Dengan Pendekatan Hukum & Financial Planning.
Perceraian bukan hanya peristiwa hukum.
Ia juga peristiwa finansial.
Banyak perkara nafkah diperdebatkan dalam angka yang emosional. Padahal, jika dihitung dengan pendekatan hukum dan financial planning, hasilnya bisa lebih adil, realistis, dan minim konflik lanjutan.
Simulasi dalam tulisan ini menggunakan asumsi:
-
Penghasilan suami: Rp10.000.000 per bulan
-
1 orang anak
-
Istri tidak bekerja selama perkawinan
NAFKAH MANTAN ISTRI
1️⃣ Nafkah Iddah
Apa Itu?
Nafkah yang wajib diberikan suami kepada mantan istri selama masa iddah (±3 bulan bagi yang masih haid).
Dasar Hukum
- Al-Qur'an QS. At-Talaq: 6
- QS. Al-Baqarah: 241
- KHI Pasal 149 huruf (b)
- KHI Pasal 152
Tujuan Finansial
Sebagai biaya hidup transisi setelah perceraian.
Simulasi Angka
Jika selama perkawinan istri menerima nafkah Rp4.000.000 per bulan, maka:
Rp4.000.000 × 3 bulan = Rp12.000.000
Itulah kisaran wajar nafkah iddah.
Jika kondisi ekonomi lebih terbatas, bisa disesuaikan (misalnya Rp3 juta × 3 bulan = Rp9 juta).
📌 Prinsipnya: sesuai kemampuan suami dan standar hidup sebelumnya.
2️⃣ Mut’ah
Apa Itu?
Pemberian sebagai penghormatan dan kompensasi moral atas perceraian.
Dasar Hukum
- Al-Qur'an QS. Al-Baqarah: 236–237, 241
- KHI Pasal 149 huruf (a)
Fungsi dalam Financial Planning
Mut’ah idealnya diposisikan sebagai:
- Dana transisi
- Modal kemandirian ekonomi
- Buffer fund setelah perceraian
Simulasi Angka
Dalam praktik, mut’ah sering setara 1–6 bulan nafkah.
Misalnya:
Nafkah bulanan Rp4.000.000
Diputuskan 4 bulan nafkah
Rp4.000.000 × 4 = Rp16.000.000
Jika perkawinan lama (misal >10 tahun), bisa lebih tinggi.
3️⃣ Nafkah Madhiyah (Nafkah Lampau)
Apa Itu?
Nafkah yang seharusnya diberikan selama perkawinan tetapi tidak dipenuhi.
Dasar Hukum
- Al-Qur'an QS. Al-Baqarah: 233
- KHI Pasal 80 ayat (4)
Simulasi
Misalnya:
Selama 8 bulan terakhir istri tidak diberi nafkah.
Standar nafkah layak: Rp4.000.000 per bulan
Rp4.000.000 × 8 = Rp32.000.000
Itulah potensi tuntutan nafkah madhiyah.
📌 Harus dibuktikan dalam persidangan atau diakui.
4️⃣ Kerugian Finansial Lain. Misal Istri Tertular Penyakit Seksual (Suami Terbukti Bersalah)
Dalam kasus lain misal suami terbukti “jajan” (putusan sudah inkrah) dan istri tertular penyakit seksual kronis, maka muncul aspek kerugian finansial tambahan.
Ini bisa dimasukkan dalam:
- Tuntutan nafkah tambahan
- Gugatan ganti rugi
- Bagian dari mut’ah yang diperbesar
Simulasi Biaya Pengobatan
Misal:
- Obat rutin: Rp1.500.000 per bulan
- Kontrol dokter: Rp500.000 per bulan
Total: Rp2.000.000 per bulan
Dalam setahun:
Rp2.000.000 × 12 = Rp24.000.000
Jika harus dikonsumsi seumur hidup (misal estimasi 20 tahun):
Rp24.000.000 × 20 = Rp480.000.000
Belum termasuk:
Biaya Konseling & Terapi Trauma (Level Berat)
- Sesi psikolog klinis: Rp500.000/sesi
- 4 sesi per bulan
= Rp2.000.000 per bulan
Dalam 1 tahun:
Rp24.000.000
Jika terapi intensif 2 tahun:
Rp48.000.000
Total potensi beban medis + psikologis bisa melampaui Rp500 juta dalam jangka panjang.
Dalam konteks ini, mut’ah dan kompensasi finansial tidak lagi sekadar transisi, tetapi bentuk tanggung jawab atas kerugian nyata.
NAFKAH ANAK
Nafkah Anak: Jangan Hanya Nominal Bulanan
Banyak gugatan hanya menuliskan:
“Menghukum Tergugat membayar nafkah anak sebesar RpX per bulan.”
Padahal kebutuhan anak tidak berhenti pada makan dan transport.
Komponen Ideal Perencanaan Nafkah Anak
1️⃣ Biaya Hidup Rutin
- Makan
- Tempat tinggal
- Transportasi
- Pakaian
- Kebutuhan harian
Biasanya dihitung 30–50% dari penghasilan ayah, tergantung jumlah anak dan standar hidup sebelumnya.
Praktik umum: 30–50% dari penghasilan ayah. 1 anak 30%. 2 anak 40%, 3 anak atau lebih 50%.
Dengan income Rp10 juta:
- 30% = Rp3.000.000
- 40% = Rp4.000.000
Untuk 1 anak, angka realistis: Rp3.000.000 per bulan
Dalam setahun:
Rp3.000.000 × 12 = Rp36.000.000
2️⃣Biaya Pendidikan (Harus Direncanakan)
Alih-alih hanya mencantumkan “biaya pendidikan ditanggung ayah”, sebaiknya dibuat perencanaan:
- Target sekolah (negeri, swasta, internasional)
- Proyeksi kenaikan biaya sekolah (rata-rata 10–15% per tahun)
- Biaya masuk, SPP, buku, les
- Rencana kuliah (dalam/luar negeri)
📌 Idealnya dibuat:
- Estimasi total biaya hingga lulus SMA/kuliah.
- Dibagi menjadi kewajiban bulanan atau dana khusus pendidikan
Ini jauh lebih kuat dibanding hanya menuntut nominal tanpa data.
Misal target sekolah swasta menengah:
- Uang masuk: Rp15.000.000
- SPP: Rp1.000.000/bulan
- Kenaikan rata-rata 10% per tahun
Jika dihitung sampai lulus SMA (12 tahun), estimasi total bisa mencapai ± Rp250–300 juta.
Artinya:
Bisa disepakati:
- Ayah menanggung penuh biaya sekolah di luar nafkah bulanan, atau
- Dibentuk dana pendidikan khusus (misal Rp1.000.000/bulan dialokasikan sejak dini)
3️⃣Biaya Kesehatan
- BPJS atau asuransi
- Dana darurat medis
- Rawat inap dan tindakan besar
Bisa disepakati:
- Ditanggung penuh oleh ayah
atau - Dibagi proporsional
4️⃣Biaya Pernikahan Anak
Sering terlupakan dalam gugatan.
Padahal dalam praktik sosial dan fikih, ayah memiliki tanggung jawab moral dan finansial membantu pernikahan anak, khususnya anak perempuan, sepanjang mampu.
Perencanaan bisa berupa:
- Dana pernikahan jangka panjang
- Nominal maksimal kontribusi
- Skema tabungan bersama
Ini lebih bijak daripada menunggu konflik saat anak dewasa.
Misal target pernikahan sederhana: Rp150.000.000.
Jika direncanakan 20 tahun:
Rp150.000.000 ÷ 240 bulan = ± Rp625.000 per bulan.
Dengan perencanaan, ringan.
Tanpa perencanaan, berpotensi konflik besar saat anak dewasa.
Gambaran Beban Finansial Tahun Pertama (Simulasi)
Dengan asumsi:
- Nafkah anak: Rp3.000.000/bulan = Rp36.000.000
- Nafkah iddah: Rp12.000.000
- Mut’ah: Rp16.000.000
- Tanpa madhiyah
Total tahun pertama:
Rp64.000.000
Jika ditambah pengobatan istri (Rp24 juta/tahun):
Total menjadi ± Rp88.000.000
Artinya hampir 9 bulan penghasilan.
Karena itu, perhitungan rasional dan kesepakatan matang jauh lebih penting daripada tuntutan emosional.
6️⃣ Kesepakatan Sebelum Gugatan: Jalan Dewasa yang Lebih Tenang
Secara hukum, hakim berwenang menetapkan nafkah berdasarkan kepatutan dan kemampuan (lihat KHI dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 41).
Namun praktik terbaik adalah:
✅ Semua angka dihitung dulu.
✅ Dibuat simulasi realistis.
✅ Disepakati sebelum gugatan diajukan.
Opsi:
- Kesepakatan tertulis sendiri
- Menggunakan mediator
- Menggunakan penasihat hukum
Lalu dituangkan dalam:
📄 Surat Kesepakatan Perceraian
📑 Kesepakatan Perdamaian
Sehingga pengadilan hanya mengesahkan, bukan menjadi arena konflik.
Mengapa Perencanaan Lebih Penting dari Perdebatan?
Karena:
- Anak butuh stabilitas, bukan pertengkaran.
- Keuangan butuh struktur, bukan emosi.
- Sengketa berulang sering terjadi karena tidak ada perencanaan jangka panjang.
Penutup
Perceraian bukan hanya soal putusnya hubungan suami-istri.
Ia adalah proses merancang ulang struktur keuangan keluarga.
Dan setiap angka dalam gugatan seharusnya lahir dari perhitungan, bukan kemarahan.
Pendekatan hukum memberi dasar.
Financial planning memberi arah.
Dan ketika keduanya dipadukan, keadilan menjadi lebih nyata — bukan sekadar tuntutan.
Jika kesepakatan bisa dibuat sebelum sidang,
maka pengadilan menjadi tempat pengesahan — bukan arena pertarungan.
Jangan sampai anak kandung terlantar, sementara anak tiri justru dinafkahi.
Itu bukan keadilan. Itu kebolak.
Butuh Simulasi & Perhitungan yang Lebih Personal?
Setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda:
-
Penghasilan tetap atau tidak tetap
-
Jumlah anak
-
Target pendidikan
-
Riwayat nafkah selama perkawinan
-
Kerugian medis atau psikologis
Angka yang adil untuk satu keluarga belum tentu adil untuk keluarga lain.
Jika Anda ingin:
✔ Menghitung simulasi nafkah yang realistis berdasarkan penghasilan riil
✔ Menyusun draft kesepakatan sebelum masuk pengadilan
✔ Merancang skema pembagian tanggung jawab yang minim konflik
✔ Mendapatkan pendampingan mediasi berbasis hukum & financial planning
Silakan hubungi kami untuk sesi konsultasi.
👉 KLIK DI SINI! untuk menjadwalkan konsultasi Anda.
Karena perceraian yang matang bukan yang paling keras di ruang sidang —
melainkan yang paling tertata setelahnya.
Penulis : Ila Abdulrahman, Narasi dibantu oleh AI.
