Skip to main content

MAHAR ITU HALAL BERSAMAMU, BUKAN TERJEBAK UTANG BERSAMAMU


ILA ABDULRAHMAN S.Pt., RIFA, RFC

Mahar, syarat yang mudah dalam pernikahan namun terkadang berubah menjadi rumit dan berat. Dampaknya? Pernikahan sangat mungkin  batal. Di sisi lain ada yang memenuhi besarnya mahar diluar kemampuan dengan berutang, sehingga kelar akad nikah muncullah cicilan, dan ini sedang menjadi tren, entah mengambil kredit multiguna atau Kredit Tanpa Agunan (KTA) yang bunganya relatif tinggi.
Rumitnya mahar dan berat untuk sebagian orang ketika bersandingan dengan adat istiadat ataupun kebiasaan masyarakat setempat, bahwa mahar harus sekian puluh bahkan ratus juta sesuai dengan tingkat pendidikan calon mempelai perempuan, seperti di daerah Bugis. Tak jarang calon mempelai pria mundur, karena tidak mampu memenuhi jumlah mahar yang diinginkan. Dari hasil diskusi di grup telegram misalnya, di Aceh mahar biasanya seberat 10 maryam emas, satu maryam setara dengan 3,3 gram emas, sehingga berat mahar sebesar sekitar 33 gram emas. Daerah lain  yang terkenal paling mahal adalah daerah Bugis bisa mencapai milyaran rupiah, dimana disesuaikan dengan strata sang wanita, mulai dari kecantikan, keturunan,  pendidikan dan pekerjaan calon mempelai wanita. Semakin tinggi strata nya maka mahar yang biasa disebut dengan uang panai akan semakin mahal.
Mahar Sebaiknya Barang Bernilai Ekonomi.
Dalam islam mahar merupakan salah satu syarat sah pernikahan berdasarkan ijmak ulama, hal ini berdasarkan pada firman Allah QS An-Nisa’ 4:4. Namun demikian, tidak ada batas minimal atau maksimal mengenai nilai mahar. Dalam QS Al-Baqarah 2:236 Allah hanya memberi kisi-kisi bahwa mahar sebaiknya menurut kemampuan calon suami.
Perempuan yang baik adalah yang mudah (murah) maharnya, namun dibolehkan seorang perempuan menentukan jumlah mahar yang diinginkan. Bagi calon suami ada 2 pilihan, mengabulkan jika mampu atau menolak.
Selain tradisi mahar seperti di aceh dan bugis di atas, dewasa ini sangat lazim memberikan mahar seperangkat alat sholat dan Alquran. Meski tidak dilarang, dianjurkan mahar adalah barang yang bernilai, dapat dinilai oleh masyarakat misal uang, perhiasan, tabungan, reksadana, tanah, rumah, mobil, dsb. Jangan sampai mahar menjadi hal yang kurang bermanfaat atau malah memberatkan. Alquran dan Alat sholat pastinya sudah dimiliki oleh setiap perempuan muslim. Namun tak mengapa mahar mukena misal satu truk, bisa dijual dan bernilai ekonomi, langsung buka toko grosir mukena kan ya.
Mangambil Pinjaman Untuk Pernikahan
Mahar sudah selesai, tibalah beberapa bulan menjelang hari H, ternyata mempelai perempuan menghendaki mahar, uang lain-lain yang totalnya diluar ketersediaan. Calon mempelai perempuan dan keluarga kemudian menyarankan untuk mengambil pinjaman untuk memenuhinya, dengan dalih, “mahar saja boleh utang, masa utang untuk mahar tidak mau.” Ya, berutang untuk mahar dibolehkan.
Sebelum memutuskan mengambil pinjaman untuk nikah, setidaknya beberapa hal ini perlu dipertimbangkan :
  1. Pinjaman sifatnya tambahan atas kekurangan bukan sumber utama. 
  2. Cicilan.  Berapa besaran cicilan atas pinjaman yang akan diambil. Ingat maksimum cicilan semua utang adalah 30% dari pendapatan. Itupun untuk cicilan yang sifatnya cicilan utang produktif. 
  3. Kebutuhan Hidup Setelah Menikah. Setelah menikah menyusul beberapa macam tujuan keuangan, seperti KPR, kehamilan, kelahiran dan aqiqahnya, biaya pendidikan  dan pernikahan anak, belum untuk kebutuhan pribadi seperti investasi dana pensiun, dana haji bagi muslim dan investasi wakaf. 
  4. Masalah uang sumber masalah dengan pasangan. 70% perceraian di indoneia disebabkan oleh masalah ekonomi yang dialami oleh keluarga muda, keluarga yang baru menikah dibawah usia pernikahan 5 tahun. Ini dapat di artikan bahwa kondisi keuangan yang sehat harus dicapai agar terhindar dari risiko 70% tersebut.
Biasanya yang mengambil pinjaman sebagai sumber utama untuk pernikahan adalah mereka-mereka yang sama sekali belum mempersiapkan pernikahan, bisa karena memang belum mengalokasikan atau mendadak menikah.
Nah, sudah mempertimbangkan dan menghitungnya? Pastikan jika memutuskan mengambil pinjaman untuk mahar dan pernikahan, kebutuhan investasi setalah menikah tetap dapat terpenuhi. Ingat setelah akad nikah kehidupan yang sebenarnya baru di mulai. Ada pepatah mengatakan, “jika cinta itu buta (Butuh Uang, Tabungan dan Aset) pernikahanlah yang membuktikan semuanya.” Jangan sampai tujuan pernikahan yang sakral tercemari dengan beban cicilan utang saat pernikahan, yang membuat jalannya roda rumah tangga terseok-seok bahkan hancur. Ingat mahar itu sarana untuk halal bersama bukan menjebloskan ke dalam jeratan utang setelahnya.
Rencanakan Pernikahan Anda, jauh-jauh hari, termasuk didalamnya mahar ini, yaitu sejak Anda punya gandengan atau sudah berhayal tentang pernikahan. Hayalan itu pastinya sudah membayangkan dong dengan siapa nanti ke penghulu dan disahkan? Nah, bangunlah dari hayalan atau impian itu untuk mewujudkannya. Bagaimana caranya adalah dengan mencari informasi adat istiadat dan tradisi mahar dari calon mempelai yang anda impikan, hitung dan mulai cicil dari berpenghasilan.
Misal Anda ingin seperti Hamish Daud memberi mahar 500 gram emas kepada Raisa, atau misal cukup 50 gram emas. Rencana menikah usia 27 tahun, saat ini usia anda 23 tahun, ada waktu 4 tahun untuk mulai menyicil emasnya dari sekarang. Anda tinggal membagi jumlah emas dengan sisa waktu, sehingga dengan contoh tersebut Anda punya waktu menyiapkan 50 gram emas dalam 4 tahun. Coba dihitung, berapa gram per bulan? Mudah bukan.
Semoga bermanfaat, salam finansial!

Artikel telah diterbitkan di Detik Finance.

Popular posts from this blog

6 CIRI HIDUP MAPAN, KAMU TERMASUK NGGAK ?

Hidup mapan adalah dambaan dan kewajiban setiap orang. Karena kita diberi Allah kekayaan dan kecukupan, bukan kekayaan dan kemiskinan. Jadi siapa yang menjadikan kita miskin, adalah diri kita sendiri, akibat tidak merencanakan keuangan dengan baik, sehingga timpang dan tidak proporsional dalam membagi pos-pos keuangan. Beberapa contohnya karena tidak mengeluarkan hak Allah, pelit dalam berinfak sedekah, boros, dan banyak mengeluarkan harta secara sia-sia. Rejeki memang Allah yang memberi, namun manusialah yang seharusnya pandai mengatur agar cukup untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan baik di dunia dan akherat kelak, sehingga kemapanan dapat dicapai. Aidil Akbar Madjid dalam kata-kata mutiaranya menulis, jika hidupmu mapan, maka wajahmu (yang tak tampan) akan termaafkan. ” Sepakat, karena setelah mapan, ketampanan itu bisa diusahakan. So, jika hidupmu mapan, pasangan rupawanpun bukan sekedar impian. Ya kan? Banyak orang mengasosiasikan hidup mapan dengan aset yang dimili

SHILA FINANCIAL

Shila Financial is a trusted financial consultancy brand committed to providing easy-to-implement, affordable, and professional financial solutions to the public. We recognize that many people struggle with managing their finances, and therefore we have Certified Financial Planners and internationally licensed professionals to help them better plan their finances and achieve a more empowered life and financial position. We have two business units: Shila Consulting and Shila Institute. Shila Consulting focuses on providing financial planning services, tax services, transfer pricing, mental health, branding, media planning and legal services to our clients. Shila Institute offers short classes on financial planning and related matters that are affordable and accessible to the general public, both for individuals and companies. We always prioritize high ethical and professional values in providing our services. We are committed to providing quality and trustworthy services to our clients

Mahar, Bisakah di Gugat Sebagai Harta Warisan?

T : Saya, menikah dengan mahar rumah yang kami tinggali saat ini.   Enam (6) bulan yang lalu suami meninggal. Kemudian anak-anak tiri saya menghendaki rumah tersebut di bagi karena menganggapnya sebagai harta warisan. Saya bukan karena tidak mau membagi, tetapi berdasarkan syariah, harta tersebut bukan termasuk sebagai harta peninggalan suami saya. Nah, bagaimana, apakah mahar tersebut bisa di gugat sebagai harta warisan dan harus di bagi?   Ardina – Solo. J: Harta, sedikit ataupun banyak, menjadi salah satu sumber pertikaian, jika tidak di antisipasi sejak awal. Inilah pentingnya Perencanaan Warisan/wasiat atau “Estate Planning”. Harta ini utk siapa, tanah sana untuk siapa? Atau jika anda muslim berwasiatlah minimal “ bagilah Harta saya secara Islam”, mengingat di Indonesia ada 3 cara pembagian warisan yaitu : berdasarkan Agama, Undang-Undang dan Hukum Adat. Dalam hal kesulitan perencaan waris, anda bisa menyewa jasa seorang Perencana Keuangan (Financial Planner) untuk memban