Search This Blog

Matangkan Keuangan Keluarga di Tengah Resesi


Menurut penasihat rencana keuangan yang merupakan pendiri Shila Financial, Ila Abdulrahman, resesi sebenarnya tak berpengaruh terhadap orang-orang yang telah memiliki perencanaan keuangan. Sebab, orang-orang yang telah memiliki perencanaan keuangan biasanya telah memiliki dana darurat untuk bertahan hidup.

“Masalahnya, banyak dari kita yang belum sadar akan perencanaan keuangan. Jadi kalau misalnya terdampak, baik PHK, penurunan pendapatan, maka sesuaikan gaya hidup dengan gaji yang baru,” tutur Ila kepada Republika.

Namun, Ila menekankan, tentunya penyesuaian itu tidak akan mengubah porsi atau takaran peruntukan keuangan. Porsi peruntukan keuangan yang disarankannya, baik di luar masa pandemi maupun di masa pandemi, adalah 10 persen untuk sedekah, infak, dan sosial, kemudian 20 persen untuk menabung atau berinvestasi. Sementara, 30 persen untuk membayar cicilan utang produktif. Lalu, sisanya, 40 persen diperuntukkan hidup sehari-hari.

Ila memberikan contoh pada seseorang yang mengalami penurunan gaji bulanan. Misalnya, gaji awal adalah Rp 10 juta dan berkurang menjadi Rp 7 juta. Padahal, setiap bulan ada cicilan produktif sebesar Rp 3 juta.

“Otomatis itu dana Rp 3 juta sudah hilang. Maka hal yang bisa dilakukan adalah meminta relaksasi atau restruktur kredit pada instansi yang terkait. Artinya, mengajukan diperpanjang masa waktu pinjamannya yang akhirnya nilai angsuran akan turun,” jelas dia.

Opsi keringanan lainnya adalah dengan meminta penundaan pembayaran kredit. Namun, jika memang benar-benar tak bisa menggunakan opsi ini, maka perlu mengurangi biaya hidup yang lain.

Ila menyarankan bagi keluarga yang benar-benar tak ada jalan lagi untuk melihat di sekelilingnya, yaitu apa saja yang masih bisa diuangkan. Misalnya, kita bisa membuka garage sale untuk barang-barang konsumtif dan tidak digunakan lagi. Penyesuaian gaya hidup itu juga penting diterapkan pada pola makan sehari-hari.

Penurunan gaji pun mempengaruhi uang belanja istri di rumah. “Lakukan penyesuaian, misalnya biasa masak daging, bisa diganti daging ayam yang lebih murah,” ungkap dia.

Opsi lainnya adalah mencari penghasilan tambahan. Menurutnya, tak semua usaha di masa pandemi ini mengalami kegagalan. Ada beberapa jenis usaha yang justru saat ini memiliki peluang yang baik. Misalnya, bisnis jasa layanan antar atau kurir, makanan, dan jasa di bidang kesehatan. Membuat masker dan menjualnya, kata dia, bisa menambah pendapatan tambahan di masa pandemi seperti sekarang ini.

Bidang lain yang saat ini mulai digeluti banyak orang adalah kegemaran bercocok tanam. “Bisa memanfaatkan orang-orang yang hobi bertanam, memelihara cupang, dan lain-lain sebagai sumber penghasilan baru,” jelas dia.

Sayangnya, ada sejumlah tantangan yang dihadapi para keluarga milenial. Salah satunya adalah jika mereka adalah millenial yang juga menjadi generasi sandwich atau generasi yang juga menopang hidup orang tua.

Ketika mereka mengalami PHK atau mengalami penurunan gaji, maka tak heran hal itu membuat mereka stres. Alhasil, mereka memilih pelarian ke internet dan pendingin ruangan (AC) yang membuat biaya kuota menjadi bengkak dan biaya listrik yang ikut membengkak.

“Makanya itu perlu disiasati lagi bagaimana caranya ketika kerja dari rumah atau harus kreatif dari rumah agar tidak membengkak,” ungkap Ila.

Ila mengatakan, sebaiknya masing-masing keluarga memiliki dana darurat atau dana yang dikeluarkan pada saat kondisi darurat. Artinya, ketika ada kondisi darurat, maka dana tersebut bisa langsung diambil.

Oleh karenanya, dia menganjurkan kepada keluarga generasi millenial untuk mempersiapkan dana darurat dalam bentuk likuid yang mudah diambil, ketimbang investasi yang membutuhkan waktu yang lama untuk mengambilnya. “Dana darurat itu memang lebih baik disimpan di tabungan, atau logam mulia, dan ketika butuh bisa langsung dijual,” ujar Ila.


"Dana darurat itu memang lebih baik disimpan di tabungan, atau logam mulia, dan ketika butuh bisa langsung dijual."


Porsi dana darurat pun berbeda-beda. Bagi orang yang belum menikah, dana darurat yang harus tersedia berjumlah tiga kali sampai empat kali jumlah pengeluaran. Sementara, bagi orang yang menikah dan belum memiliki momongan, dana darurat yang harus tersedia idealnya adalah empat kali sampai enam kali jumlah pengeluaran per bulan.

Lalu, bagi orang yang telah menikah dan memiliki dua anak, maka dana darurat yang harus tersedia adalah sembilan kali pengeluaran per bulan. Dan bagi yang memiliki lebih dari dua anak, harus tersedia sebanyak 12 kali pengeluaran per bulan. “Tapi idealnya, lebih baik memiliki dana darurat apapun kondisinya, apapun statusnya adalah berjumlah 12 kali pengeluaran per bulan,” jelas dia.

Namun, jika seseorang yang di-PHK terlanjur tak memiliki dana darurat, Ila mengatakan, dia bisa menggunakan uang pesangon dari PHK. Menurutnya, orang-orang harus memahami hukum ketenagakerjaan agar hak dana pesangon dari PHK bisa didapatkan.

Setelah mendapatkan dana pesangon, Ila menganjurkan untuk menyisihkan sebagian untuk dana darurat. Jika memang tak digunakan untuk dana darurat, dana PHK tersebut bisa digunakan, dan jika sudah kondisi normal, maka dana tersebut harus dikembalikan sebagai dana darurat.

Ila optimistis kondisi ekonomi Indonesia di masa mendatang akan lebih baik, meskipun masih membutuhkan waktu yang agak lama untuk benar-benar pulih. Ila mengatakan, paling tidak, kondisi ekonomi akan benar-benar pulih pada 2022 mendatang. “Kondisi akan membaik. Secara pertumbuhan kuartal, memang sudah naik hanya saja masih minus saja sekarang. Saya optimistis kondisi ke depan akan membaik,” tutur Ila.


Sumber: Klik Disini [republika.id]

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan tanggapan, pertanyaan di sini, kami akan segera meresponnya.

HYPE

5 ALASAN MENGAPA DANA DARURAT HARUS DIUPDATE BERKALA

Dana Darurat atau Emergency Fund biasa juga disebut, penting dalam keuangan keluarga, menempati urutan kedua setelah melunasi hutang-h...