Beginilah Analogi Ucapan Selamat Natal

Muslim : bagaimana natalmu ?

Cristian : baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku?

Muslim : tidak, agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu, tapi masalah ini, agama saya melarangnya.

Cristian : tapi kenapa, bukankah hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yg lain, mengucapkannya padaku ?

Muslim : mungkin mereka belum mengetahuinya.  David, kau bisa mengucapkan dua kalimat syahadat ?

Cristian : oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya, Itu akan mengganggu kepercayaan saya.
Muslim : kenapa? Bukankah hanya kata-kata? Ayo, ucapkanlah.
Cristian : sekarang, saya mengerti.



Kadang tidak mudah menjelaskan hal ini kepada anak-anak kita, dengan hanya mengatakan, agama kita melarangnya. Semoga contoh dialog simple yang saya copas dari salah satu teman FB, "didi gempur"bisa bermanfaat utk menjelaskan secara mudah.

Pandangan Islam Terhadap Asuransi

Kewajiban berasuransi dalam Islam dalam Alqur'an dan Hadits Nabi memang tidak terdapat satu katapun yang mengharuskan umat untuk berasuransi, karena asuransi adalah kegiatan mua'malah yang datang kemudian setelah Zaman Nabi Muhammad Saw. 

Namun ada beberapa perintah dari Alqur'an dan hadits yang dalam teknik pelaksanaannya sangat dimungkinkan agar umat khususnya umat Islam mengambil Langkah agar berasuransi. perintah perintah tersebut sangat berkaitan kepada kemaslahatan umat manusia itu sendiri agar senantiasa ;
• Menjaga dirinya
• Menjaga Keluarganya dan saudara sesama Muslim
• Menjaga Hartanya
• Mempersiapkah hari depannya
• Memelihara Agamanya

Sebagaimana firman firman Allah Swt dan Hadits Nabi Muhammad Saw Berikut :

1. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Al-Hasyr : 18)
2. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.(Annisa : 9)
3. "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya." Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur." (Yusuf : 46 – 49)
4. Dari Sa'd bin Abi Waqas ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "... Sesungguhnya engkau jika meninggalkan anak-anakmu dalam keadaan kaya (berkecukupan) adalah lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam kondisi miskin meminta-minta pada manusia. Dan sesungguhnya tidaklah engkau memberikan nafkah kepada keluargamu dengan tujuan mengharap keridhaan Allah SWT, melainkan akan Allah berikan pahala atasnya, bahkan suapan yang engkau suapkan ke mulut istrimu..." (HR. Bukhari)
5. Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang membantu menghilangkan kesulitan dunia seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan kesulitannya pada hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan urusan seorang muslim, maka Allah akan memudahkan urusannya pada hari kiamat. (HR. Muslim)
6. Dari Nu'man bin Basyir ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta, kasih sayang dan kelemah lembutan diantara mereka adalah seumpama satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh ada yang sakit, maka anggota tubuh lainnya juga turut merasakannya, (seperti) ketika tidak bisa tidur dan demam." (HR. Muslim)
7. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya, Al-Maidah : 2
8. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?,Itulah orang yang menghardik anak yatim,dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin .Al Maa'uun (1-3) 

Ayat Alqur'an dan Hadits di atas mengisyaratkan:

• Pentingnya perencanaan untuk hari esok (sesuai nomor 1 dan 3)
• Pentingnya merencanakan kesejahteraan untuk keluarga (sesuai dengan nomor 2 dan 4)
• saling tolong menolong antar umat dalam meminimalisikan resiko (sesuai dengan nomor 5-8 diatas). Dan kesemuanya bisa diwujudkan dalam suatu program perencanaan keuangan yang dinamakan Asuransi syariah.

Kenapa harus ber-takaful -berta'awuun?

Asuransi syariah adalah konsep kegiatan perencanaan keuangan:
• Yang memanajemen resiko kehilangan nilai guna dari diri,harta,akal dan kemaslahatan umat
• berbasis tolong menolong antar pesertanya bukan antar peserta dengan perusahaan Asuransi,
• serta bebas dari unsur unsur gharar,Maisir,Riba dan yang diharamkan oleh Allah swt,
• dan dibuat secara melembaga dan sistematis.

Seorang peserta Asuransi Syariah berarti dia menolong orang lain dan sekaligus menolong dirinya sendiri. Jadi bergabunglah dengan Asuransi syariah ,jadilah bagian dari komunitas umat yang saling tolong menolong antar yang satu dengan yang lainnya.

Referensi bacaan tentang Hukum Asuransi Dalam Islam dan Fatwa MUI:

Dan masih banyak lagi Link-Link baik dari ulama yang setuju atau berbeda pendapat tentang asuransi syariah, yang menggunakan akad dan pengelolaan premi dg Wakalah Bil Ujroh dan Mudharabah Musytarakah.

Semua Kembali ke keyakinan masing-masing.

Hitam Putih Kehidupan

1|Hidup bukanlah sekedar menjalani garis hidup ataupun takdir, tapi bagaimana kita mengisi lembaran demi lembaran. Dunia ini tidak hanya berisikan hitam dan putih, di sana juga terdapat abu-abu.


November 28 at 5:23pm   Friends Only • LikeUnlike • Comment • View Feedback (19)Hide Feedback (19)

28 November 2010, terinspirasi oleh status-status Facebook seorang teman (Rudi Gints, https://www.facebook.com/R.gints) yang rajin sekali membuat status dengan “part” berisi motivasi dan liku-liku hidup, saya pun meng ATM (amati-tirukan-modifikasi)-nya.Sedihnya, ternyata saya baru tahu beberapa saat yg lalu, saya sudah unfren dengan beliu. Tak apalah saya add lagi, semoga di accept. Menuliskan berbagai pemikiran yang muncul ketika melihat sesuatu ataupun cerita yang saya dengar/dengarkan, saya berbagi sesuatu menurut sudut pandang dan pendapat yang saya ketahui.

Update status Facebook pertama, terinspirasi atas bagaimana tidak mudahnya terkadang memilah antara yang halal dan yang haram, meski rule aturan atas kedua hal tersebut begitu jelas baik dalam al quran ataupun hadist, juga ijtihad para jumhur ulama, ternyata kadang saya dan sebagian kita yang terkecoh ketika hitam dan putih (haram dan halal) bercampur atau tercampur dan menjadi subhat (abu-abu).

Saya berpikir, bahwa akhirnya hidup itu tidak hanya berjalan lurus menjalani rutinitas, tetapi perlu kehati-hatian dalam menapakinya, karena ada hal yang tidak pernah kita sadari, ketika menjadi abu-abu.

Ketidakjelasan itu terkadang membuat sebagian orang berputus asa dan tidak peduli, mungkin dengan kekuatan doa mengharap ridhlo Allah, menjadi putih-jelas-halal.

Selalu ada harapan, jika Allah masih Tuhan yang kita imani. 


Perbedaan Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah Takaful

Dalam Asuransi Konvensional : masing-masing kita-kita (peserta) menyetorkan premi kepada Perusahaan A. Ketika terjadi resiko, A membayarkan sejumlah uang kepada kita (artinya uang perusahaan A berkurang, perusahaan mengalami kerugian jika terjadi klaim, nasabah untung), jika tidak terjadi resiko (meninggal, dll sesuai kesepakatan), setoran premi menjadi milik si A (artinya A untung dan peserta rugi). 


Asuransi Syariah : masing-masing peserta iuran dan di kumpulkan di perusahaan B dan di kelola. Seperti uang yang kita-kita berikan secara ikhlas kepada tetangga yang terkena musibah meninggal misalnya, ada yang ngamplop 20rb, 100rb, dll, di titipkan melalui melalui pemegang kas RT (Perusaahaan B), ada musibah, kas di keluarkan untuk memberi santunan, tidak ada musibah, premi tetap menjadi uang kas. Bukan menjadi Milik B, B hanya sebagai pemegang amanah. Jadi sesama peserta saling menolong "Ta'awuun".

Penghargaan PT Takaful Keluarga - Life Insurance



Terima kasih Atas kepercayaan yang telah anda berikan..................

Kepercayaan ini akan terus kami jaga sebaik-baiknya......................

Recent

PROFIL FINANCIAL PLANNER - ILA ABDULRAHMAN

ILA ABDULRAHMAN, S.Pt., RIFA, RFC Siti Ruhailah Abdulrahman, S.Pt., RPP, RFA,   RIFA, RFC atau yang dikenal dengan Ila Abdulrahman, ad...

Baca Juga