Kisah 6 Ilmuwan yang Meninggal karena Temuannya Sendiri

Perkembangan sebuah zaman tak lepas dari peran ilmuwan. Namun apa kamu tahu, kisah tragis yang pernah dialami oleh para ilmuwan saat melakukan percobaan? Berikut enam ilmuwan jenius yang meninggal secara tragis akibat teknologi yang ditemukannya.

1. James Heselden

Pada 26 September 2010, James Heselden, pemilik perusahaan Inggris Hesco Bastion, perusahaan yang memproduksi Segway, meninggal akibat mengendarai kendaraan roda dua itu. Menurut saksi mata, pria berusia 62 tahun itu terjatuh dari Segway dan tergelincir ke dalam jurang sedalam 30 kaki. Jasad Heselden dan Segwaynya ditemukan di sungai, di dekat kediamannya di West Yorkshire, Inggris.

2. Marie Curie

Berkat penemuannya, Marie Curie menjadi wanita pemenang penghargaan Nobel pertama sekaligus menjadi orang pertama yang memenangkan dua penghargaan Nobel sekaligus. Namun, Curie juga merupakan korban dari penemuan dan eksperimennya sendiri: unsur radioaktif. Marie menemukan dua unsur radioaktif radium dan polonium. Ia giat sekali menggunakan radon, gas yang dihasilkan oleh unsur radium, untuk penyembuhan penyakit bagi para serdadu yang terluka pada perang dunia pertama.

Belakangan, baru diketahui bahwa radon memiliki sisi yang mematikan. Setelah sekian lama berinteraksi dengan unsur mematikan itu, perlahan kesehatannya terus menurun. Akhirnya Curie meninggal pada 4 Juli 1934 pada usia 66 tahun.

3. Thomas Andrews

Thomas Andrews adalah salah seorang arsitek kapal Titanic, asal Irlandia yang saat itu berusia 39 tahun. Sebagai seorang pembuat kapal yang bertugas mengawal kapal besutannya, Andrews turut dalam perjalanan perdana Titanic. Pada 15 April 1912, akhirnya, sampai akhir hayatnya, Thomas pun ‘mengiringi’ ajal kapal besar itu bersama para penumpang lainnya.

4. Horace Lawson Hunley

Hunley adalah seorang legislator, pengacara, sekaligus insinyur marinir bagi tentara konfederasi AS. Penemuan terkenalnya adalah: kapal selam, yang digunakan pada perang saudara Amerika Serikat. Namun, saat itu penemuan Hunley memang belum memiliki standar pengamanan yang cukup bagi manusia. Lima dari sembilan anak buah kapal selam saat itu meninggal pada misi penyelaman perdana.

Pada 15 Oktober 1863, Hunley akhirnya turut ambil bagian pada uji coba kedua, yakni dengan misi penyerangan terhadap pemblokiran kelompok Union di Charleston Harbour. Pada uji coba kedua ini, semua kru kapal selam termasuk Hunley yang saat itu berusia 40 tahun, meninggal. Setelah hilang selama 132 tahun, akhirnya jenazah Hunley ditemukan di dasar Samudra Atlantik, di dekat Charleston Harbour.

5. Alexander Bogdanov

Tak banyak yang mengenal nama ini. Namun, temuannya sangat penting bagi dunia kedokteran: transfusi darah. Bogdanov, yang juga seorang ekonom, profesor, dokter, dan pendiri Bolshevisme, mencoba untuk menyediakan transfusi darah secara terus-menerus.

Pada 1928, Bogdanov berhasil mengujikan alat transfusi ini pada dirinya hingga 11 kantong. Namun, saat mentrasnfusikan darah ke kantong ke-12 ternyata berakibat fatal. Bogdanov kemudian meninggal dunia. Para peneliti terbelah mengenai penyebab meninggalnya ilmuwan 55 tahun itu. Ada yang mengatakan ia terkena penyakit infeksi darah, inkompatibitas jenis darah, atau bahkan bunuh diri.

6. William Bullock

William Bullock adalah pria kelahiran New York, tahun 1813, yang menemukan alat press cetak putar. Alat ini bekerja mengepres dengan memutar rol kertas secara kontinyu. Kisah legenda yang berkembang, kemudian menyebutkan Bullock secara tak sengaja tubuhnya tertarik oleh putaran mesin. Kakinya luka oleh mesin ini. Belakangan pria yang saat itu berusia 54 tahun itu, mengalami infeksi dan tak lama kemudian ia meninggal dengan kakinya yang telah membusuk. (War)*

© liputan6.com

Keuangan Kalangan Menengah Ngehek

ILA ABDULRAHMAN, S.Pt., RIFA, RFC

Dewasa ini prioritas keuangan bukan lagi untuk pemenuhan kebutuhan hidup, namun menjadi pemenuhan yang bersifat keinginan atau “prestise” belaka. Lebih baik “makan prestise” daripada makan nasi, demi kelihatan gaya, stylish, meski kantong megap-megap, meski tidak sedikit yang tetap menjadikan kebutuhan sebagai prioritas, yaitu mereka yang memahami pentingnya hidup sejahtera di masa depan.

Data riset di LIPI menyebutkan bonus demografi indonesia akan mengalami puncaknya di tahun 2035. Bonus demografi secara sederhana dimaknai sebagai penduduk produktif yang  menjadi inti penggerak kehidupan ekonomi suatu negara dengan rasio 5 : 1. Kasus Indonesia memperlihatkan bahwa jumlah penduduk usia produktif mencapai 62,7 persen dari keseluruhan jumlah populasi penduduk sebesar 237 juta orang pada tahun 2013-2014. Jumlah penduduk usia produktif tersebut mengalami tren kenaikan sebesar 10 persen setiap tahunnya hingga mencapai puncaknya pada tahun 2035.

Meminjam istilah dari Wasisto Raharjo Jati,  Peneliti Pusat Penelitian Politik – LIPI, Bonus demografi melahirkan generasi “kelas menengah ngehek” yaitu kelas menengah Indonesia yang manja, konsumtif, dan juga anti terhadap perubahan. Mereka lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan hidup sekunder daripada primer, mementingkan gaya hidup modern, dan melek terhadap hingar-bingar media dan teknologi.

“Kelas menengah ngehek” secara finansial masuk dalam kategori pertama, makan gaya daripada makan nasi. Ibaratnya makan tidak lagi yang penting “kenyang”kebutuhan makan terpenuhi dan hanya sesekali menjadi keinginan, tapi setiap saat sudah menjadi “makan apa, makan dimana, makan sama siapa” untuk kepentingan publisitas di sosial media. Dampaknya, kadang selain membuat kantong jebol, juga hanya kenyang “like” daripada kenyang perut, serta kebangkrutan yang akan mendera karena mengabaikan prinsip perencanaan keuangan jika tidak segera diantisipasi.

Gaya hidup kelas menengah ngehek yang konsumtif merupakan suatu kelemahan yang perlu dihindari, dicegah dan disalurkan ke dalam-hal-hal yang positif. Bagaimana mengatur keuangan untuk “kelas menengah ngehek”? Yaitu dengan mengarahkan menjadi gaya hidup yang investatif. Beberapa diantaranya adalah, investasi leher ke atas, benda koleksi, benda investasi selain tentunya sebelumnya telah dilakukan pemenuhan prioritas keuangan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. 

Investasi Leher Ke Atas

Untuk menjadikan gaya hidup komsumtif dan manja, kelas menengah ngehek harus dermawan. Investasi  ilmu untuk  diri sendiri, sebagai modal dari gaya ngehek tersebut. Yang utama dan pertama adalah memahami ilmu merencanakan keuangan, agar kebutuhan dan kengehakan sama-sama terpenuhi. Untuk ilmu ini bisa ikut kelas –kelas yang diselenggarakan oleh SHILA FINANCIAL.

Investasi ilmu lain, misal agar foto narsis diri, barang, makanan dan tempat yang dishare bernilai setiap saat, maka perlu investasi dalam bentuk ilmu fotografi, ilmu menulis, baik dalam kelas profesional atau kelas-kelas klasikal yang diadakan oleh komunitas-komunitas sosial media.  Atau ikut kelas public speaking, jika pengalaman ngehek tersebut ternyata banyak peminatnya untuk disharing dalam sesi-sesi seminar.

Benda Koleksi

Konsumtiflah terhadap benda-benda yang bernilai atau akan bernilai, misal koleksi mata uang, batu-batuan, seperti berlian, kerajinan khas daerah, kain batik khas daerah, benda-benda khas dari cafe tertentu yang bernilai tukar maupun jual atau benda dari brand tertentu yang sudah punya komuitas pembelinya.

Benda Investasi

Selain Konsumtif terhadap benda koleksi yang (kadang) bernilai investasi, Kelas menengah ngehek juga bisa menyalurkan langsung dengan benda investasi, seperti perhiasan emas, logam mulia, dinar, dirham, dll.

Dan sebelum melakukan 3 hal di atas, sudah seharusnya  telah :

  1. Lunas semua hutang konsumtif.
  2. Memiliki dana darurat, sesuai dengan pendapatan dan jumlah tanggungan.
  3. Memiliki  asuransi kesehatan dan asuransi jiwa dengan Uang Pertanggungan yang telah sesuai.
  4. Telah berinvestasi sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan diantaranya, dana pernikahan untuk yang masih single, dana pendidikan anak, dana pensiun, dana pernikahan anak, perjalanan rohani dan wakaf jariyah untuk yang beragama islam.

Jika keempat hal tersebut belum dimiliki, maka ke-ngehekan itu mungkin hanya akan bertahan sekejap waktu, selanjutnya harus terus bekerja keras, dan mungkin tanpa bisa pensiun sejahtera.

Semoga bermanfaat dan salam finansial !

MEMBELI UNIT LINK? FAHAMI RISIKO INI

ILA ABDULRAHMAN, S.Pt., RIFA, RFC



Jaman sudah semakin mutakhir, e-money, fintech namun masih saja bahasan seputar unit link tak pernah berakhir. Ditawarkan dan jual dengan berbagai nama, mulai dari dana pensiun, dana pendidikan, dana haji, dana wakaf, asuransi jiwa dan lainnya. Penawarannyapun semakin beragam salah satunya  dengan sistem mirip Multi Level Marketing (MLM). Masyarakat sering tidak menyadari bahwa produk tersebut adalah unit link.


Meskipun tumbuh paling fenomenal, Asuransi Jiwa unit-link tidak jarang menimbulkan kontroversi dan perdebatan. Selain karena unit link cukup advanced, pemahaman soal manfaat dan risiko produk ini kerap kurang tepat. Kurangnya pemahaman beresiko salah pilih produk. Dan data dari IARFC Indonesia menyatakan bahwa 9 dari 10 orang indoneisa salah beli asuransi. Anda tidak termasuk kan?


Para perencana keuangan di IARFC menggunakan Unit Link untuk kebutuhan asuransi dengan kasus-kasus khusus, berdasarkan analisa mendalam terhadap kondisi keuangan masing-masing orang. Seperti  jenis pekerjaan, posisi, jabatan, besar aset, beban pajak dan lain sebagainya.


Apa Itu Unit Link ?


Unit link adalah produk yang menggabungkan antara proteksi dan investasi, sehingga  proteksi dan investasi ada dalam satu paket. Proteksi dan investasi adalah 2 hal yang wajib dalam hal perencanaan keuangan, investasi untuk memenuhi tujuan keuangan, dan protkesi untuk melindungi risiko seperti  hilangnya pendapatan karena meninggal, cacat tetap atau sakit.

Unit link menjadi produk yang “dianggap” menarik, karena memberikan ilustrasi  return atau  imbal hasil atau keuntungan diatas tabungan dan deposito. Selain itu  rendahnya kesadaran masyarakat untuk berasuransi, karena beranggapan jika berasuransi tidak ada manfaat dan duit hangus, menjadikan produk Unit Link  tumbuh dan berkembang,

Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Maret 2014, dari 240 juta penduduk indonenesia hanya, hanya sekitar 43,7 juta orang atau hanya sekitar 18 persen dari total penduduk Indonesia memiliki perlindungan asuransi jiwa. Dan dari 43,7 juta orang tersebut, hanya sekitar 11 juta orang atau hanya 4,5 persen dari total populasi yang memiliki asuransi jiwa individu. 


Cara kerja Unit Link 


Premi atau kontribusi yang dibayarkan oleh nasabah dibagi ke dalam 2 keranjang, yaitu keranjang asuransi dan keranjang investasi. Keranjang asuransi untuk membayar premi resiko, meninggal, cacat tetap, sakit dll. Keranjang Investasi di investasikan dan di potong beban-beban biaya,  inilah yang menjadi milik nasabah, yang  (sebenarnya) bisa diambil sewaktu-waktu, dengan risiko nilai tunai lebih kecil dari jumlah dana yang sudah disetorkan.


Proteksi Dalam Unti Link 


Dalam produk unit link terdapat 1 proteksi wajib  (asuransi jiwa) dan sekitar 8 proteksi tambahan /rider: kecelakaan, cacat  tetap total, Critical illness, payor term, payor tpd, payor ci, cash plan, Hospital Rider (asuransi kesehatan).


  Proteksi WAJIB  Santunan meninggal  atau biasa di sebut Uang Pertanggungan (UP) 

  Proteksi Tambahan (Rider)
  1.  Santunan Kecelakaan (meninggal karena kecelakaan)  
  2.  Santunan Cacat Tetap Total (Total Permanent Dissability), akan sekian persen, jika mengalami cacat  tetap sebagian, misal kehilanagn ibu jari tangan, lengan, atau kaki saja.
  3.  Santunan Harian Rawat Inap (Cash Plan), berlaku double/triple klaim atau lebih, klaim dengan menggunakan dokmen yang  dilegalisir, karena asli biasanya di minta oleh asuransi yang mengcover rawat inap di rumah sakit. 
  4.  Hospital Rider (Biaya Rawat Inap/Asuransi Kesehatan), single klaim, berlaku dokumen Asli. Hanya di cover (diganti) oleh salah satu asuransi, jika memiliki lebih dari 1, maka tidak bisa di klaim ke yang lain, kecuali kekurangannya. Misal, rawat inap habis 30 jt, sudah di cover semua oleh Asuransi A, maka Asuransi B, tidak akan membayar, kecuali, asuransi A hanya mengcover 20 jt atau berapa, maka  asuransi B akan membayar kekurangannya. , jika sudah memiliki cover , tidak perlu membeli manfaat ini. 
  5.   Santunan Penyakit Kritis  (Criticall Illness), harus anda baca detail dalam polis, kapan di covernya, apakah begitu dokter menyatakan terdeteksi, atau setelah stadium atau pada kondisi tertentu, sehingga tidak terjadi salah persepsi, salah Klaim 
  6.   Payor (waver Premium) TPD/DD : pembebasan kontribusi jika cacat tetap total karena kecelakaan 
  7. Payor CI : pembebasan premi jika sakit kritis, harus di baca detail syarat dan ketentuan , seperti poin f. 
  8. Payor Term : pembebasan premi jika Pemegang Polis/Penanggung Tutup Usia.

Jika Anda memutuskan membeli Asuransi Unit link maka setidaknya risiko-risiko ini harus siap anda terima :


Tidak Optimal Baik Proteksi Maupun Investasi.


Beli satu dapat 2, membayar satu premi mendapatkan fungsi investasi dan proteksi. Namun tidak optimal baik proteksi maupun hasil investasinya, dibandingkan jika asuransi dan investasi dipisah


Misal untuk membeli jumlah Uang Pertanggungan (UP)  yang sama Rp 2 milyar misalnya, menggunakan produk asuransi jiwa berjangka murni memerlukan premi  sebesar Rp 11 jutaan per tahun, sedangkan menggunkan produk Unit Link memrlukan premi  Rp 16 jutaan (Rp 11 juta masuk keranjang asuransi, Rp 5 juta masuk keranjang investasi).  Padahal jika di pisah membeli  asuransi jiwa Rp 11 juta dan berinvestasi Rp 5 juta hasil investasinya jauh lebih besar dibanding jika di unit link.  Tapi kan jika di unit link tidak “hilang”? Rp 11 juta yang masuk keranjang asuransi itu “hilang” juga. Dikatakan tidak hilang karena ada dana dari keranjang investasi sebsar Rp 5 juta per tahun, setelah dikurangi beban biaya-biaya..


Beban Biaya yang Banyak dan Besar


Tidak perlu repot mengolah, mencari dan mengelola investasi. Namun kemudahan ini harus difahami ada kompensasi  biaya yang dibayar, biaya free look, biaya pengelolaan/akuisi di 5 tahun pertama atau di tengah atau diakhir kepesertaan (bank end loaded), total antara 70%-300%, biaya pengalihan,  biaya manajemen, biaya penarikan, biaya administrasi, biaya top up, biaya custody, Cost of Insurance (CoI), cor yang terus meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan usia, dll. Di beberapa perusahan asuransi, belum ada investasi di tahun pertama.

Tahukah bahwa  kemudahan itupun sebenarnya dapat anda peroleh dengan berkonsultasi kepada profesional dengan biaya yang jauh lebih sedikit dibanding total biaya yang dibebankan oleh unit link?


Semakin Banyak Jenis Proteksi yang Diambil,   Semakin Besar Premi Asuransi


Unit Link menawarkan berbagai asuransi tambahan (rider), seperti asuransi kesehatan, cacat tetap, penyakit kritis dan lain – lain. Dengan begitu, nasabah tidak perlu direpotkan lagi, mencari – cari sendiri asuransi tambahan. Semakin banyak rider yang anda beli maka semakin besar alokasi keranjang asuransi, dan semakin kecil alokasi keranjang investasi., sehingga semakin kecil nilai tunai yang diperoleh. Padahal belum tentu rider itu Anda butuhkan. Sangat mungkin bahkan jika rider itu Anda butuhkan tersedia menempel di produk asuransi Jiwa berjangka dengan premi yang jauh lebih ringan.


Under atau Over Insurance 


Mudah, ada dimana-mana, agen yang mendatangi calon nasabah, namun juga sering tidak sesuai antara premi dengan benefit proteksi yang dibutuhkan karena tidak dihitung berdasarkan kebutuhan proteksi tetapi di hitung dari “ikut berapa per bulan.” Yang terjadi adalah under insurance, atau jauh dari kebutuhan yang sebenarnya. Atau jika satu orang memniliki beberapa polis bahkan sering puluhan polis, terjadi over insurance, namun tidak memiliki alokasi investasi.

Nah, sudah memahami rsisikonya? Pastikan Anda tidak salah beli asuransi. Ingin menambah wawasan seputar asuransi dan perencanaan keuangan silakan ke sini .


Semoga bermanfaat dan Salam Financial, Empowering Your Financial!     

Artikel telah diterbitkan oleh detik finance.
                                                                                                                                                               

MAHAR ITU HALAL BERSAMAMU, BUKAN TERJEBAK UTANG BERSAMAMU


ILA ABDULRAHMAN S.Pt., RIFA, RFC

Mahar, syarat yang mudah dalam pernikahan namun terkadang berubah menjadi rumit dan berat. Dampaknya? Pernikahan sangat mungkin  batal. Di sisi lain ada yang memenuhi besarnya mahar diluar kemampuan dengan berutang, sehingga kelar akad nikah muncullah cicilan, dan ini sedang menjadi tren, entah mengambil kredit multiguna atau Kredit Tanpa Agunan (KTA) yang bunganya relatif tinggi.
Rumitnya mahar dan berat untuk sebagian orang ketika bersandingan dengan adat istiadat ataupun kebiasaan masyarakat setempat, bahwa mahar harus sekian puluh bahkan ratus juta sesuai dengan tingkat pendidikan calon mempelai perempuan, seperti di daerah Bugis. Tak jarang calon mempelai pria mundur, karena tidak mampu memenuhi jumlah mahar yang diinginkan. Dari hasil diskusi di grup telegram misalnya, di Aceh mahar biasanya seberat 10 maryam emas, satu maryam setara dengan 3,3 gram emas, sehingga berat mahar sebesar sekitar 33 gram emas. Daerah lain  yang terkenal paling mahal adalah daerah Bugis bisa mencapai milyaran rupiah, dimana disesuaikan dengan strata sang wanita, mulai dari kecantikan, keturunan,  pendidikan dan pekerjaan calon mempelai wanita. Semakin tinggi strata nya maka mahar yang biasa disebut dengan uang panai akan semakin mahal.
Mahar Sebaiknya Barang Bernilai Ekonomi.
Dalam islam mahar merupakan salah satu syarat sah pernikahan berdasarkan ijmak ulama, hal ini berdasarkan pada firman Allah QS An-Nisa’ 4:4. Namun demikian, tidak ada batas minimal atau maksimal mengenai nilai mahar. Dalam QS Al-Baqarah 2:236 Allah hanya memberi kisi-kisi bahwa mahar sebaiknya menurut kemampuan calon suami.
Perempuan yang baik adalah yang mudah (murah) maharnya, namun dibolehkan seorang perempuan menentukan jumlah mahar yang diinginkan. Bagi calon suami ada 2 pilihan, mengabulkan jika mampu atau menolak.
Selain tradisi mahar seperti di aceh dan bugis di atas, dewasa ini sangat lazim memberikan mahar seperangkat alat sholat dan Alquran. Meski tidak dilarang, dianjurkan mahar adalah barang yang bernilai, dapat dinilai oleh masyarakat misal uang, perhiasan, tabungan, reksadana, tanah, rumah, mobil, dsb. Jangan sampai mahar menjadi hal yang kurang bermanfaat atau malah memberatkan. Alquran dan Alat sholat pastinya sudah dimiliki oleh setiap perempuan muslim. Namun tak mengapa mahar mukena misal satu truk, bisa dijual dan bernilai ekonomi, langsung buka toko grosir mukena kan ya.
Mangambil Pinjaman Untuk Pernikahan
Mahar sudah selesai, tibalah beberapa bulan menjelang hari H, ternyata mempelai perempuan menghendaki mahar, uang lain-lain yang totalnya diluar ketersediaan. Calon mempelai perempuan dan keluarga kemudian menyarankan untuk mengambil pinjaman untuk memenuhinya, dengan dalih, “mahar saja boleh utang, masa utang untuk mahar tidak mau.” Ya, berutang untuk mahar dibolehkan.
Sebelum memutuskan mengambil pinjaman untuk nikah, setidaknya beberapa hal ini perlu dipertimbangkan :
  1. Pinjaman sifatnya tambahan atas kekurangan bukan sumber utama. 
  2. Cicilan.  Berapa besaran cicilan atas pinjaman yang akan diambil. Ingat maksimum cicilan semua utang adalah 30% dari pendapatan. Itupun untuk cicilan yang sifatnya cicilan utang produktif. 
  3. Kebutuhan Hidup Setelah Menikah. Setelah menikah menyusul beberapa macam tujuan keuangan, seperti KPR, kehamilan, kelahiran dan aqiqahnya, biaya pendidikan  dan pernikahan anak, belum untuk kebutuhan pribadi seperti investasi dana pensiun, dana haji bagi muslim dan investasi wakaf. 
  4. Masalah uang sumber masalah dengan pasangan. 70% perceraian di indoneia disebabkan oleh masalah ekonomi yang dialami oleh keluarga muda, keluarga yang baru menikah dibawah usia pernikahan 5 tahun. Ini dapat di artikan bahwa kondisi keuangan yang sehat harus dicapai agar terhindar dari risiko 70% tersebut.
Biasanya yang mengambil pinjaman sebagai sumber utama untuk pernikahan adalah mereka-mereka yang sama sekali belum mempersiapkan pernikahan, bisa karena memang belum mengalokasikan atau mendadak menikah.
Nah, sudah mempertimbangkan dan menghitungnya? Pastikan jika memutuskan mengambil pinjaman untuk mahar dan pernikahan, kebutuhan investasi setalah menikah tetap dapat terpenuhi. Ingat setelah akad nikah kehidupan yang sebenarnya baru di mulai. Ada pepatah mengatakan, “jika cinta itu buta (Butuh Uang, Tabungan dan Aset) pernikahanlah yang membuktikan semuanya.” Jangan sampai tujuan pernikahan yang sakral tercemari dengan beban cicilan utang saat pernikahan, yang membuat jalannya roda rumah tangga terseok-seok bahkan hancur. Ingat mahar itu sarana untuk halal bersama bukan menjebloskan ke dalam jeratan utang setelahnya.
Rencanakan Pernikahan Anda, jauh-jauh hari, termasuk didalamnya mahar ini, yaitu sejak Anda punya gandengan atau sudah berhayal tentang pernikahan. Hayalan itu pastinya sudah membayangkan dong dengan siapa nanti ke penghulu dan disahkan? Nah, bangunlah dari hayalan atau impian itu untuk mewujudkannya. Bagaimana caranya adalah dengan mencari informasi adat istiadat dan tradisi mahar dari calon mempelai yang anda impikan, hitung dan mulai cicil dari berpenghasilan.
Misal Anda ingin seperti Hamish Daud memberi mahar 500 gram emas kepada Raisa, atau misal cukup 50 gram emas. Rencana menikah usia 27 tahun, saat ini usia anda 23 tahun, ada waktu 4 tahun untuk mulai menyicil emasnya dari sekarang. Anda tinggal membagi jumlah emas dengan sisa waktu, sehingga dengan contoh tersebut Anda punya waktu menyiapkan 50 gram emas dalam 4 tahun. Coba dihitung, berapa gram per bulan? Mudah bukan.
Semoga bermanfaat, salam finansial!

Artikel telah diterbitkan di Detik Finance.

Recent

PROFIL FINANCIAL PLANNER - ILA ABDULRAHMAN

ILA ABDULRAHMAN, S.Pt., RIFA, RFC Siti Ruhailah Abdulrahman, S.Pt., RPP, RFA,   RIFA, RFC atau yang dikenal dengan Ila Abdulrahman, ad...

Baca Juga