Skip to main content

MENOLAK ASURANSI? BEGINI MEMPERSIAPKAN DANA KESEHATAN SENDIRI

ILA ABDULRAHMAN - AIDIL AKBAR MADJID & PARTNERS

"Asuransi, bisa dibeli saat sehat, dan tidak saat sakit."

Pada tahun 2015, Menkes Nila Moeloek menyatakan,” jumlah penduduk yang sakit mencapai 65% dari 250 juta orang. Jumlah yang jauh di atas rentang normal, 10%-15% dari total penduduk.”

Sebagai Financial Planner, saya pribadi sangat bersyukur dengan adanya program JKN melalui BPJS terutama BPJS Kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Beban moral secara pribadi sangat berkurang.

Asuransi masih dianggap tidak penting, padahal ia ibarat payung, jas hujan dimusim hujan, mungkin tidak melindungi sepenuhnya dari guyuran air hujan, setidaknya tidak basah kuyub. Asuransi, mungkin tidak mengcover semua biaya, setidaknya kita hanya perlu menambah biaya yang tidak di cover.

Seperti halnya payung yg dibeli dan disimpan ketika cerah, dan di pakai ketika hujan turun atau beberapa ketika panas terik, begitu juga asuransi, dimanfaatkan ketika sedang tidak sehat. Memakai payungpun kadang masih basah kaki dan sebagian badan kita, apalagi tidak.

Saat sehat premi yang dibayarkan terasa mahal, mati-matian menawar minta diskon inilah itulah, minta naik benefit dengan premi yang sama, namun ketika sakit datang premi itu terasa sangat murah, sayangnya saat sakit sudah datang, kita tidak bisa membelinya.

Beberapa agen asuransi menceritakan hal yang serupa, " premi bayar Rp 1 juta untuk setahun, sakit  habis Rp 12 juta dicover Rp 10 juta, masih bilang, kok cuman di cover Rp 10 juta?"
"Anggap saja Rp 2 jutanya air yang masih membasahi meski sudah pakai payung."

SEBERAPA PENTING MEMILIKI ASURANSI KESEHATAN?

Dalam urutan Perencanaan Keuangan, ia menempati urutan ke 3, setelah melunasi hutang konsumtif dan memiliki Dana Darurat (DD), artinya SANGAT PENTING.

Sakit, tak satu orangpun mau, namun ketika datang tak satupun bisa menolak, yang bisa dilakukan hanyalah pencegahan dan pengobatan.

Jika kita tidak memiliki asuransi, siapa yang akan membayar? Tidak masalah bagi yang berkecukupan, yang tidak, mungkin harus pinjam kesana kemari.

Jika kita punya Asuransi, sudah ada yang membayar ketika sakit, ketika punya asuransi dan kita tetap sehat (aamiin) setidaknya premi kita telah membantu peserta lain yang sedang sakit.

BERAPA BENEFIT YANG HARUS DIBELI?

Bagi karyawan yang sudah mendapat jaminan kesehatan dari kantor, cek mendapat benefit berapa, sesuai atau tidak dengan yang anda inginkan? Jika cukup tidak perlu beli lagi, namun jika kurang, silakan beli tambahan.

Misal dari kantor mendapat benefit Kamar Rawat Inap 600,(biasa disebut Ip-600), ternyata anda ingin di rawat kamar VIP seharga Rp 800rb, maka anda membeli lagi sendiri asuransi lain minimal sebesar IP 200, sehingga ketika sakit dan rawat di kamar VIP IP 800, biaya sudah di cover asuransi dari kantor dan asuransi sendiri.

Bagi anda yang bukan karyawan tinggal beli sesuai benefit yang diinginkan.
Bagi yang sudah punya BPJS Kesehatan , dan ingin beli lagi, belilah yg sudah CoB dengan BPJS.

Buat Bisnis Owner, belikan untuk seluruh karyawannya dan keluarganya atau setidaknya ada santunan kesehatan yang bisa di belikan asuransi sendiri, sehingga karyawan lebih produktif

PERLUKAH ASURANSI PENYAKIT KRITIS?

Sebenarnya tidak ada yang namanya penyakit kritis, yang ada adalah kondisi suatu penyakit yang sudah kritis.

Karena namanya Kondisi Kritis, maka benefit akan cair pada saat kondisi penyakit tersebut sudah kritis. Tingkatan pengcoveran level kritis masing-masing perusahaan asuransi berbeda-beda, mulai dari "TERDETEKSI, stadium 1 (a,b) stadium 2 atau beberapa jenis penyakit dicover ketika stadium sudah 4 yang secara media sudah mendekati final/terminal". Nah.
Jadi perlu tidak? Silakan selesaikan dengan Financial Planner anda.

SAYA MENOLAK ASURANSI. BAGAIMANA MENYIAPLAN DANA KESEHATAN? 

Bagi yang tidak setuju dengan konsep asuransi  baik asuransi konvensional ataupun syariah, silakan siapkan dalam DANA DARURAT. Dalam urutan Financial Planning, Dana Darurat menempati prioritas ke-2.
1. Lihat riwayat kesehatan keluarga baik dari garis anda sendiri maupun garis pasangan (minimal dari mulai nenek/kakek), jenis penyakit apa saja yang pernah di derita.
2. Bagaimana GAYA HIDUP anda, cari tahu resiko penyakit yang mungkin ditimbulkan.
3. Cari tahu biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan penyakit-penyakit pada poin 1 & 2. Sakit Jantung misalnya, saat ini anggap butuh biaya setidaknya Rp 400jt.
4. Hitung inflasi biaya kesehatan, misal kenaikan biaya kesehatan 20%, maka setahun kedepan, 400jt akan menjadi 480jt.
5. Tambahkan ke dalam simpanan DD kesehatan dan jumlah terus ditambah mengikuti inflasi kesehatan setiap tahun. Mudah Buka
Ingat, contoh diatas hanya untuk 1 jenis penyakit, hitung detail. Untuk semua resko penyakit dari riwayat keluarga maupun yang mungkin timbul dari GAYA HIDUP.

SALAM FINANCIAL. Empowering Your Financial With Us. 



Artikel telah  diterbitkan di detik finance.


Popular posts from this blog

6 CIRI HIDUP MAPAN, KAMU TERMASUK NGGAK ?

Hidup mapan adalah dambaan dan kewajiban setiap orang. Karena kita diberi Allah kekayaan dan kecukupan, bukan kekayaan dan kemiskinan. Jadi siapa yang menjadikan kita miskin, adalah diri kita sendiri, akibat tidak merencanakan keuangan dengan baik, sehingga timpang dan tidak proporsional dalam membagi pos-pos keuangan. Beberapa contohnya karena tidak mengeluarkan hak Allah, pelit dalam berinfak sedekah, boros, dan banyak mengeluarkan harta secara sia-sia. Rejeki memang Allah yang memberi, namun manusialah yang seharusnya pandai mengatur agar cukup untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan baik di dunia dan akherat kelak, sehingga kemapanan dapat dicapai. Aidil Akbar Madjid dalam kata-kata mutiaranya menulis, jika hidupmu mapan, maka wajahmu (yang tak tampan) akan termaafkan. ” Sepakat, karena setelah mapan, ketampanan itu bisa diusahakan. So, jika hidupmu mapan, pasangan rupawanpun bukan sekedar impian. Ya kan? Banyak orang mengasosiasikan hidup mapan dengan aset yang dimili

NAFKAH ANAK PASCA BERCERAI, TANGGUNGJAWAB SIAPA ?

Sering sekali, pasca cerai, mantan istri banting tulang bak roller coaster demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Suami? Kan kita sudah cerai, dan kamu udah nikah lagi. Pernah dengar yang begini?  Lalu, sebenarnya kewajiban siapakah?  1. Secara syariah  Setiap manusia – selain Adam, Hawa, dan Isa–, tercipta dari satu ayah dan satu ibu. Karena itu, dalam aturan agama apapun, tidak ada istilah mantan anak, atau mantan bapak, atau mantan ibu. Karena hubungan anak dan orang tua, tidak akan pernah putus, sekalipun berpisah karena perceraian atau kematian. Berbeda dengan hubungan karena pernikahan. Hubungan ini bisa dibatalkan atau dipisahkan. Baik karena keputusan hakim, perceraian, atau kematian. Di sinilah kita mengenal istilah mantan suami, atau mantan istri. Dalam islam, kewajiban memberi nafkah dibebankan kepada ayah, dan bukan ibunya. Karena kepada keluarga, wajib menanggung semua kebutuhan anggota keluarganya, istri dan anak-anaknya. Keterangan selengkapny

SHILA FINANCIAL

Shila Financial is a trusted financial consultancy brand committed to providing easy-to-implement, affordable, and professional financial solutions to the public. We recognize that many people struggle with managing their finances, and therefore we have Certified Financial Planners and internationally licensed professionals to help them better plan their finances and achieve a more empowered life and financial position. We have two business units: Shila Consulting and Shila Institute. Shila Consulting focuses on providing financial planning services, tax services, transfer pricing, mental health, branding, media planning and legal services to our clients. Shila Institute offers short classes on financial planning and related matters that are affordable and accessible to the general public, both for individuals and companies. We always prioritize high ethical and professional values in providing our services. We are committed to providing quality and trustworthy services to our clients