PRINSIP DASAR ASURANSI SYARIAH

Asuransi sebagai salah satu lembaga keuangan yang bergerak dalam bidang pertangungan merupakan sebuah institusi modern hasil temuan dari dunia Barat yang lahir bersamaan dengan adanya semangat pencerahan. Institusi ini bersama dengan lembaga keuangan bank menjadi motor penggerak ekonomi pada era modern dan berlanjut pada masa sekarang. Dasar yang menjadi semangat operasional asuransi modern adalah berorientasikan pada sistem kapitalis yang intinya hanya bermain dalam pengumpulan modal untuk keperluan pribadi atau golongan tertentu, dan kurang atau tidak mempunyai akar untuk pengembangan ekonomi pada tataran yang lebih komprehensif.

Lain halnya dengan asuransi syariah. Asuransi dalam literatur keislaman lebih banyak bernuansa sosial daripada bernuansa ekonomi atau keuntungan bisnis (profit oriented). Hal ini dikarenakan oleh aspek tolong menolong yang menjadi dasar utama dalam menegakkan praktik asuransi dalam islam. Hal ini tersirat dalam wujud pensyariatan zakat dalam rukun islam, yang secara tidak langsung merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari konsep pertanggungan dalam islam. Institusi zakat yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim, di sampaing bernuansa ibadah juga merupakan aspek yang berdimensi sosial. Maka, tatkala konsep asuransi tersebut dikemas dalam sebuah organisasi perusahaan yang berorientasi kepada profit, akan berakibat pada penggabungan dua visi yang berbeda, yaitu visi sosial (social vision) yang menjadi landasan utama, dan visi ekonomi (economic vison) yang merupakan landasan periferal.

Islam memiliki sebuah sistem yang mampu memberikan jaminan atas kecelakaan atau musibah lainnya melalui sistem zakat. Bahkan sistem ini jauh lebih unggul dari asuransi konvensional karena sejak awal didirikan memang untuk kepentingan sosial dan bantuan kemanusiaan. Sehingga seseorang tidak harus mendaftarkan diri menjadi anggota dan juga tidak diwajibkan untuk membayar premi secara rutin. Bahkan jumlah bantuan yang diterimanya tidak berkaitan dengan level seseorang dalam daftar peserta tetapi berdasarkan tingkat kerugian yang menimpanya dalam musibah tersebut. Dana yang diberikan kepada setiap orang yang tertimpa musibah ini bersumber dari harta orang-orang kaya dan membayarkan kewajiban zakatnya sebagai salah satu rukun Islam. Di masyarakat luar Islam yang tidak mengenal sistem zakat, orang-orang berusaha untuk membuat sistem jaminan sosial, tetapi tidak pernah berhasil karena tidak mampu menggerakkan orang kaya membayar sejumlah uang tertentu kepada baitul mal sebagaimana di dalam Islam. Yang tercipta justru sistem asuransi yang sebenarnya tidak bernafaskan bantuan sosial tetapi usaha bisnis skala besar dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Sisi bantuan sosial lebih menjadi lips service (penghias) belaka sementara hakikatnya tidak lain merupakan pemerasan dan kerja rentenir.

Suatu asuransi diperbolehkan secara syar'i, jika tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan syariat Islam. Untuk itu dalam muamalah tersebut harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
  • Asuransi syariah harus dibangun atas dasar taawun ( kerja sama ), tolong menolong, saling menjamin, tidak berorentasi bisnis atau keuntungan materi semata. Allah SWT berfirman," Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan."    
  • Asuransi syariat tidak bersifat mu'awadhoh, tetapi tabarru' atau mudhorobah. Sumbangan (tabarru') sama dengan hibah (pemberian), oleh karena itu haram hukumnya ditarik kembali. Kalau terjadi peristiwa, maka diselesaikan menurut syariat.  
  • Setiap anggota yang menyetor uangnya menurut jumlah yang telah ditentukan, harus disertai dengan niat membantu demi menegakan prinsip ukhuwah. Kemudian dari uang yang terkumpul itu diambilah sejumlah uang guna membantu orang yang sangat memerlukan.  
  • Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan supaya ia mendapat imbalan yang berlipat bila terkena suatu musibah. Akan tetepi ia diberi uang jamaah sebagai ganti atas kerugian itu menurut izin yang diberikan oleh jamaah.  
  • Apabila uang itu akan dikembangkan, maka harus dijalankan menurut aturan syar'i.  

Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Dimana nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jual-beli antara nasabah dengan perusahaan).   Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada asuransi konvensional, investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga

Pada asuransi syari'ah premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional, premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut. Bila ada peserta yang terkena musibah, untuk pembayaran klaim nasabah dana diambilkan dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong. Sedangkan dalam asuransi konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.







copyright : Takaful Keluarga

Produk Asuransi Syariah (Takaful)

Produk dalam konsep asuransi syariah, bukanlah komiditi yang dijual untuk mendapatkan hasil/keuntungan, namun produk bertujuan untuk mengukur tingkat risiko kepersertaan nasabah untuk bergabung menjadi keluarga peserta asuransi syariah Semakin tinggi risiko, maka nilai Tabarru yang harus dikeluarkan semakin besar, karena kemungkinan mendapatkan santunan klaim semakin besar.

Dalam Asuransi Kerugian produk akan terus berkembang seiring dengan kemajuan zaman dan kebutuhan manusia yang akan terus meningkat, jenis risiko dan sebabnyapun akan semakin kompleks. Manusia akan semakin berusaha mengurangi risiko yang akan terjadi, sehingga kebutuhan Asuransi Kerugian akan semakin meningkat. Untuk itu Produk akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan.

Tidak semua produk-produk diatas dapat diaksep oleh Asuransi Takaful Umum, karena terlebih dahulu harus memperhatikan hal-hal berikut :
  1. Kaidah Syariah
  2. Claim Ratio (Porto Folio Klaim)
  3. Kapasitas Re-Asuransi
  4. Reciprocal Business
Sejak tahun 2015, produk ATU dibenteuk beberapa Sub-Segment. Tujuan dibentuk segmentasi agar bisa mendapatkan gambaran mengenai kelompok-kelompok peserta ATU yang homogen, dimana tiap kelompok (bagian) dapat dipilih sebagai pasar yang dituju (ditargetkan) untuk pemasaran suatu produk ataupun strategi kebijakan perusahaan dalam melakukan analisa teknik seperti Kebijakan Reasuransi/Retakaful, Strategi Promosi, Strategi Penjualan dan termasuk bisa mempengaruhi kebijakan dalam HRD. Sub-Segmentasi tersebut adalah :
  1. SEGMENT PERSONAL LINE
  2. SEGMENT SMALL MEDIUM ENTERPRISE
  3. SEGMENT CORPORATE
Selain itu, guna mempercepat pelayanan akseptasi maka dibuat sistem FAST FLOW yang merupakan proses akseptasi yang cepat, efektif dan efisien didalam lingkungan internal ATU, karena itu produk-produk yang sudah ditentukan masuk dalam kategori Fast Flow, tidak perlu memerlukan proses akseptasi underwriting. Sedangkan produk-produk yang tidak termasuk ke dalam Fast Flow, dan bisnis-bisnis MEGA RISK, diperlukan persetujuan akseptasi underwriting.



Copy Right : Takaful Umum

Perencanaan Pernikahan

Sebagian isi artikel sudah dimuat di harian Koran Joglosemar 31 Juli 2016 


Dalam merencanakan pernikahan, hal-hal yang harus diperhitungkan adalah : 

1. Pastikan jenis kelamin beda, agama sama.

2. #Mahar /Mas Kawin, yang bersifat materi, bisa uang,  logam mulia, perhiasan, tidak disarankan mukena atau alquran.

3. Biaya nikah : prewed (muslim/ah yg syar'i yaa), gedung, undangan, kostum konsumsi, dll rinci masing2.

4. Tentukan perkiraan kapan nikahnya, berapa tahun lagi. 

5. Karena belum tahu nikah sama siapa (namanya juga persiapan) anggap semua biaya ditanggung sendiri, atau bisa juga pokoknya ntar bagi 2, otomatis cari pasangan yg mau diajak berbagi biaya. 

6. Kenaikan rata-rata biaya pernikahan, boleh pake inflasi 12% atau inflasi 20% per tahun. Nah bisa di hitung proyeksi kebutuhan dananya. 

Misal, mau nikah 5 tahun mendatang, total biaya jika menikah saat ini adalah 100juta, maka 5 tahun mendatang dg kenaikan 12%/tahun akan menjadi 353jutaan. 

Untuk mencapai sejumlah dana tersebut ada waktu 4 tahun utk berinvestasi. Sesuaikan tempat berinvestasinya dg jangka waktu. Jangan sampai salah tempat, salah tempat misal harusnya utk jangka 4 tahun investasi yg di sarankan di reksadana, namun malah menabung, maka jumlah alokasi investasi yg harusnya hanya jtan/bulan bisa berlipat mjd 2 kalinya.

7. Yang tidak kalah penting, kenali calon pasangan : 
  • Tipe keuangan calon pasangan (saver, shopper, dll)
  • Siapa saja yang menjadi tanggungannya, ada tidak beban hutang yg akan di bawa, jika ada sepakati bagaimana nanti setelah menikah
  • Sepakati pengelolaan keuangan setelah menikah (masing², sharing, atau jadi satu).
  • Sepakati antara uang belanja & nafkah (gaji utk istri)
  • Sepakati juga apakah istri boleh bekerja atau tidak, dlm kondisi sseperti apa boleh atau tidak boleh bekerja.
  • Jangan lupa, ini sepele tapi bikin ribut : jadwal berkunjung/mudik ke ortu masing-masing.
Perlu dipahami bahwa masalah keuangan  sebelum menikah jika tidak dibicarakan dan atau sepakati diawal akan menjadi masalah dalam keutuhan rumah tangga. 

8. Jika karena satu dan lain hal, pernikahan harus berlangsung maksimal satu tahun kedepan, maka pernikahan dilaksanakan dengan menggunakan DANA DARURAT.

9.  Jangan ragu menggunakan jasa Financial Planner utk berkonsultasi seputar biaya dan mengenali tipe keuangan pasangan beserta penyelesaiannya nanti dalam pernikahan.

Selamat merencanakan pernikahan. Salam SHILA Financial, Perencana Keuangan Anda. untuk bantuan perencanaan keuangan sila kirim email ke ila.abdulrahman@gmail.com.

Tidak Ada Produk Asuransi Pendidikan, Anda Salah Beli

Sudah lama sekali saya ingin menulis tentang ini, tapi selalu terhalang dengan pekerjaan lain. Well, judul ini sudah pasti kontroversial dan mengagetkan bagi anda. Apalagi anda yang sudah terlanjur SALAH BELI produk yang namanya ASURANSI PENDIDIKAN pasti saat ini deg-degan kalang kabut, bingung, dan ribet deh. Mari kita bahas bersama kenapa Tidak Ada Produk yang namanya Asuransi Pendidikan, dan mengapa ini salah.

Pertama, sudah pernah disinggung dalam tulisan saya sebelumnya, bahkan bila kita belajar tentang produk Asuransi Jiwa, maka di Indonesia produk asuransi jiwa itu sebenarnya hanya ada 4 jenis. Apa saja ke 4 jenis Asuransi Jiwa itu, Asuransi Jiwa Berjangka (TermLife), Asuransi Seumur Hidup (Whole Life), Asuransi Dwiguna (Endowment), dan Asuransi Plus Investasi (Unitlink). Nah lhooooo… terus di mana letak Asuransi Pendidikan?

Sebelum menjawab di mana letak Asuransi Pendidikan dan berasal dari produk yang mana, mari kita bahas dulu apa itu Asuransi? Karena produk yang sering dipergunakan adalah produk Asuransi Jiwa, maka kita lihat dari sisi Asuransi Jiwanya dulu. Produk Asuransi Jiwa adalah suatu produk yang memberikan Proteksi alias Perlindungan dengan memberikan sejumlah Dana kepada Ahli Waris, bila tertanggung (orang yang jiwanya ditanggung) meninggal dunia dalam kurun waktu perlindungan.

Jadi sudah jelas di sini dalam skema perlindungan, apabila anda ingin mendapatkan sejumlah dana (artinya posisinya di sini sebagai ahli waris), berarti harus ada yang meninggal dunia terlebih dahulu (posisinya sebagai tertanggung dalam skema asuransi standar). Dalam UU Asuransi yang baru disebutkan juga ada sejumlah dana yang disisihkan (tabung, bukan investasi ya) bila tidak terjadi risiko meninggal dunia.

Dari sini saja sudah terlihat di mana letak kesalahan yang paling sering dilakukan masyarakat, mereka membeli produk asuransi untuk menabung dana pendidikan, padahal bila ingin menabung sudah ada produk tabungan di bank. Ada juga yang beralasan beli asuransi untuk berinvestasi (korban unitlink nih), padahal juga sudah ada produk investasi murni di perusahaan sekuritas dan manajer investasi.

Lalu, produk yang mana yang kemudian dipergunakan sebagai 'Asuransi Pendidikan' yang salah tersebut? Sudah pasti produk asuransi yang memiliki sejumlah dana yang disisihkan agar bila terjadi atau tidak terjadi risiko meninggal dunia ahli waris tetap mendapatkan dana tersebut. Secara produk berarti yang masuk kategori definisi tersebut adalah produk asuransi Whole Life, Endowment, atau Unitlink.

Apabila anda membeli Asuransi Pendidikan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, kemungkinan besar produk yang dijual kepada anda adalah Asuransi Unitlink yang menggabungkan antara Asuransi Jiwa dan Investasi. Apabila anda membeli di awal-awal tahun 2000an (10 tahun lalu), maka kemungkinan produk Asuransi Pendidikan yang anda beli menggunakan Asuransi Jiwa jenis Endowment.

Jadi sudah jelas ya? Tidak ada produk Asuransi Khusus dengen nama ASURANSI PENDIDIKAN. Asuransi Pendidikan 'hanya label' saja yang dipakai agar anda terlena dan ingin membeli asuransi untuk 'dana pendidikan anak anda', yang pada hakikatnya menggunakan produk Whole Life, Endowment, atau Unitlink (ini yang sekarang paling banyak). Selain salah mengerti tentang produk, ada lagi yang kemudian dikenal dengan salah skema. Apa itu?

Nah, Meskipun secara produk logikanya sudah benar, tapi yang kemudian diperparah adalah skema pembelian asuransinya yang kebanyakan salah dilakukan oleh agen. Akibat dari salah skema penempatan antara pemegang polis, tertanggung dan penerima uang pertanggungan (ahli waris), bisa dipastikan akan semakin memperparah dan memper SALAH penggunaan Asuransi Jiwa (baca Asuransi Pendidikan) bagi kebutuhan dana pendidikan anak-anak anda.

Seperti apa salah skema tersebut akan kita bahas di tulisan-tulisan berikutnya, agar anda tidak salah beli. Agar anda tidak salah beli juga tidak ada salahnya anda belajar alias invest ilmu ke diri anda sendiri melalui materi di kelas dan workshop yang banyak ditawarkan.

Salah satunya adalah workshop mengelola keuangan simple, infonya bisa dibuka di sini, atau workshop tentang belajar berinvestasi, info bisa dibuka di sini. Akan lebih bagus bila kita belajar secara lengkap seperti kelas Basic Financial Planning beberapa hari ini, info bisa dibuka di sini.

Ingat, Jangan sampai salah mengelola keuangan, salah investasi, salah informasi dan salah komunikasi. Biar nggak salah alias miskom, mungkin ada bagusnya belajar juga membaca komunikasi orang lain dan diri sendiri, seperti yang ada di sini.

Banyak fakta mengejutkan dari masyarakat yang sudah mengambil Asuransi Pendidikan untuk anak mereka, ternyata mereka kaget karena dana yang terkumpul tidak sesuai bahkan jauh dari ekspektasi mereka maupun ilustrasi yang diberikan, yang pada akhirnya mereka harus mempersiapkan dana tambahan lagi yang tidak sedikit. Padahal bila uang mereka dari awal diinvestasikan dengan benar, kemungkinan besar anak mereka bisa bersekolah dan kuliah dengan dana yang cukup. So, jangan sampai anda kena salah beli juga.


Copyright detik.com
http://finance.detik.com/read/2016/07/26/070532/3261120/722/tidak-ada-produk-asuransi-pendidikan-anda-salah-beli

Recent

PROFIL FINANCIAL PLANNER - ILA ABDULRAHMAN

ILA ABDULRAHMAN, S.Pt., RIFA, RFC Siti Ruhailah Abdulrahman, S.Pt., RPP, RFA,   RIFA, RFC atau yang dikenal dengan Ila Abdulrahman, ad...

Baca Juga