5 ALASAN MENGAPA DANA DARURAT HARUS DIUPDATE BERKALA


Ila Abdulrahman

Dana Darurat atau Emergency Fund biasa juga disebut, penting dalam keuangan keluarga, menempati urutan kedua setelah melunasi hutang-hutang jahat alias hutang konsumtif, terutama untuk mengantisipasi kebutuhan dana dalam kondisi yang darurat.

Seperti apa kondisi darurat itu? Jika sedang jalan-jalan di pusat perbelanjaan atau window shopping, lalu ada diskon dan ingin beli, padahal tidak ada budget, ini bukan kondisi darurat ya. Atau sedang servis mobil melihat ada aksesoris baru, ini juga bukan kondisi darurat.

Kondisi darurat seperti : sakit dan tidak punya asuransi, ada keluarga (orang tua) yang sakit atau meninggal, PHK, kecelakaan, pernikahan yang dilaksanakan satu tahun mendatang, atap rumah roboh, menabrak pagar tetangga dan lain-lain.

Besaran kebutuhan dana darurat antara single dengan yang sudah berkeluarga akan membutuhkan jumlah yang berbeda. Pasangan pengantin baru dengan pasangan yang sudah memiliki anak juga akan berbeda kebutuhan dana daruratnya. Tergantung dari jumlah tanggungan, jenis pekerjaan dan tingkat kenyamanan yang diinginkan. Bisa jadi Anda single hanya butuh dana darurat 3 kali pengeluaran, namun Anda nyaman dengan 5 kali gaji, maka tidak menjadi masalah. Secara umum, besaran kebutuhan dana darurat yang disarankan adalah;
1.        single, tidak punya tanggungan, 4 kali pengeluaran
2.        menikah memiliki 1-2 anak atau single dengan 3 tanggungan, 6-9 kali pengeluaran
3.         menikah memiliki 3 anak atau lebih, atau single dengan 4 tanggungan atau lebih,  9 – 12 kali pengeluaran,
atau tergantung kenyamanan Anda masing-masing, dengan catatan bahwa angka diatas adalah batasan minimal.

Dana darurat ini harus rutin direview setidaknya setahun sekali, apakah harus ditambah, tetap atau perlu dikurangi. Faktanya jarang yang turun jumlahnya, yang ada adalah harus ditambah secara rutin. Berikut beberapa alasan mengapa dana darurat harus direview.

Terjadinya Inflasi

Kenaikan biaya hidup, akibat kenaikan harga- harga barang atau inflasi, menyebabkan naiknya pengeluaran. Pengeluaran yang naik, otomatis jumlah dana darurat yang harus dibentuk juga ikut naik, disesuaikan dengan tingkat inflasi atau angka pengeluaran. Misalkan inflasi sebesar 20%, maka dana darurat perlu ditambah minimal sebesar 20%.

Contoh jika saat ini anda single tanpa tanggungan dengan jumlah dana darurat 4 kali pengeluaran rutin per bulan total  sebesar Rp 40 juta,  dengan inflasi 20% ditahun ini, maka total dana darurat terbaru menjadi Rp 48 juta.

Perubahan Jumlah Tanggungan

Dana darurat perlu direview karena kemungkinan bertambah atau berkurangnya jumlah tanggungan. Perubahan jumlah beban tanggungan mempengaruhi perubahan jumlah pengeluaran rutin, sehingga mempengaruhi jumlah dana darurat yang harus dibentuk.

Jumlah tanggungan berubah karena kelahiran atau  natatlitas, mortalitas, atau adanya anggota baru selain kelahiran di rumah Anda. Misal, sekarang bertambah adanya Home Asisten (HA), yang tahun sebelumnya tidak menggunakan jasa HA atau ada keponakan yang melanjutkan kuliah dan tinggal bersama Anda dan lain sebagainya.

Naiknya Penghasilan Diiringi dengan Naiknya Pengeluaran

Naiknya penghasilan biasanya mempengaruhi naiknya pengeluaran, sehingga jumlah dana daruratpun harus disesuaikan dengan pengeluaran yang baru.

Mengapa dasar penghitungannya adalah pengeluaran, dan bukan penghasilan? Mengapa hayo?

Perubahan Status

Perubahan status, misal dari single menjadi menikah, atau sebaliknya, dari menikah menjadi melajang lagi, membutuhkan penyesuaian ketersediaan dana darurat yang harus dibentuk. Besarannya dapat mengikuti panduan umum diawal artikel. Khusus dalam status melajang lagi bisa disertakan dana darurat untuk emotional cost yang biasanya menerpa orang-orang dalam posisi lajang kedua, alias cerai hidup.

Lama Tidaknya Mendapatkan Pekerjaan Kembali,

Alasan lain mengapa harus mereview dana darurat, karena sangat mungkin seiring waktu jenis pekerjaan mulai banyak saingan dan tergerus waktu. Dunia beralih dari tenaga manusia menjadi tenaga robot, sistem konvensional menjadi sistem digital. Mungkin 5th-10 th yang lalu, kita adalah satu dari sekian ekspertis dalam bidang kita, namun seiring waktu, bidang tersebut sedikit yang membutuhkan. Dampaknya adalah, ketika terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), butuh waktu lebih lama dibanding ekspertis langka, yang pagi di PHK, sore sudah dipinang perusahaan lain, seperti teknisi serat optik bawah laut, teknisi otomatisasi mesin-mesin.

Dana Darurat yang tadinya hanya butuh 3-4 kali pengeluaran perbulan, disesuaikan, mungkin menjadi 9-12 kali pengeluaran atau lebih.

Bagaimana Jika Kondisi Darurat Tiba, Padahal Belum Update Jumlah Dana Darurat?

Anda tahu film The Martian, yang diperankan oleh Matt Damon? Film ini menceritakan seorang astronot yang terjebak tertinggal di Mars, dengan persediaan makanan yang terbatas.

Dalam film tersebut digambarkan bagaimana Mark Watney mulai berhitung cadangan makanannya, yang sedianya untuk cadangan 68 sol (hari di mars) untuk 6 orang diadjustment sepanjang mungkin,sehingga cukup sampai 400 sol. Hal berikutnya yang dia lakukan untuk bertahan hidup adalah memanfaatkan potensinya sebagai ahli botani, bertanam kentang di Mars untuk hidup selama 3 tahun, saat  proyek Ares berikutnya diluncurkan ke Mars.

Dua pelajaran dari film tersebut adalah, pertama menyesuaikan gaya hidup dengan ketidakpastian kapan makanan ada lagi, sambil mengerahkan kemampuan untuk menambah sumber makanan. Begitulah salah satu hal yang bisa diterapkan dengan dana darurat kita,  dimana ketika belum menambah ketersediaan dana darurat, yang dapat dilakukan  memperkecil penggunanan  untuk memperpanjang waktu. Misal biasanya alokasi belanja per hari Rp 100ribu, diperkecil menjadi Rp 75 ribu misalnya. Dengan begitu dana darurat yang sedianya untuk kebutuhan hidup selama 3 bulan, bisa diperpanjang untuk bertahan hidup sampai 4 bulan, sampai mendapatkan pekerjaan kembali.

Pelajaran kedua yang dapat dilakukan adalah menambah sumber penghasilan dari passion, hobi atau skill yang dimiliki, contoh sederhana seperti yang pernah dibahas di grup telegram t.me/seputarkeuangan, menjadi suplayer kemangi bagi warung-warung pecel lele. 1 Ikat kemangi Rp 500,-, per warung pecel lele butuh sekitar 20 ikat, hari buka warung 25 hari. Budidaya bida memanfaatkan halaman rumah. Nah, bisa dihitung kan potensi penghasilannya?  . Mau coba ahh.

Nah, update segera ya dana daruratnya, agar tak perlu menjadi Mark Watney. Semoga bermanfaat dan salam financial !

 Artikel sudah tayang di detik finance.

Recent

PROFIL FINANCIAL PLANNER - ILA ABDULRAHMAN

ILA ABDULRAHMAN, S.Pt., RIFA, RFC Siti Ruhailah Abdulrahman, S.Pt., RPP, RFA,   RIFA, RFC atau yang dikenal dengan Ila Abdulrahman, ad...

Baca Juga