Memulai Usaha dan Mengatur Keuangan dalam Kegentingan Ekonomi

Pandemi corona membuat ekonomi dunia ada di dalam keadaan genting. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan krisis yang ditimbulkan oleh wabah virus COVID-19 bahkan melebihi krisis keuangan yang terjadi pada 12 tahun silam. Krisis ini tak hanya berdampak pada sektor ekonomi makro, namun juga sampai pada ekonomi mikro, seperti bisnis rumahan dan bisnis kecil-kecilan.
ADVERTISEMENT


Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apakah ini waktu yang tepat untuk bisa memulai bisnis atau bahkan menanam saham? Bagi sebagian orang, krisis ini mungkin bisa jadi peluang. Tergantung bagaimana kita merencanakan dan mengelola keuangan dengan baik. 


Bersama Ila Abdulrahman, teman kumparan berkesempatan mendiskusikan topik Memulai Usaha dalam Kegentingan Ekonomi. Ila Abdulrahman merupakan Registered Para Planner, Intermediate Conventional Financial Planner, Intermediate Islamic Financial Planning dan Advance Financial planning, serta sudah mengantongi Lisensi AAJI. Ila juga memiliki firma konsultasi Keuangan Shila Financial dan menjadi co-founder aplikasi Keuangan Bregaswaras.
Penasaran seperti apa keseruan kumparanTALK kali ini? Simak penjelasannya di bawah ini.
Tanya: Merintis usaha kan butuh modal, selain membutuhkan link source buat beli/produksi dan konsumen, caranya bagaimana? Ada referensi kah? Apalagi sekarang masa-masa genting yang notabenenya lebih sulit lagi mendapatkan pinjaman modal.
Jawab: merintis usaha memang hal yang tidak mudah. Tetapi bukan berarti nggak bisa, pasti bisa! Modal utama selain modal uang yang siap-siap akan modal madul jika nggak beres pengelolaannya adalah, mental. Mental siap jatuh bangun, bangkit ketika terpuruk. Why? Sebuah riset menunjukkan 7 dari 10 bisnis jatuh di tahun pertama. Yang perlu dilakukan adalah tentukan target, tentukan strateginya, dan tentukan sumber modalnya.
Pengajuan pinjaman ke bank memang tidak mudah, selain ada syarat bahwa bisnis sudah berjalan minimal 1 tahun, kondisi seperti pandemi ini menjadikan semuanya tidak mudah. Yang penting, dana darurat bisnisnya jangan sampai tertinggal, sehingga ketika terjadi kondisi seperti ini bisnis tetap bisa jalan nggak terpuruk banget.

Tanya: Rencananya mau budidaya ikan gurami, tetapi modalnya nggak ada. Bagaimana ya mbak?
Jawab: kalau memang mau berminat budidaya gurami, tapi terbentur modal, di dinas terkait disediakan lho, modal juga pembinaan. Atau bisa juga mengajukan pinjaman KUR di bank BUMN, jaminan BPKB motor dapat pinjaman mulai dari 10 juta. Tahun lalu, ada klien penjahit rumahan dapat pinjaman modal 15 juta. Yang penting, selain modal, skill ya mbak. Jangan sampai pengin budidaya gurami, ternyata expert-nya piara piranha, kan beda perlakuan dan modal ini.
Lalu, ingat juga untuk atur keuangan bisnisnya. Bisnis pun butuh dana darurat, setidaknya siapkan sampai bisnis tersebut mampu membiayai dirinya sendiri dan menggaji kita.
Atur hasil bisnisnya, perbandingannya 10, 20, 30, 40.
10% untuk sosial
20% untuk tabungan dana darurat/investasi pengembangan usaha

30% cicilan hutang barang pengembangan bisnis
40% untuk operasional, termasuk gaji sendiri
Jangan lupa juga untuk pisahkan keuangan pribadi dan keuangan bisnis. 


Tanya: Bagaimana tips membangkitkan semangat jualan di tengah tengah virus #corolla ini?

Jawab: kalau kata Mas Akbar (master financial planning), "corona berevolusi menjadi virus, karena patah hati karena ditinggal corolla jadi Altis.” Cari hot button-mu Mas, apakah itu keluarga, anak, istri, atau tujuan keuangan. Dengan kembali menengok tujuanmu, biasanya semangat itu muncul kembali.
Contohnya 2 hari yang lalu saya berhadapan dengan orang yang putus asa, patah harapan, rumahnya hendak disita bank karena menunggak 6 bulan angsuran. Posisinya rumah tersebut digadaikan oleh saudaranya. Dilema buat dia, nggak dibayar rumah akan dilelang, dibayar, bukan dia yang pinjam. Di atas kertas, kemampuan mengambil alih angsuran hanya sebesar 1/2 dari angsuran yang sudah berjalan. Dia datang menangis-nangis, menitipkan 3 anaknya ke saya (kebetulan saya ditunjuk sebagai wali asset). Saya hanya membuka kembali kenangan rencana-rencana keuangan dia.
"Nanti anak-anakku aku nikahkan resepsinya di gedung ini"
"Sekolahnya/kuliahnya di sini, nanti aku nengok 6 bulan sekali sambil travelling"
"Lalu ketika pensiun, aku akan menghabiskan sisa waktu dengan bersosial"
Lalu saya ingatkan, jika kamu merasa ini berakhir, artinya kamu tidak sanggup membesarkan, mengantarkan anak-anakmu sesuai keinginanmu dan keinginan almarhum suami. Bagaimana mungkin, saya yang hanya orang lain, yang hanya perencana keuanganmu, hanya wali asset anak-anakmu, bisa mengantarkan mereka? Kemudian dia termenung dan alhamdulillah tersenyum kembali. Selanjutnya tugas saya menghitung dan memilih asset mana yang harus dijual, agar rumah tidak dilelang.

 Tanya: Dalam situasi pandemi seperti ini, usaha dalam sektor riil kan sedang terguncang. Kalau ingin bermain di sektor keuangan kira-kira rekomendasi yang cocok di jenis apa ya?

Jawab: kami, Financial Planner di Shila Financial tidak menganjurkan untuk ‘bermain uang’ kecuali uang yang menganggur. Jika ingin berbisnis di sektor keuangan, yang lagi marak adalah P to P, fintech. Yang banyak adalah pinjaman online. Apalagi di masa pandemi ini, banyak orang butuh cash, jalan pintas adalah pinjam ke fintech, seperti menanam uang, taruh uang di fintech. Bermain, biasanya asosiasinya ke trading, seperti beli saat murah dan jual saat mahal untuk ‘cuan’ atau dapat untung. Bermain pada kategori di atas, boleh, jika investasi semua tujuan keuangan yang sifatnya kewajiban dan kebutuhan sudah terpenuhi. Setelah investasi semua, jika ada sisa uang, maka boleh trading aka bermain.
Lalu, apa saja tujuan keuangan wajib? Berikut uraiannya:

  1. Dana darurat sudah terpenuhi



  2. Asuransi kesehatan sudah terpenuhi


  3. Asuransi Income sudah terpenuhi


  4. Investasi dana pernikahan sendiri, dana pensiun, pembelian rumah, kehamilan dan persalinan, pendidikan anak, pernikahan anak, haji, wakaf (social investment lainnya), sudah semua.
Jika ada sisa, silakan bermain. Apa yang cocok antara saham dan reksadana? Tergantung karakter resiko kita, konservatif, moderat, atau agresif, dan untuk berapa lama.
Jika ingin tanya-tanya lebih lanjut, bisa mampir ke Instagram Ila Abdulrahman di bawah ini.
https://www.instagram.com/p/B-OTyHbnHdN/

Tanya: Ada tips bagaimana mengelola keuangan yang baik bagi orang yang baru bekerja mbak? Saya merasa masih 'gagap' dalam mengatur finansial saya. Karena baru kerja jadi merasa ingin melahap semuanya sebagai reward hasil kerja saya.

Jawab: Untuk langkah awal, saya sarankan untuk pakai Management by Amplop (MBA) saja, Mbak. Kalau kata Shila Financial, pengelolaan keuangan itu ada 3 yaitu untuk anak, single, dan married people.
Untuk anak, 3S : social-saving-shopping : 10-30-60
Single bekerja, So SaInS : Social-Saving-Investing-Shopping (living cost) : 10-20-30-40
Married, SHILA : Social-Hutang-Investasi-Living Cost-Asuransi : 10-20-20-40-10
Nah, first jobber, pake So SaInS saja, dengan menggunakan amplop-amplop. Begitu gajian, masukkan masing-masing pos ke dalam amplop. Hiduplah secukupnya dengan porsi 40% dari income, maksimal 60% dari income tapi tidak boleh punya cicilan. Lalu, disiplin dan keraslah pada diri sendiri. Jangan lupa saving dan investing untuk yang disenangi, seperti travelling. Selamat menyusun keuangan. 

Tanya: Seberapa pentingkah kita mengasuransikan bisnis?

Jawab: penting sekali, apalagi kita menjalani bisnis dengan cara berpartner bersama orang lain. Di situ ada kontribusi atau sharing modal, jadi kita saling melindungi sejumlah modal yang dimiliki masing-masing. Misalnya, saya berpartner dengan Kak Nat, maka dia harus membeli asuransi sejumlah kontribusi saya dan Kak Nat harus membeli asuransi sejumlah kontribusi saya, ini dari segi kepemilikan. Lalu, asuransi tersebut gunanya untuk apa? Jika salah satu dari kita atau partner bisnis kita tidak ada, seperti meninggal atau cacat fisik total, maka kita tidak perlu menjual aset bisnis yang tidak ada tadi, kecuali ada anggota keluarga yang mau melanjutkan. Selain asuransi jiwa, asuransi kerugian juga perlu ditambahkan.
Sbelum menutup kumparanTALK kali ini, Ila memberikan closing statement kepada teman kumparan.
"Hidup secukupnya, penuhi kewajiban dan kebutuhan, serta manajemen keinginan. Pisahkan antara keuangan pribadi dan Keuangan Bisnis. Jika jatuh 100 kali, maka bangkit 101 kali. Jangan lupa bahwa kita harus memiliki tujuan masa depan yang terus menyemangati hidup. Sehatkan cash flow dengan 10-20-30-40."


Credit: Kumparan


Ngobrol langsung dengan Mba Ila, klik bit.ly/ila_abdulrahman

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan tanggapan, pertanyaan di sini, kami akan segera meresponnya.

Baca Juga