MEMBAHAGIAKAN ORANG TUA, DARI POS MANA?



ILA ABDULRAHMAN - AIDIL AKBAR MADJID & PARTNERS

Mengelola keuangan rumah tangga, sebaiknya tetap mengalokasikan untuk orang tua, ataupun saudara yang membutuhkan. Dalam hal orang tua berkecukupan, anda dapat menyimpannya dan memberikannya suatu saat sesuai kebutuhan orang tua. 

Jika orang tua dalam kondisi tidak berkecukupan, sebesar apapun orang tua akan bahagia menerimanya, sebagai bentuk bakti dan perhatian. Lebih bagus lagi jika sebagai anak, jangan sampai orang tua nembung” atau minta, sebelum orang tua minta anak sudah faham, sudah tahu bahwa orang tuanya butuh.

Ingat, orang tua rata-rata meski tidak semua, tidak mengharapkan kiriman, balas budi dari anaknya, namun mereka akan sangat bahagia sekali, ketika menerima jerih payah anaknya baik dalam bentuk, hadiah, sedekah, sosial yang diatas namakan orang tua. Mereka bahagia ternyata hasil mereka mendidik, menyekolahkan, sebagai bentuk kewajiban orang tua terhadap anak ada wujudnya, selain kunjungan rutin baik dalam bentuk fisik datang, maupun suara dalam bentuk telepon.

Dari pos mana alokasi  untuk orang tua ini dan berapa besarannya? 

Secara umum pembagian pendapatan atau gaji terbagi dalam 5 pos, dalam Internal SHILA Financial disebut 5 pilar kebutuhan keuangan, yaitu : Sosial, membayar Hutang, Investasi, biaya hidup atau Living Cost dan pos Asuransi dan atau dana darurat (SHILA). 

Memberi adalah perbuatan sosial terlepas memberi kepada siapa. Pos sosial sendiri ada beberapa macam baik yang bersifat wajib ataupun bersifat kerelaan :

Sedekah
Sedekah adalah segala kebaikan yang kita lakukan, baik dengan harta atau sekedar dengan perbuatan melalui anggota badan. Senyum itu sedekah, membantu kesulitan orang lain juga sedekah, menyingkirkan batu di jalan juga sedekah, dan segala jenis kebaikan yang lainnya.

Infaq
Infaq adalah sedekah yang dalam bentuk harta benda. Hukum infaq adalah sunnah. Tidak ada batasan jumlah dalam berinfaq, semampunya. 

Zakat
Zakat adalah sedekah yang wajib, sedekah yang ditarik, merupakan sebuah kewajiban bagi seseorang muslim yang sudah memenuhi kriteria yaitu waktu dan jumlah (nisab) yang sudah ditentukan, dan diberikan kepada golongan tertentu ; Fakir, Miskin, Amil, Muallaf, Gharimin, Riqab, Ibnu Sabil dan  Fi Sabilillah. Menunaikan atau membayar zakat hukumnya wajib seperti kewajiban mengerjakan shalat, puasa, dan haji.

Wakaf
Wakaf merupakan sedekah  dalam bentuk aset, bisa berupa uang, tanah, rumah, gedung, rumah sakit, hotel, masjid, dan bangunan produktif lainnya, yang nilainya terus meningkat dan dimanfaatkan untuk kepentingan sosial.

Nah, memberi orang  tua termasuk kedalam pos sedekah  yang sifatnya tidak wajib, jika orang tua dalam keadaaan mampu. Namun, jika orangtua  dalam keadaaan tidak mampu, merupakan kewajiban yang harus ditanggung oleh anak. 

Dari pos mana dikeluarkan? Masalahnya kemudian bahwa jumlah yang dialokasikan lebih kecil dari yang dibutuhkan orang tua, apalagi jika orang tua memiliki gaya hidup yang masih sama dengan saat produktif, padahal tidak didukung dengan persiapan dana pensiun.  Nah, dalam kondisi seperti ini harus bagaimana?

Silakan dari pos sosial dan jika masih kurang, ditambah dari pos  cicilan hutang,  jika tidak memiliki hutang. Namun jika memiliki cicilan, sebaiknya diambilkan dari pos biaya hidup  dan otomatis biaya hidup Anda pribadi harus  disesuaikan.

Urutan prioritas bersosial adalah dari lingkungan terdekat. Jika lingkungan terdekat sudah berkecukupan semua, maka sah-sah saja bersosial kepada yang jauh, seperti palestina, rohingya, ataupun tragedi kemanusiaan yang lain. Secara sederhana dalan bersosial lihat obat nyamuk bakar, dan Anda berada ditengah, sedekah dari yang terdekat. 

Sila Konsultasikan rencana keuangan Anda, maupun mengadakan pelatihan atau seminar seputar perencanaan Keuangan, bersama ahlinya. Salam SHILA FINANCIAL.

artikel telah diterbitkan di detik finance.

KELUARGA MUDA , PERLU BERHATI-HATI DENGAN FASILITAS DARI ORANG TUA

Sudah menikah namun masih kekanak-kanakan, “disuapin” orang tua atau masih menggantungkan hidup dari support orang tua, salah satunya support finansial, dalam bahasa kekinian disebut dengan kid-parents.

Salah satu hal yang menjadi pertanyaan dalam pembuatan bookplan adalah,”biasa mengalokasikan berapa untuk orang tua dan mertua?”
Jawaban beragam,
· rutin mengalokasikan dan memberikan,
· mengalokasikan namun disimpan dalam rekening tersendiri, karena baik orang tua maupun mertua berkecukupan,
· tidak mengalokasikan secara rutin, hanya jika ortu minta baru dikasih
· Tidak mengalokasikan malah menerima bantuan dari orang tua secara rutin.

Poin 3 pertama wajar-wajar saja, perlu waspada adalah pada poin keempat. Jika sudah biasa menggantungkan keuangan kepada orang tua, maka jika tidak mulai diantisipasi, akan menjadi biang permasalahan, seperti perselisishan diantara saudara dan beban di kemudian hari ketika dana itu terhenti, karena tidak ada sesuatu yang abadi baik harta maupun usia.

Beberapa hal bisa dilakukan untuk tidak biasa menggantungkan pada pemberian oarang tua meski itu hanya sepersekian persen dari pendapatan keluarga .

Menyimpan
Pemberian orang tua bisa disimpan dalam rekening tersendiri, yang bisa digunakan suatu saat jika orang tua membutuhkan, Misalnya orang tua sakit dan butuh biaya tambahan, memperbaiki rumah orang tua, membiayai orang tua wisata, hadiah ulang tahun, biaya pemakaman dan membayar hutang-hutang jika orang tua tidak meninggalkan harta warisan lagi dan lain sebagainya.

Menggunakannya untuk Sosial

Uang pemberian orang tua dapat dialokasikan ke dalam kegiatan sosial seperti pembangunan masjid, menyantuni kaum fakir, panti asuhan dan lain sebagainya sebagai tabungan orang tua dalam bentuk infak, sedekah atau derma atau perpuluhan.

Membaginya dengan Saudara yang lain

Fakta di lapangan, bahwa orang tua sering memiliki kecenderungan kepada salah satu anaknya, sehingga memberi lebih kepada anak yang dicenderungi tersebut. Hal ini seringkali berpengaruh pada perasaan anak lain baik yang merasa diberi lebih sedikit atau lebih banyak dari orang tua.

Menghindari kesenjangan ini, yang merasa lebih, baik lebih karena penghasilan sendiri atau lebih dari pemberian orang tua bisa membaginya kepada keponakan dalam bentuk tabungan, biaya sekolah atau mengumpulkan pemberian tersebut dalam rekening penyimpanan seperti dalam opsi pertama.

Penting adalah keterbukaan dengan saudara, agar mengurangi potesi konflik di kemudian hari seperti yang sat ini banyak terjadi, “ kamu kan menerima dari bapak lebih banyak, ya sekarang kamu harusnya iuran lebih banyak untuk biaya rumah sakit bapak.” Salah satu contohnya seperti itu.

Pemberian orang tua dalam ini bukan pemberian pada momen-momen khusus, seperti lebaran, natal ataupun momen hadiah ulang tahun,karena sifatnya hanya sesekali .

Tetap Alokasikan Untuk Orang Tua
Mengelola keuangan rumah tangga, sebaiknya tetap alokasikan untuk orang tua. Dalam hal orang tua berkecukupan, anda dapat menyimpannya danmemberikannya suatu saat sesuai kebutuhan orang tua. 

Jika orang tua dalam kondisi tidak berkecukupan, sebesar apapun orang tua akan bahagia menerimanya, sebagi bentuk bakti dan perhatian. Lebih bagus lagi jika sebagai anak, jangan sampai orang tua nembung” atau minta, sebelum orang tua minta anak sudah faham, sudah tahu bahwa orang tuanya butuh.

Contoh sepele, seorang teman saya memiliki orang tua yang di masa pensiunnya tetap menggarap sawah.  Musim kemarau tiba, yang  lumayan panjang, anomali di banding tahun-tahun sebelumnya.
Si anak menelpon bapaknya,” Bapak perlu pompa baru untuk mengairi sawah?”

“iya Nak, alhamdulillah, terimakasih…..,” sambil diriingi doa yang panjang.
Itu salah satu contoh, bentuk kecil pemanfaatan dana alokasi untuk orang tua.

Ingat, orang tua rata-rata meski tidak semua, tidak mengharapkan kiriman, balas budi dari anaknya, namun mereka akan sangat bahagia sekali, ketika menerima jerih payah anaknya baik dalam bentuk, hadiah, sedekah, sosial yang diatas namakan orang tua. Mereka bahagia ternyata hasil mereka mendidik, menyekolahkan, sebagai bentuk kewajiban orang tua terhadap anak ada wujudnya, selain kunjungan rutin baik dalam bentuk fisik datang, maupun suara dalam bentuk telepon.

Dari alokasi pos untuk orang tua ini dan berapa besarannya? Simak dalam artikel selanjutnya.
Nah, sudahkah kita mengalokasikan pendapatan untuk orang tua?

Sila Konsultasikan rencana keuangan Anda, maupun mengadakan pelatihan atau seminar seputar perencanaan Keuangan, bersama ahlinya. SHILA FINANCIAL,

 Salam Financial , semoga bermanfaat


ILA ABDULRAHMAN, S.Pt. RIFA, RFC - AIDIL AKBAR MADJID & PARTNERS

Artikel relah diterbitkan di detik finance.



WAKAF DALAM PERENCANAAN KEUANGAN



Yang menjadi milik kita itu hanya 3: apa yang kita makan,   yang kita pakai dan yang kita sedekahkan.”

Dalam perencanaan keuangan islami atau berdasarkan agama Islam ada 3 hal pokok yang harus dilakukan terhadap rezeki yang berupa kekayaan baik uang, maupun harta benda lainnya, yaitu mengeluarkan hak Allah berupa Zakat, membayar hak orang lain atau kewajiban kita terhadap orang lain biasanya berupa hutang, dan yang ketiga adalah membayar hak kita, yang berupa  hak  dan kewajiban kita di masa depan baik di dunia maupun di akhirat kelak dan hak kita di saat ini berupa biaya hidup sehari-hari. 

Setelah menyiapkan investasi untuk kewajiban sebagai diri sendiri daan sebagai orang tua, yaitu kewajiban terhadap anak, baiknya di akhir perencanaan keuangan di lengkapi dengan perencanaan wakaf. Mengapa perlu merencanakan wakaf? Karena ketika kita sudah tidak ada lagi di dunia ini, hanya 3 haal yang akan menemani kita di alam barzah kelak yaitu :
· Doa anak yang sholeh sholehah
· Ilmu yang bermanfaat dan,
· Sedekah jariyah (wakaf)

Setelah menyiapkan pendidikan terbaik untuk anak-anak, semoga mereka menjadi anak yang sholeh, sholehah, kemudian kita menyebarkan ilmu yang dimiliki, maka disempurnakan dengan infaq/sedekah jariyah berupa wakaf yang pahalanya akan terus mengalir.

Ketika membicarakan atau mendengar kata “wakaf" sebagian masyarakat berpikirnya masjid, mushola, pesantren tahfidz, tanah makam, panti asuhan dsb, yang secara angka membutuhkan nominal dana relatif besar. Padahal wakaf tidak harus dalam bentuk yang selalu besar. Anda menyumbang pembangunan masjid dengan ikut serta membeli semen sudah termasuk wakaf. Anda membangun sebuah fasilitas mck di daerah terpencil juga sudah termasuk wakaf. Perencanaan dana wakaf dan dana apapun disesuaikan dengan pendapatan  masing-masing orang. Jika alokasi investasi wakaf sebesar Rp 300ribuan per bulan ya jangan merencanakan wakaf yang membutuhkan Rp 500ribu per bulan atau lebih. Benar bahwa investasi akherat itu penting karena itu yang akan menemani Anda di alam nanti, namun tidak semata-wakaf kan, masih ada anak yang sholeh, ilmu yang bermanfaat dan sedekah-sedekah lainnya. 

Atau jika dari rencana ternyata perlu alokasi investasi yang besar melebihi ketersediaan dana, maka cukup di turunkan standar  wakafnya. Misal tadinya mau berwakaf pesantren tanfidz dengan pengelolaan secara mandiri lengkap dengan lahan dan bisnis produktif, butuh dana saat ini Rp 2M bisa di turunkan standarnya dengan berwakaf pesantren tanfidz dengan pengelolaan di serahkan kepada badan wakaf yang telah berpengalaman dengan dana saat ini Rp 500 jutaan. Otomatis alokasi investasi yang dibutuhkan juga turun.

Dari manakah alokasi investasi untuk wakaf? Bisa diambilkan dari pos investasi, asal tidak mengganggu jalannya kewajiban yang lain. Misal yang tadinya berencana sekolah full day, akhirnya  ke sekolah biasa yang tidak tidak fullday. Namun semua kembali kepada kebijakan keluarga masing-masing dimana prioritas sebuah rencana keuangan ditempatkan. Ingat hidup tidak hanya wakaf namun juga  memberikan kehidupan yang layak untuk keluarga baik saat masih hidup dan sudah meninggal adalah kewajiban.
Jadi dimanakah letak perencanaan wakaf dalam perencanaan keuangan? Ia menempati urutan atau prioritas  setelah :

  1.  Zakat
  2. Kebutuhan pokok sandang pangan papan
  3. Dana darurat
  4. Kewajiban terhadap anak : memberi nama yang baik (aqiqah), mendidik (perencanaan pendidikan, formal non formal), menikahkan ( perencanaan pernikahan anak)
  5. Perencanaan haji, rukun Islam ke- 5
  6. Perencanaan pensiun, agar saat pensiun tidak merepotkan anak dan tetap bisa hidup dengan standar seperti saat produktif termasuk beramal sedekah tidak berkurang.
  7. Perencanaan wakaf.

Nah, jika Anda muslim dan sudah merencanakan travelling dan liburan dan lain-lain yang sifatnya additional, belum afdol jika perencanaan wakaf ternyata belum ada dalam bookplan Anda. 

Berapapun penghasilan rezeki yang diberikan Allah itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sesuai dengan standar penghasilan tersebut, namun akan selalu kurang jika hidup dijalani dengan standar penghasilan yang diatasnya. 

Hiduplah sesuai dengan kebutuhan, sehingga keinginan akan terencana dengan baik. Salam Financial!.

Ila Abdulrahman S.Pt., RIFA, RFC
Artikel telah di terbitkan diterbitkan di detik finance.

Recent

PROFIL FINANCIAL PLANNER - ILA ABDULRAHMAN

ILA ABDULRAHMAN, S.Pt., RIFA, RFC Siti Ruhailah Abdulrahman, S.Pt., RPP, RFA,   RIFA, RFC atau yang dikenal dengan Ila Abdulrahman, ad...

Baca Juga