Ketika Payung Terlambat Dibeli


Siang kemarin, sebuah nomor dari salah satu nasabah PT Takaful Keluarga menelpon,

"mba, anak ku R kecelakaan di sekolah, kakinya fraktur (patah tulang) dan harus di operasi, bisa tidak pakai asuransinya anakku yg satunya? Padahal aku bulan depan berencana nambah polis untuk kesehatan, biarpun mesti menyisihkan tiap hari."

"Maaf, mba ga bisa, selain itu polis ata

s nama N, juga polis tabungan pendidikan, bukan Personal Accident (PA) atau Kesehatan."

"Coba mba diusahakan pengajuan PA."

Dengan tidak ingin mengecewakan, sayapun menanyakan pengajuan PA yg sudah saya ketahui, PA tidak bisa mengcover kejadian yg sudah terjadi. Karena Kita tidak pernah tahu jika tidak mencoba, apakah bisa atau tidak.

Alhasil, benar...TIDAK BISA. PA Hanya mengcover kejadian yg akan datang, begitu juga umumnya semua produk asuransi.

Pilu sebenarnya hati, saya tahu benar kemampuan nasabah saya tersebut, dia yg benar-benar butuh asuransi. Harapan saya dia di cover JAMKESDA. Ternyata, TIDAK TERDATA oleh Jamkesda, karena tinggal di RUSUN. Aneh...

Otak Saya yg Alhamdulillah agak, agak lho..Encer, ingat akan guru ngaji saya yg juga seorang ketua komisi di DPRD tempat si nasabah saya tinggal.

Dengan Meminta bantuan beliau, si nasabah saya alhamdulillah bisa mengajukan JAmkesda dan sudah mendapatkan penjaminan secara personal dari Direktur RS tersebut.

Nasabah saya pun bertekad untuk merealisasikan proteksi kesehatan/PA, karena dia sudah merasakan salah satu resiko yg tidak pernah ia duga sebelumnya.

Yaa..begitulah, ibarat payung, ketika terlambat di beli, basahlah kita terkena hujan, masih alhamdulillah jika hanya hujan rintik, jika hujan deras, maka basahkuyulah kita.

Alhamdulillah BISA DI GUNAKAN JIKA ADA MUSIM HUJAN LAGI.

BEGITU JUGA ASURANSI, IA HANYALAH PAYUNG YANG HARUS KITA SEDIAKAN, entah hujan DATANG ATAU TIDAK, karena kita tidak pernah tahu. #truestory.

Comments