitu deras, sederas hujan sore itu. Tapi kutahan, kalo aku memeluk dia maka, hatinya akan semakin nelangsa, semakin rapuh, dan semakin sedih.
   “Ra, ingat, mba Karin selalu berpesan kepada kita untuk tabah dan tegar.” Padahal dalam hatiku sedih, sakittt seperti diris-iris sembilu. Tiara mengangguk.
   Aku duduk disamping Karina, mengelus rambutnya, yang karena untuk alasan medis, kerudungnya di lepas. Air matakupun tak berhenti mengalir. Karina dan Tiara, mereka hanya dua bersaudara, suami tiada, orang tua pun sudah pergi. Sebatangkaranya mereka, air mataku bagaikan luapan bengawan solo yang sedang membanjiri daerah Laweyan dan Kampung sewu.
   Aku keluar ruangan, menelepon keluargaku di Bayat.
   “Assalaamualaikum, mas, dengarkan aku. Karina atau bu Rima dan anak-anaknya kecelakaan , sekarang di UGD RSI Klaten.  Tolong kabari keluarga Bu Lurah. Terus, usahakan prioritas utama penanganan, kontak dr Samsul (Dirut RSI), juga mba Dwi dan mas Broto, aku belum sempat mencari mereka.”
   Kebetulan dirut RSI adalah TS (Teman Sejawat) kakeknya anak-anak.  Mba Dwi dan Mas Broto juga Praktek di rumah sakit tersebut. Aku yang selama ini anti dengan nepotisme, kali ini demi nyawa seorang sahabat harus aku menyingkirkan semua itu.
   Aku masuk kembali ke ruang UGD, Tiara menangis bertambah keras dia mengenggam erat tangan Karina.
   Aku melihat Mas Broto dan Mba Dwi sudah di UGD, ada sedikit rasa lega. Alat pacu jantung di pasang, denyut jantung Karin semakin lemah 70…60…Ya Allah, berkali hamba memohon dan kali ini hamba memohon lagi kepadaMu ya Allah Engkaulah yang punya Kuasa, berikanlah kesempatan kepada sahabat hamba, untuk membaktikan hidupnya dan untuk sebuah rahasia besar. Amiin.
   “Mba, mba harus bertahan, anak-anak butuh mba Karin, Azriel, Zahra, mereka butuh mba. Ingat mba, kita sudah berjuang sejauh ini, mba jangan menyerah, jangan menyerah, jangan menyerah mba, ”suara Tiara semakin lirih sebelum akhirnya ia rebahkan kepalanya di pinggir tempat tidur, sambil terus mengenggam tangan kakak tersayangnya itu. Aku berlari mendekati Azriel dan Zahrah.
   “Nak, kalian anak-anak yang sholeh dan sholeha,  kalian berdoa memohon kepada Allah ya, supaya bunda kembali bersama kita, ya.” kedua anak tersebut mengangguk, menengadahkan tangannya, memohon untuk bundanya.
   Ya Allah, doa dua orang anak sholeh, kabulkanlah ya Allah, tunjukkanlah kebesaranMu, yang selama ini hamba buta untuk melihat dan mensyukurinya
   Aku berbisik di telinga kanan Karina. “Karin, Kamu tidak boleh pergi, bahkan jika Allah memanggilmupun, katakan tidak, kamu memegang sesuatu yang besar yang harus kamu jelaskan sendiri kepada kedua buah hatimu,kepadaku dan kepada dunia. Kamu harus menjadi orang yang bertanggungjawab, dengan harus berusaha untuk bertahan.”                                                                                 “Karin, tidak ada yang mampu menjadi ibu buat mereka, tidak Aku, tidak juga Tiara atau siapapun. Hanya kamu yang mampu, hanya kamu, ingat itu yang selalu engkau katakan kepadaku.”    “Karin, kamu orang baik, orang sholehah, selama puluhan tahun kamu menjadi sahabatku, belum pernah sekalipun aku tersakiti olehmu, Sampaikan itu kepada Allah. Semoga Allah menghitung itu sebagai salah satu pintumu untuk bertahan. Hanya itu yang bisa kulakukan, berlari kesana-kemari dalam kepanikan. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk semua.

Hari yang di nanti
   Pagi ini begitu cerah. Secerah hati Karina. Ia bahagia sekali akan bertemu dengan Dhana, sahabat yang telah begitu lama ia tinggalkan, hari-hari yang dia nantikan.
   “Hmmm…aku  jemput anak-anak sekolah dulu, habis itu ketemuan ama Dhana.”Gumam Karina.
   Meski sudah tiba liburan sekolah, namun ada kegiatan di sekolah Azriel dan Zahrah. Pagi-pagi pukul 07.00 Karina menaiki Honda Beatnya mengantar anak-anak ke sekolah di BIAS Pedan. Karena masih ada sisa waktu Karin melanjutkan acara belanja di pasar Pedan sambil menunggu anak-anak selesai kegiatan.
   Karin berbelanja kebutuhan sehari-hari kebutuhan dapur. Ia sempatkan belanja kangkung, siapa tahu nanti sempat membikinkan ca kangkung favorit Dhana. Waktu berlalu begitu cepat, Karin harus segera menjemput Azriel dan Zahrah.
   Bergegas ia pacu kendaraan melaju ke SDIT BIAS. Semoga belum terlambat aku menjemput anak-anak.
   Alhamdulillahh, just in time, alias  tepat waktu. Anak-anak terlihat gembira sekali, karena akan bertemu dengan tante kesayangan mereka, Tante Na.
   Sepanjang perjalanan ibu dan kedua anak itu bercengkerama, berhayal apa yang akan mereka lakukan nanti, kalo bertemu dengan Tante Na.
   Si kecil Zahrah berkata, “ Bunda, Tante Na nanti kita gelitik dengan bulu ayam aja, pasti akan lari sambil teriak-teriak, atau kalo enggak kita kasih aja tante boneka ayam Zahrah itu, di bungkus kado pasti seru deh.”
   “Aduh, anak-anak kasian dong tante Na nanti, lari ketakutan. Ntar ga jadi ketemu kalian malah langsung balik pulang, iya ga, Ka (Azriel)?”
   Azriel hanya tersenyum diam sepertinya pikirannya tidak berada bersama raganya.
   “Bunda.”
   “Iya sayang.”
   “Bunda tahu, ayah sekarang ada dimana?”
   “Hmmmmm, tahu, kenapa sayang, kangen ya? Karin menjawab seolah semua baik-baik saja, batinnya menangis, menjerit dan matanya berkaca-kaca.
   “Insya allah kalau sudah waktunya, kita akan bertemu dengan ayah, yang sabar dan ihklas, selalu doain ayah, ya” Seburuk apapun kesan masyarakat dia ayah dari anak-anakku, mereka harus tetap mempunyai rasa hormat, dan itu yang harus aku ajarkan dan tanamkan, suatu saat mereka akan tahu siapa ayah kalian sebenarnya.
   Pikiran Karin mengembara, melanglang buana seiring hijaunya hamparan sawah yang ia lalui sepanjang jalan menuju dukuh.
   Dua orang pengendara motor berboncengan menyalipnya. Tiba-tiba Karin oleng dan terjerembab ke dalam parit, bersama kedua buah hatinya. Azriel dan Zahrah sempat berteriak minta tolong, sedangkan Karin langsung tak sadarkan diri.
   Bersyukur, saat itu ada mobil lewat, dan berhenti untuk memberikan pertolongan. Namun pengemudi dan pemilik mobil itu tidak berani melakukan apa-apa. Si pemilik menyuruh sopirnya untuk melaju ke kantor polisi terdekat, cawas. Sedangkan si bapak pemilik itu menunggu di tempat tersebut, setelah sebelumnya menelepon ke kantor Polisi 110, sambil menceritakan kondisi Karin dan anak-anaknya.
   “ Ya Allah, selamatkanlah ibu dan anak-anak ini, siapa orang jahat yang melakukan ini , sungguh tidak punya hati.” Si bapak itu terus saja mendoakan, sambil mengelus kedua bocah yang meringik kesakitan, dan juga memastikan bahwa si ibu masih berdenyut nadinya. Si bapak yang begitu panik  melihat darah di sekitar kepala Karin dan hanya bisa diam.
   Para pengendara yang lewat  berhenti, berkerumun melihat kejadian tersebut, namun semua hanya diam, kecuali berdoa dan berlalu dg tetesan air mata. Ya Allah, selamatkan mereka.
   Terdengar suara sirine ambulan di kejauhan dan semakin mendekat.  Polisi yang datang di sertai tim medis ambulan PKU Muhammadiyah Cawas, membubarkan kerumunan. Polisi menggambar tempat letak kejadian kecelakan, di susul dengan tim medis yang segera memberikan pertolongan. Segera ketiga ibu dan anak itu di masukkan ke dalam 3 ambulan yang sudah di siapkan. Sirine Ambulan itupun meraung keras, sekeras luka yang di alami Karin dan anak-anaknya, yang seolah-olah berteriak ya Allah, tolonglah hambamu ini, kuatkanlah kami dan berikanlah yang terbaik untuk kami.

Koma
Ternyata sembilu masih nyangkut di dadaku. Rasa pilu itu tiba-tiba saja menyelinap kalbuku, aku memang bukan siapa-siapa, aku biasa saja, tidak ada yang hebat pada diriku, kecuali satu aku orang pilihan, untuk orang berbagi, dan itu cukup untukku  bisa membantu orang lain. Seharusnya itu yang terjadi. Tapi,  aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat  Zahrah dan Azriel tetap memilki seorang ibu. Ibu yang seperti dulu, yang mereka miliki.
   Karina dinyatakan koma, itu adalah hal terbaik yang mungkin terjadi dari  kemungkinan buruk. Pendarahan lehernya seharusnya menghantarkan ke peristirahatan terakhirnya, menyusul ayah dan ibunya. Tapi Allah berkehendak lain, ia di beri kesempatan hidup meski dalam keadaan mal fungsion, semua bergantung pada peralatan medis. Tinggal menunggu keajaiban datang saja yang mampu membuat Karina bangun. Ia pun di tempatkan dalam ruang khusus dengan penjagaan ketat pihak kepolisian.        
Tiara rajin menjenguk kakak kesayangannya itu. Pagi sore ia besuk, kadang dengan membawa serta Azriel dan Zahra. Merekapun selalu membisikkan kata-kata kepada bundanya disertai belaian lembut. Mereka berharap itu dapat memberikan Karin rangsangan, dan membuatnya bangun.

Perburuan terhadap pengendara motor
Karina jatuh terjerembab ke dalam parit persawahan. Kecelakaan itu bukanlah kecelakaan biasa. Luka tusukan bersarang di leher Karina. Dua pengendara motor yang menyalipnya di duga sebagai pelakunya. Kesimpulan polisi ini di peroleh berdasarkan hasil medis dan keterangan Azriel dan Zahra. Karina meneriakkan “Allahu Akbar”. Sesaat kemudian, bundanya tidak bisa mengendalikan motor, jatuh. Akibat tusukan itulah yang mengakibatkan darah terus mengucur deras dari leher Karina.
   Karina dan anak-anaknya sudah di bawa ke rumah sakit, beberapa polisi tinggal di TKP (Tempat Kejadian Perkara) menulusuri jejak ceceran darah,  Mengarah ke Cawas. Polisi tidak mendapat banyak keterangan, dari pengguna jalan, saat itu sedang sepi. Hanya ada satu orang pengendara sepeda, bapak-bapak tua yang mengarah berlawanan dengan arah Karina, kemungkinan berpapasan dengan pelaku, Pak Bejo.
   Bapak tua itu mengatakan, “ kulo wau njih salipan pak, ning kan njih boten mangertos niku nopo sanes, piyayi kakung, ngagem helm cakil (Standard SNI), nitihe ngapunten nopo njih jenenge, ohhh….Yamaha nopo niku, scorpio, mbok menawi, soale sami kalian nggene anake kulo.” Wah, hebat juga pak tua ini, selain mampu membelikan scopio anaknya, daya ingatnya luar biasa. Salah satu ciri orang desa yang kaya. Sawah dan tanah yang luas, anak berpendidikan, mengendarai dan menggunakan gadget terbaru, namun tetap lowpro alias low profile.  Dan satu lagi, semua di beli dengan tunai. Beda dengan orang Kota, gaji habis untuk bayar angsuran, rumah menterengpun tidak, mobilpun bukan keluaran terbaru, tiap hari pergi nge-mall, makan pun menjelajah wisata kuliner, tapi semua masih mengangsur dan kredit. “Panjenengan kemutan Plat nomere pak?” Polisi berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi.                                                
Wah, nek niku kulo apal pak, AD Pitu likor songo siji  (2791) D nek mboten klentu lho pak niku.” Ning kulo yakin pak, Amargi  kulo kan nembe ajar Kejar Paket A.”
Wah, siip niku pak, kulo dongake ndang saged maos njih pak.”
“Amiin, maturnuwun.”
Informasi tersebut sangat membantu. Perburuan di mulai. Berdasarkan penelusuran dan informasi awal. Pemilik kendaraan bermotor tersebut adalah sesorang berinisial MG seorang pedagang sapi yang beralamatkan di  Cepogo, Boyolali.
MG di Panggil ke Polres, Tak banyak keterangan yang diperoleh. Ia mengatakan bahwa motor tersebut hilang ketika di parkir di halaman rumahnya 2 hari yang lalu. Polisi tidak mempercayai keterangan tersebut. Keterangan tersebut kemudian di cross check  di kantor polisi di  Cepogo. Ternyata MG mengatakan yang sebenarnya. MG telah melaporkan kejadian kehilangan tersebut, dan laporannya tercatat di kepolisian.
MG bernafas lega. Ia hanya di jadikan saksi. Keluar dari kantor Polisi MG menelpon menghubungi seseorang.
Paijooo, guoblok ra entek-entek, Ngopo Plat nomere ora kok ganti? Untung kendaraane wis tak laporne ilang. Nek ora aku langsung keno. Awas nganti jenengku mlebu, keluargamu tak entekne. Di eling-eling kuwi.” MG berkata-kata dengan muka merah. Sepertinya tanduk sapi dagangannya sudah pindah bertengger di kepalanya.
Di seberang telepon, seseorang bermuka masam, takut dan kecewa akibat kecerobohannya.  Nasi telah menjadi bubur. Ia berharap alibi hilangnya motor itu akan mengaburkan plat nomor motor  itu. Yaa, Pram hanya bisa berharap, aksinya yang sadis tidak akan terlacak Kepolisian.
Kepolisian tidak mempercayai begitu saja keterangan MG. Ia memberikan keterangan dengan jelas, namun kebohongannya tercium oleh polisi. Sejak pemanggilan itu gerak-geriknya dalam pengawasan Polisi. Apalagi ternyata Kepolisian Negara Republik Indonesia ikut turun tangan dalam kasus Rima atau Karina tersebut.
   Dan tanpa sepengetahuan Polsek seluruh telepon tersangka dan korban telah di sadap. Tak luput percakapan MG dengan seseorang  bernama Pram tersebutpun telah masuk dalam catatan kepolisian.

MG lias Muhamad Giyono
MG seorang Pedagang sapi yang cukup besar di Boyolali. Ia di tuntut cerai istrinya 8 tahun silam. Seorang gadis mungil hasil pernikahannya  Shamila yang masih berumur 6 tahun ikut dengan istrinya Wanda. Dua tahun setelah perceraiannya Wanda meminta ijin kepada MG untuk menikah lagi. Wanda mengatakan kalau ia di lamar oleh seorang  Anggota TNI, dan sudah bercerai dan mempunyai 2 orang anak. Namun kedua anak calon suaminya tersebut  ikut dengan ibunya.
MG ikut bahagia mendengar kabar tersebut. Sebagai seorang ayah MG merasa tidak khawatir  menitipkan gadis kecilnya untuk di didik oleh seorang TNI, ia yakin anaknya akan mendapat pendidikan yang baik. Namun  berita mengejutkan datang 3 tahunan yang lalu, istrinya mengatakan bahwa anaknya telah di cabuli oleh suaminya alias ayah tiri tersebut.  
Saat itu ia masih menikmati nikmatnya hotel prodeo salemba. Darah seorang bapak mendidih, Hatinya tidak terima, harga diri dan nama baik anak dan keluarganya hancur berantakan.  Ia ingin menuntut balas, hukum ditegakkan. Ia salahkan istrinya atas kejadian  ini. Namun nasi sudah menjadi bubur. Kekecewaan  semakin memuncak dan menuntunnya untuk menuntut balas, jiwa penjahatnya tergugah  lagi ketika  sang hukum tidak berbuat apapun jangankan sampai ke meja hijau, untuk sampai ke kepolisian pun tidak. Kejadian tersebut hanya sebagai hiasan layar kaca. Yang hanya semakin mempermalukan dan menghancurkan masa depan anaknya, gadis yang baru 9 tahun, yang sebenarnya malah tidak tahu apa-apa. Sang kolonel pun bebas tanpa sanksi bahkan melenggang pergi meninggalkan anak –anak dan istri serta mantan istrinya,  lenyap tanpa bekas.
Akhirnya demi kehormatan dan nama baik anak dan mantan istrinya MG rujuk kembali, setelah ia bebas dari Salemba. Namun sejak itu Ia bersumpah untuk membalas dendam kepada sang jenderal maupun keluarganya. MG sang perampok telah bangkit. Ia mulai menajamkan giginya, mengasah taringnya dan mengumpulkan sisa-sisa kekuasaannya.
   Hanya satu orang yang mengetahui kejadian 4 tahun yang lalu itu secara detail dan lengkap. Karina Daniswara Atmaja,  mantan istri sang Kolonel yang juga menghilang setelah setahun kejadian tersebut.

Kelabu di lereng merapi
MG membawa anak dan mantan istrinya kembali ke Cepogo. Tempat yang tak lagi bersahabat. Merapi telah melumpuhkan sebagian perekonomian kota itu.  Lahan pertanian terutupi abu vulkanik, sayuran, tembakau tak menyisakan hasilnya. Namun, masih  ada sebagian lahan yang masih bisa di petik panennya, meski jauh dari hasil seharusnya.
Mawar putih dan merah masih tampak menyembulkan bunganya dan mewarnai kelabunya Cepogo. Ternak sapipun harganya jauh merosot. Susu sudah tidak lagi keluar seperti biasanya. Yang biasanya dua milk can terjejer di depan rumah peternak sapi perah, kali ini hanya satu saja. Keadaan itupun masih jauh lebih beruntung di banding dengan daerah Yogyakarta, Sleman dan Magelang, hancur luluh lantak.
MG dan Wanda mengambil keperluan di rumah mereka. Karena cepogo sudah tidak mungkin di tempati lagi, mereka pindah ke rumah mereka yang lama, di Bandung. Rumah di mana mereka memulai semua dan mengakhiri semua, kini harus mereka awali lagi, dengan keadaan yang berbeda.

Karina Daniswari Atmaja
Karina  anak bapak Atmaja, Mantan petinggi Militer di era presiden Soeharto. Ia yang memimpin segala operasi militer dimana instabilisasi nasional terjadi. Karina tumbuh dalam didikan islam yang taat. Ketika SMA ia pernah pacaran layaknya cinta monyet.  Namun kala itu si pacar memaksanya untuk having Sex, Karina menolak keras. Sejak saat itu ia menjadi gadis yang taat kepada aturan agama. No Man No worry, gak ada lelaki maka tidak perlu ada kekhawatiran, begitu ia meyakinkan hatinya.  Maka ketika kuliah tingkat 2, tahun 1997, ia memutuskan menikah. Salah seorang anak buah bapaknya melamarnya, Wirya Suryadiningrat yang kala itu masih berpangkat Pamen bermelati 1. Sedangkan aku masih asyik menikmati masa kuliah dengan teman, bahkan orang yang mencintaikupun memilih pergi jauh mengasingkan diri di perkebunan kelapa sawit di pedalaman Riau, karena ketidak tegasanku menjawab perasaannya. Setahun setelah pernikahannya, Karina melahirkan Zahra  di susul setahun kemudian Azriel. Pernikahan yang sangat bahagia.
            Pernikahan bahagia itu mulai terusik dengan kehadiran Wanda. Entah siapa dia, darimana berasal dan mau apa, Karin tidak berusaha untuk mencari tahu. Yang ia lakukan adalah berusaha memperbaiki diri, mencari sisi lemahnya dan lebih berbakti kepada keluarga. Harapannya dengan melakukan hal tersebut  keluarganya akan baik-baik saja. Namun semua di luar kemampuannya, ketika sang Jendral memutuskan meninggalkan keluarganya dan memilih untuk menikah dengan Wanda. Karin berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangganya, untuk anak-anaknya, untuk nama baik sang Jendral dan juga untuk sebuah kesucian ikatan pernikahan. Namun 6 bulan persidangan  putusan tetap, mereka berpisah dengan anak-anak ikut bersama ibunya.         
Dalam penggerebekan di sebuah kawasan elit di Solo Tahun 2002, MG  di tangkap beserta 5 orang lainnya. Iapun di gelandang ke Jakarta. Proses pengadilan berjalan, keluarganya di Bandung, tidak mengetahui aktifitas MG yang sesungguhnya. Sepengetahuan mereka MG adalah pedagang Sapi kelas besar, Importir.  Setahun sudah MG menghilang dari keluarganya. Tanpa meninggalkan pesan apapun. 
Wanda, istri MG, menganggap suaminya hilang dalam pelukan wanita lain yang memang kerap dia  alami selama ini. Namun  tidak pernah selama ini suaminya pergi, paling juga sebulan sudah kembali, meminta maaf dan minta ketulusan Wanda kembali. Buat Wanda, apa yang dia cari, yang penting harta cukup, dia tidak perlu cinta, dia tidak perlu laki-laki untuk membuatnya menderita, ia hanya butuh semua kemewahan dunia ini, sehingga semua itu tidak menjadi masalah. Kamuflase yang ia tanamkan dalam  hati untuk menghibur diri.
Sebulan telah berlalu tanpa berita. Setahun  kemudian Wanda mendapat sebaris pesan pendek dari nomer yang tidak dia kenal,” Ma, aku di Salemba.” Kaget bercampur bingung, Salemba? Kampus apa Rutan? Ahh pasti Rutan neh. Tanpa sepengetahuan MG, Wanda mengikuti jejak suaminya tersebut, Wanda juga tahu persis apa pekerjaan suaminya yang sebenarnya. Tapi demi keamanan dan kenyamanan hidupnya ia memilih diam, juga demi  Shamila, putri semata wayangnya yang masih butuh banyak biaya untuk hidup. Karena ia hanya perempuan kampung tanpa keterampilan apa-apa. Kini mengerti sudah apa arti Salemba itu. Artinya suaminya harus menebus semua hal yang pernah di lakukannya.
Inilah saatnya, untuk melepaskan diri, membebaskan dari keterpurukan menjadi istri yang tidak berdaya. Ia pun menuntut cerai ke Pengadilan Agama Bandung
Nasib baik berpihak. Pertengahan tahun 2005, seorang tentara berminat meminangnya, Bapak Wirya Suryadiningrat, untuk di jadikan istri ke-dua. Entahlah bagaimana mereka berkenalan. Wanda pun meminta ijin kepada mantan suaminya. Dan di ijinkan dengan syarat ia tidak akan pernah memutuskan keberadaannya dengan Shamila buah hatinya.
Kenyataannya Wanda tidak menjadi istri kedua, tetapi istri pertama, karena istri sang mayjen, Karina Daniswari Atmaja  tidak bersedia untuk di poligami dan memilih menerima perceraian itu dengan lapang dada. Ia lebih memilih ikhlas dan mengasuh kedua buah hatinya Zahra (6tahun) dan Azriel (5tahun) dan tinggal bersama kedua orang tuanya di Siliwangi.                                          
Setahun sudah mayjen menempuh hidup bersama Wanda. Sepertinya bahagia, namun pernikahan yang banyak mengundang pertanyaan. Tiba-tiba terjadi kegemparan, Wanda melaporkan suaminya atas pencabulan terhadap Shamila.
Bandung yang tenang mendadak gempar. Siapa yang tidak kenal Mayjen Wirya, siapa yang tidak kenal Karina Daniswari Atmaja, tanpa ada kabar perpisahan, sekarang ada laporan pencabulan terhadap anak tirinya. Kapan si mayjen menikah lagi, hanya keluarga yang tahu. Namun sekarang semua khalayak di henyakkan dengan kabar tersebut.
Mayjen Wirya di periksa berkenan dengan masalah tersebut. Namun, tidak ada yang di sidang, apalagi masuk penjara. Hanya, Wanda dan anaknya kembali pulang ke Boyolali dengan pilu dan tanpa tahu yang terjadi.            Keluarga besar Mayjen menjadi bahan perbincangan di Seantero Bandung bahkan nasional. Mau tidak mau Karina harus menemui bapak dari kedua anaknya untuk meminta penjelasan dan klarifikasi. Penjelasan itu ia dapatkan. Dan atas saran para perwira Karina harus pindah dari Kota Bandung, ketempat yang telah di sediakan TNI. Karina mempersiapkan segalanya untuk kepindahan itu. Identitas barupun sudah di genggamnya. Bapak, ibu dan adiknya hanya tahu bahwa Karina ingin memulai hidup yang baru, sebagai seorang pengajar. Pekerjaan yang sudah lama ia jalani sejak masih kuliah. Bapak Atmaja  meminta si adik, Tiara Daniswari Atmaja untuk menemani kakanya. Dan Karina tidak pernah memberitahukan penjelasan yang ia dapat dari kasus yang menimpa bapak kedua buah hatinya itu. Keluargapun menghargai keputusan Karina tersebut.
Melaju dengan Lodaya, Karina pergi  meninggalkan Bandung Hall yang penuh kenangan, menuju tempat baru yang belum pernah Ia tahu dan bayangkan sebelumnya. Subuh sudah menyingsing, denyit kereta berhenti di sebuah stasiun. Karina mengernyitkan dahi, “Owh aku harus turun.” Sesuai pesan mantan suaminya Karina turun di stasiun Klaten, dan disana sudah ada yang menjemput. Keempat orang itu melanjutkan perjalanan dengan Xenia silver.
Kang Yana  tos lami di dieu?” tanya Karina pada sopir yang menjemputnya.                       
Sumuhun bu, teu lami sih, mung sering uah uih wae.” Orang yang di panggil Kang Yana itu menimpali pertanyaan Karina.
   Hampir sejam perjalan mereka akhirnya sampai di tempat yang di tuju. Dukuh, Bayat, Klaten. Di sebuah rumah sederhana mereka akan tinggal, sangat malah untuk ukuran Karina dan adiknya. Namun, didikan sang ayah membuat mereka tetap menjadi orang yang rendah hati dan bisa tinggal di mana saja.

Ruang ICU RSI Klaten
Karina pun sekarang dalam keadaan Koma, terbaring lemah tak berdaya di ruang ICU RSI Klaten. layaknya putri tidur yang menunggu pangeran membangunkannya. Menurut berita yang beredar pihak POLRI sebenarnya berencana memindahkannya ke RS POLRI Pusat Kramatjati, dengan keamanan tingkat tinggi.
   Namun sebulan berlalu, Karina masih terbaring di sini dan dengan pengamanan yang ketat pula. Dokter, perawat ataupun yang besuk tak terkecuali Tiara dan kedua anak Karina, semua mendapat penggeledahan sebelum masuk. Awalnya semua heran, namun akhirnya setelah mendapat penjelasan, semua  maklum.
   Hari ini aku menjenguk Karina, kegiatan rutin tiap hari Rabu dan Sabtu yang ku lakukan sejak ia  kecelakaan. Awal dulu saya sempat kesel, jengkel dengan adanya pengamanan kelas satu ini. Namun akhirnya aku memahaminya, ini semua demi keamanan Karina dan keluarganya, entah apa alasannya. Dan Sejak kecelakaan itu Tiara dan 2 ponakannya juga mendapat pengawalan dan penjagaan kemanapun mereka pergi.
   6 bulan Kemudian
   Desember datang, membawa bunga-bunganya yang bermekaran. Hujan pun masih enggan beranjak dan setia menemani Karina di ruang Perawatan VVIP RSI Klaten. Lentik jemarinya mulai menari dalam buku harian yang selalu terletak di dekatnya untuk berbicara dengan perawat dan kedua buah hatinya.
   Sesekali Karin menuliskan sebuah lagu yang ia ingin  dengarkan dari notebook yang sengaja di bawakan Tiara. Kali ini lentera Cinta nicky astria menjadi pilihannya. Dan sudah berapa kali lagu itu dia replay, terkadang diganti dengan aransemen baru oleh Pia(uthopia). Penjaga di pintu kamar Karin pun sampai hafal dengan lagu itu. Matanya menerawang, entahlah kemana ia mengembarakan pikirannya. Mungkin terbang ke masa-masa indahnya bersama sang Mayjen. Ada senyum di sungging bibirnya, dan ada airmata bahagia di sudut kerlingnya.
   Ia menulis di bukunya, “aku tidak pernah suka lagu ini, tapi begitu lagu ini dia nyanyikan, malah aku yang ketagihan, sampe sekarang , tapi sayang aku belum bisa menyenandungkannya lagi.
   Setiap hari Karin melakukan terapi untuk menyembuhkan pita suaranya, dan melatih otot-otot di lehernya. Buat Karin ini adalah kesempatan hidup yang kedua, yang Allah berikan kepadanya. Di awal-awal kepulihan kondisinya ia tidak mengerti apa yang terjadi, namun lambat laun ingatannya kembali menayangkan rangkaian kejadian setengah tahun yang lalu itu. Dan dengan adanya penjagaan di ruang perawatannya, Karin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
   Dalam keterbatasan komunikasi ia ingin sekali mengatakan, menyampaikan sesuatu tentang kaitan semua hal tersebut. Namun belum memungkinkan untuknya mengatakan semuanya. Karinpun berpasrah memohon supaya suaranya di kembalikan secepatnya dalam keadaan sebaik-baiknya.
  
8 bulan kemudian
   Suara Karina sudah mulai kembali, meski belum sesempurna dulu, namun sudah ada yang dapat di dengar ketika ia bicara. Hampir setiap hari ada saja pihak militer yang berkunjung mengumpulkan keterangan atas kejadian yang menimpa Karina dan kedua buah hatinya.
  
   12 bulan kemudian
   Di sebuah rumah sederhana nan asri sang ibu menuturkan sesuatu yang ditunggu kedua buah hatinya selama hampir sepuluh tahun.
   Bunda tidak pernah bertemu ayah kalian lagi sejak kita pindah ke klaten ini. Namun semua itu pasti dia lakukan dengan alasan yang sangat kuat. Karena tidak ada orang tua manapun tega  dengan hatinya sendiri untuk menelantarkan amanah yang Allah berikan, tidak menengoknya tidak juga ayahmu. Tidak ada orang tua yang tidak sayang dan merindukan buah hatinya, tidak ada ayah yang tidak ingin bertemu permata hatinya, kalian tanamkan itu baik-baik.
   Meski, selalu ada kiriman uang namun tidak pernah bisa di lacak dari mana di kirim, bunda yakin, darimanapun transferan itu masuk, itu dari ayah kalian Wirya Surya atmaja.
   Bunda sudah mencoba googling di internet, mencari keberadaan ayahmu, dengan menggunakan semua kata kunci yang memungkinkan. Tapi,  nol, belum ada hasil. Tapi, kalian tidak usah khawatir, bunda akan menemukannya.
Satu hal yang ingin bunda tegaskan, apa yang terjadi saat itu semua tidak seperti yang terlihat atau kalian dengar di berita, kabar yang sebenarnya sudah di distorsi untuk kepentingan yang lebih besar.
2 tahun setelah kecelakaan
   Jumat jam 06.00 pagi, Embun masih setia menyapa di sela dedaunan padi dan daun-daun jati yang memayungi sepanjang jalan Bayat-Cawas. Mataharipun masih enggan mengintip, dan dengan kantuknya  bersembunyi di balik selimut  mega pagi  dengan sedikit menyembulkan semburatnya. Jalanan pagi itu juga belum terlalu ramai.   Karina melaju  menuju stasiun Balapan, mengejar Lodaya yang akan meniti rel menuju Bandung jam 08.30 pagi  untuk menyusuri kembali jejak sang suami.

Comments

Post a Comment

Tinggalkan tanggapan, pertanyaan di sini, kami akan segera meresponnya.