Skip to main content

WAKAF DALAM PERENCANAAN KEUANGAN



Yang menjadi milik kita itu hanya 3: apa yang kita makan,   yang kita pakai dan yang kita sedekahkan.”

Dalam perencanaan keuangan islami atau berdasarkan agama Islam ada 3 hal pokok yang harus dilakukan terhadap rezeki yang berupa kekayaan baik uang, maupun harta benda lainnya, yaitu mengeluarkan hak Allah berupa Zakat, membayar hak orang lain atau kewajiban kita terhadap orang lain biasanya berupa hutang, dan yang ketiga adalah membayar hak kita, yang berupa  hak  dan kewajiban kita di masa depan baik di dunia maupun di akhirat kelak dan hak kita di saat ini berupa biaya hidup sehari-hari. 

Setelah menyiapkan investasi untuk kewajiban sebagai diri sendiri daan sebagai orang tua, yaitu kewajiban terhadap anak, baiknya di akhir perencanaan keuangan di lengkapi dengan perencanaan wakaf. Mengapa perlu merencanakan wakaf? Karena ketika kita sudah tidak ada lagi di dunia ini, hanya 3 haal yang akan menemani kita di alam barzah kelak yaitu :
· Doa anak yang sholeh sholehah
· Ilmu yang bermanfaat dan,
· Sedekah jariyah (wakaf)

Setelah menyiapkan pendidikan terbaik untuk anak-anak, semoga mereka menjadi anak yang sholeh, sholehah, kemudian kita menyebarkan ilmu yang dimiliki, maka disempurnakan dengan infaq/sedekah jariyah berupa wakaf yang pahalanya akan terus mengalir.

Ketika membicarakan atau mendengar kata “wakaf" sebagian masyarakat berpikirnya masjid, mushola, pesantren tahfidz, tanah makam, panti asuhan dsb, yang secara angka membutuhkan nominal dana relatif besar. Padahal wakaf tidak harus dalam bentuk yang selalu besar. Anda menyumbang pembangunan masjid dengan ikut serta membeli semen sudah termasuk wakaf. Anda membangun sebuah fasilitas mck di daerah terpencil juga sudah termasuk wakaf. Perencanaan dana wakaf dan dana apapun disesuaikan dengan pendapatan  masing-masing orang. Jika alokasi investasi wakaf sebesar Rp 300ribuan per bulan ya jangan merencanakan wakaf yang membutuhkan Rp 500ribu per bulan atau lebih. Benar bahwa investasi akherat itu penting karena itu yang akan menemani Anda di alam nanti, namun tidak semata-wakaf kan, masih ada anak yang sholeh, ilmu yang bermanfaat dan sedekah-sedekah lainnya. 

Atau jika dari rencana ternyata perlu alokasi investasi yang besar melebihi ketersediaan dana, maka cukup di turunkan standar  wakafnya. Misal tadinya mau berwakaf pesantren tanfidz dengan pengelolaan secara mandiri lengkap dengan lahan dan bisnis produktif, butuh dana saat ini Rp 2M bisa di turunkan standarnya dengan berwakaf pesantren tanfidz dengan pengelolaan di serahkan kepada badan wakaf yang telah berpengalaman dengan dana saat ini Rp 500 jutaan. Otomatis alokasi investasi yang dibutuhkan juga turun.

Dari manakah alokasi investasi untuk wakaf? Bisa diambilkan dari pos investasi, asal tidak mengganggu jalannya kewajiban yang lain. Misal yang tadinya berencana sekolah full day, akhirnya  ke sekolah biasa yang tidak tidak fullday. Namun semua kembali kepada kebijakan keluarga masing-masing dimana prioritas sebuah rencana keuangan ditempatkan. Ingat hidup tidak hanya wakaf namun juga  memberikan kehidupan yang layak untuk keluarga baik saat masih hidup dan sudah meninggal adalah kewajiban.
Jadi dimanakah letak perencanaan wakaf dalam perencanaan keuangan? Ia menempati urutan atau prioritas  setelah :

  1.  Zakat
  2. Kebutuhan pokok sandang pangan papan
  3. Dana darurat
  4. Kewajiban terhadap anak : memberi nama yang baik (aqiqah), mendidik (perencanaan pendidikan, formal non formal), menikahkan ( perencanaan pernikahan anak)
  5. Perencanaan haji, rukun Islam ke- 5
  6. Perencanaan pensiun, agar saat pensiun tidak merepotkan anak dan tetap bisa hidup dengan standar seperti saat produktif termasuk beramal sedekah tidak berkurang.
  7. Perencanaan wakaf.

Nah, jika Anda muslim dan sudah merencanakan travelling dan liburan dan lain-lain yang sifatnya additional, belum afdol jika perencanaan wakaf ternyata belum ada dalam bookplan Anda. 

Berapapun penghasilan rezeki yang diberikan Allah itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sesuai dengan standar penghasilan tersebut, namun akan selalu kurang jika hidup dijalani dengan standar penghasilan yang diatasnya. 

Hiduplah sesuai dengan kebutuhan, sehingga keinginan akan terencana dengan baik. Salam Financial!.

Ila Abdulrahman S.Pt., RIFA, RFC
Artikel telah di terbitkan diterbitkan di detik finance.

Popular posts from this blog

6 CIRI HIDUP MAPAN, KAMU TERMASUK NGGAK ?

Hidup mapan adalah dambaan dan kewajiban setiap orang. Karena kita diberi Allah kekayaan dan kecukupan, bukan kekayaan dan kemiskinan. Jadi siapa yang menjadikan kita miskin, adalah diri kita sendiri, akibat tidak merencanakan keuangan dengan baik, sehingga timpang dan tidak proporsional dalam membagi pos-pos keuangan. Beberapa contohnya karena tidak mengeluarkan hak Allah, pelit dalam berinfak sedekah, boros, dan banyak mengeluarkan harta secara sia-sia. Rejeki memang Allah yang memberi, namun manusialah yang seharusnya pandai mengatur agar cukup untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan baik di dunia dan akherat kelak, sehingga kemapanan dapat dicapai. Aidil Akbar Madjid dalam kata-kata mutiaranya menulis, jika hidupmu mapan, maka wajahmu (yang tak tampan) akan termaafkan. ” Sepakat, karena setelah mapan, ketampanan itu bisa diusahakan. So, jika hidupmu mapan, pasangan rupawanpun bukan sekedar impian. Ya kan? Banyak orang mengasosiasikan hidup mapan dengan aset yang dimili

SHILA FINANCIAL

Shila Financial is a trusted financial consultancy brand committed to providing easy-to-implement, affordable, and professional financial solutions to the public. We recognize that many people struggle with managing their finances, and therefore we have Certified Financial Planners and internationally licensed professionals to help them better plan their finances and achieve a more empowered life and financial position. We have two business units: Shila Consulting and Shila Institute. Shila Consulting focuses on providing financial planning services, tax services, transfer pricing, mental health, branding, media planning and legal services to our clients. Shila Institute offers short classes on financial planning and related matters that are affordable and accessible to the general public, both for individuals and companies. We always prioritize high ethical and professional values in providing our services. We are committed to providing quality and trustworthy services to our clients

Mahar, Bisakah di Gugat Sebagai Harta Warisan?

T : Saya, menikah dengan mahar rumah yang kami tinggali saat ini.   Enam (6) bulan yang lalu suami meninggal. Kemudian anak-anak tiri saya menghendaki rumah tersebut di bagi karena menganggapnya sebagai harta warisan. Saya bukan karena tidak mau membagi, tetapi berdasarkan syariah, harta tersebut bukan termasuk sebagai harta peninggalan suami saya. Nah, bagaimana, apakah mahar tersebut bisa di gugat sebagai harta warisan dan harus di bagi?   Ardina – Solo. J: Harta, sedikit ataupun banyak, menjadi salah satu sumber pertikaian, jika tidak di antisipasi sejak awal. Inilah pentingnya Perencanaan Warisan/wasiat atau “Estate Planning”. Harta ini utk siapa, tanah sana untuk siapa? Atau jika anda muslim berwasiatlah minimal “ bagilah Harta saya secara Islam”, mengingat di Indonesia ada 3 cara pembagian warisan yaitu : berdasarkan Agama, Undang-Undang dan Hukum Adat. Dalam hal kesulitan perencaan waris, anda bisa menyewa jasa seorang Perencana Keuangan (Financial Planner) untuk memban