Perencanaan Keuangan??? (3)

Apa Saja Isi Sebuah Perencanaan Keuangan Yang Komprehensif?

Dokumen Perencanaan Keuangan anda tidak hanya berisi strategi keuangan anda, akan tetapi memiliki rencana pengembangan dari perencanaan itu sendiri.
Sebuah Perencanaan Keuangan yang komprehensif idealnya memiliki 13 pilar atau area dari situasi keuangan anda. Akan tetapi, pada prakteknya belum tentu seluruh 12 area tersebut di perlukan dalam Perencanaan Keuangan setiap individu.

Meskipun seluruh area masuk ke dalam sebuah Perencanaan Keuangan, bukan berarti perencanaan tersebut akan menjadi panjang, akan tetapi area-area tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

  1. Data Pribadi atau informasi pribadi, termasuk data orang-orang yang akan masuk ke dalam perencanaan anda (istri, anak, dll). 
  2. Tujuan dan arah investasi anda, termasuk juga skala prioritas dari tujuan investasi tersebut serta kapan anda menginginkan tujuan tersebut terlaksana. 
  3. Meng-Identifikasi permasalahan, termasuk di dalamnya adalah biaya pendidikan anak, pembayaran pajak, penyakit parah atau penyakit menurun, factor-faktor lainnya yang mungkin dapat menjadi permasalahan besar di masa yang akan datang. Area ini dapat do identifikasikan oleh anda maupun konsultan anda. 
  4. Asumsi yang akan di pakai dalam mempersiapkan perencanaan seperti angka inflasi secara rata-rata, suku bunga dan hasil investasi yang diinginkan secara rata-rata, resiko yang dapat anda tanggung, serta asumsi-asumsi lainnya yang di rasa perlu. 
  5. Neraca Keuangan anda serta total asset yang anda miliki. Sebuah analisa yang akan meliputi daftar kekayaan, asset dan kewajiban anda serta keluarga anda termasuk perhitungan dari total kekayaan bersih anda. Dengan memiliki daftar ini akan memudahkan Perencanaan Keuangan untuk mengetahui situasi keuangan anda sekarang sehingga dapat membantu dalam memberikan saran dan rekomendasi. 
  6. Pengelolaan cash flow . Analisa dari laporan keuangan anda termasuk slip gaji dan penghasilan lainnya, serta seluruh biaya dan pengeluaran anda sehingga dapat terlihat lebih atau kurangnya penghasilan anda setiap bulan. 
  7.  Pajak Penghasilan. Analisa dari laporan pajak anda termasuk pelaporan pajak tahunan anda serta perhitungan tabungan sebelum pajak (bila ada). Pajak merupakan area yang sangat sensitive, sehingga peran dari Perencanaan Keuangan di sini adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh atau efek dari sebuah investasi terhadap asset dan pajak anda. Perhitungan pajak serta pelaporan pajak tahunan anda tetap harus di lakukan oleh konsultan pajak anda, Apabila anda belum mempunyai seorang konsultan pajak, penasihat keuangan anda dapat merekomendasikan anda. 
  8. Manajemen Resiko. Termasuk di dalamnya adalah profil resiko ada terhadap pengaruh pasar ke asset dan investasi anda. Resiko lain yang harus di analisa adalah meliputi resiko kematian anda, penyakit akut, penyakit menurun, serta cacat tubuh yang memungkinkan pengurangan penghasilan atau mungkin kehilangan penghasilan. 
  9. Investasi. Daftar dari portofolio investasi yang telah anda miliki sekarang. Analisa dari portofolio anda akan meliputi : alokasi portofolio, likuiditas asset, diversifikasi portofolio, dan resiko investasi. Selain itu Perencanaan Keuangan akan menganalisa apakah investasi anda sesuai dengan tujuan investasi anda. 
  10. Kebutuhan khusus lainnya seperti Perencanaan masa pensiun serta biaya pendidikan anak anda. Analisa keuangan yang dibutuhkan dimasa depan sesuai dengan kebutuhan tersebut. Analisa tersebut meliputi : Berapa biaya kebutuhan tersebut sekarang, berapa proyeksi di masa yang akan datang, kapan biaya tersebut dibutuhkan, sudahkah dana tersebut tersedia sekarang, apabila belum berapa besar cicilan investasi yang harus anda mulai sekarang? 
  11. Perencanaan Warisan, Meskipun belum tentu semua orang membutuhkan perencanaan warisan akan tetapi sangat penting untuk melihat situasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan serta strategi untuk mengatasi situasi tersebut. 
  12. Rekomendasi tertulis secara spesifik untuk memenuhi kebutuhan investasi anda. Pemecahan akan seluruh permasalahan yang telah diidentifikasi serta rencana dalam penerapan rekomendasi tersebut. 
  13. Jadwal penerapan rekomendasi di atas sesuai dengan skala prioritas yang telah di setujui.
Apabila ada area dari yang disebutkan di atas berada di luar wewenang Perencanaan Keuangan anda, maka Perencanaan Keuangan anda bertanggungjawab untuk merekomendasikan professional lainnya serta mengkoordiasikan dengan mereka untuk mencakup area tersebut. Seluruh dokumentasi dengan professional tersebut harus diikut sertakan kedalam Perencanaan Keuangan anda termasuk nama professional tersebut serta jadwal tinjauan atas jasa yang akan di berikan.
Seluruh analisa dari sebuah Perencanaan Keuangan harus meliputi tinjauan dari fakta atau keadaan sesungguhnya sekarang. Pertimbangan untung rugi dari keadaan tersebut, rencana penerapan, jadwal waktu, serta kesimpulan dan rekomendasi dari perencanaan tersebut.

Untuk keperluan pembuatan Perencanaan Keuangan Anda bisa menghubungi kami DI SINI 

Artikel Terkait :

Perencanaan Keuangan? Gimana ya Prosesnya? (2)




Perencanaan Keuangan haruslah di buat secara personal sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Perencanaan Keuangan haruslah focus pada efek psikologi dan financial yang dapat mempengaruhi  pencapaian tujuan-tujuan investasi anda. Sebuah Perencanaan Keuangan yang komprehensif haruslah memberikan strategi jangka panjang serta perhitungan yang dapat di pakai untuk mencapai tujuan investasi anda.

Perencanaan Keuangan akan membantu anda mengalokasikan uang anda secara lebih sistematik dan spesifik. Melalui enam langkah awal proses Perencanaan Keuangan yang komprehensif Perencanaan Keuangan akan membantu anda dengan :
Melihat situasi anda sekarang berdasarkan data-data yang di berikan oleh anda.

Kerjasama anda dan keterbukaan anda dalam memberikan data personal, situasi keuangan anda, tujuan anda serta harapan anda akan di butuhkan oleh Perencanaan Keuangan untuk membantu anda dalam menyiapkan Perencanaan Keuangan . Anda di minta untuk mengisi daftar pertanyann seperti gaji, kewajiban, asset, investasi, dana pendidikan serta program asuransi yang anda miliki. 

Menetapkan tujuan investasi anda.

Para profesional di bidang Perencanaan Keuangan akan membantu anda dalam menetapkan tujuan investasi anda. Tujuan-tujuan investasi in dapat termasuk : Biaya Kuliah anak kelak, membantu membiayai orang tua yang telah lanjut usia dan tidak bekerja lagi, mengurangi beban keuangan anda dengan melakukan analisa keuangan bulanan anda, dan lain-lain.

Melihat permasalahan yang dapat menghalangi anda dalam mencapai tujuan-tujuan investasi tersebut.

Banyak permasalahn yang mungkin tidak anda sadari seperti contohnya : anda tidak mempunyai asuransi atau sebaliknya anda kelebihan asurani, masalah cash flow  bulanan anda tidak pernah cukup untuk kebutuhan hidup per bulannya, atau investasi anda sekarang ternyata tidak dapat melampaui rate inflasi sekarang. Seluruh permasalahan ini akan diidentifikasikan sebelum Perencanaan Keuangan memberikan jalan keluar dari permasalahan anda.

Mempersiapkan Perencanaan Keuangan secara tertulis.

Panjangnya suatu dokumen dari Perencanaan Keuangan bergantung kepada seberapa kompleks situasi keuangan anda. Rencana keuangan ini akan di buat sesuai dengan situasi anda serta tujuan investasi anda, sehingga rencana keuangan ini hanya akan tepat dan sesuai untuk di gunakan oleh anda (taylor made).

Menerapkan rekomendasi dalam Perencanaan Keuangan anda

Perencanaan Keuangan akan dapat bekerja dengan baik apabila di terapkan. Akan tetapi langkah untuk menerapkan, memodifikasi, ataupun menolak rekomendasi tetap akan di putuskan oleh anda sendiri. Apabila sesuai dengan perjanjian, anda dapat meminta Perencanaan Keuangan anda untuk membantu anda menerapkan rekomendasi tersebut.

Tinjauan secara teratur terhadap Rencana Keuangan anda

Tinjauan secara teratur adalah suatu hal yang penting dalam proses suatu Perencanaan Keuangan. Dengan melakukan tinjauan secara teratur anda dapat mengetahui apabila Rencana Keuangan anda tetap pada jalur yang telah di setujui atau tidak. Sebuah Rencana Keuangan yang komprehensif akan mengikut sertakan tinjauan sebagai satu kesatuan paling sedikit satu tahun sekali.


Artikel terkait :

Perencana Keuangan? Siapa Sih Dia??? (1)

Sering terjadi polis anda putus di tengah jalan/ menunggak? Tiba-tiba anda tidak mampu lagi membayar cicilan bank, dan terancam aset anda di lelang ? Atau mata terbelalak tagihan kartu kredit di luar rasio hitungan anda? atau parahnya sampai anda tidak mampu lagi menampakkan  wajah dan terpaksa mengganti nomer HP? 

Semua karena tidak di lakukan kalkulasi /diagnosis dan perencanaan terlebih dahulu di awal anda melakukan investasi, dan HANYA TERBUAI OLEH GODAAN  marketing asuransi, terlena oleh keinginan tanpa memperhitungkan pendapatan dan kebutuhan, yang pada akhirnya keluarga tercinta menjadi korban, kecerobohan anda.

Harusnya di hitung dulu berdasarkan :
  1. Pendapatan, 
  2. Pengeluaran
  3. Cicilan yg sudah ada
  4. Jumlah aset, Langkah selanjutnya
  5. Tujuan investasi/goals/keinginan, misal: pendidikan, pembelian rumah, haji, dll di sertai waktu pelaksanaan, misal, anak masuk smp sekian th ke depan, haji 5 th yg akan datang, beli rumah 3 tahun lagi, dst.
Seorang financial planner akan : 
  1. Menganalisa data yg anda berikan dan 
  2. Mengkalkulasi berapa investasi yg harus di lakukan, di instrument apa,
  3. Memberikan rekomendasi produk.
  4. Memberikan jadwal action plan, agar angka mendekati yg di butuhkan.
  5. Mereview minimal 3 bulan sejak plan di serahkan.

Dengan di lakukannya hal tersebut maka anda akan mendapatkan besaran porsi yg harus di investasikan utk masing-masing tujuan:
  1. Zakat Infaq dan sedekah yang sebaiknya di lakukan
  2. Dana Darurat Yang harus di sediakan
  3. Asuransi (Syariah) yg harus di beli, 
  4. Simpanan utk dana pensiun
  5. Simpanan utk dana pendidikan
  6. Simpanan utk tujuan kepemilikan/keinginan hal lain, yg seauai dg kondisi keuangan anda yg telah DISEHATKAN
  7. Kemana investasi Syariah di lakukan: LOGAM MULIA, RDPT, RDPU, RDC ataukah RDS.
Anda akan mendapatkan sebuah buku rencana "Book Plan" yang berisi semua detail tentang keuangan dan rencana anda, yang sifatnya CONFIDENTIAL atau Rahasia, HANYA ANDA DAN FINANCIAL PLANNER ANDA yang mengetahui isinya. Dan Kerahasiaan ini di Jamin oleh Peraturan dalam Surat Perjanjian Kerja yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan undang-undang yang berlaku.


Keberhasilannya membutuh KEDISPLINAN dalam menjalankannya. Nah dengan dilakukannya hal tersebut akan :
  1. Meminimalisir putusnya polis, 
  2. Tersedianya biaya pendidikan,
  3. Sudah siapnya tabungan utk keluarga jika sewaktu-waktu mereka menjadi janda/duda dan yatim.
  4. Hidup menjadi lebih tenang karena sudah punya rencana dan langkah yg harus di lakukan. Sehingg juga otomatis biasanya mengurangi waktu utk hal-hal yg tidak berguna.

Perencanaan ini adalah sebagai salah satu bentuk IKHTIAR dalam hidup, semoga semua biidznillah dan mardhotillah. Amiinnn.

Susun Langkah sejak awal, mulai sekarang. Silahkan Rencakan Keuangan anda bersama Team  Kami, hubungi kami di sini.


Pembagian Warisan Menurut Islam (1)

I. AYAT-AYAT WARIS

ALLAH SWT berfirman
"Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (an-Nisa': 11)
"Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan, yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun." (an-Nisa': 12)
"Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (an-Nisa': 176)

SEBAB DAN PENGHALANG WARISAN

A.   SEBAB-SEBAB KEWARISAN


Harta peninggalan orang yang meninggal dunia adalah tidak serta merta dapat dibagi oleh orang yang hidup, kecuali ada sebab-sebab yang menghubungkan penerima dengan orang yang mati. Dalam hal ini para ulama telah menetapkan bahwa sebab-sebab orang medapat warisan ada tiga:     
a.       Nasab
 Atau hubungan kekerabatan. Nasab ini dapat berupa hubungan orang tua dengan anak, saudara, paman, dan bibi, dan lainnya, dimana hubugan itu dapat dihubungkan kepada orang tua. Hal ini berdasarkan firman Allah
 
“Dan orang-orang yang beriman sesudahmu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagian lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
b.  Perkawinan (الزواج). Seorang mendapatkan harta warisan dari orang yang meninggal dunia, karena adanya hubungan pernikahan atau perkawinan, seperti antara suami dengan istri atau sebaliknya. Hal ini berdasarkan firman Allah:
وَ لَكُمْ  نِصْفُ  مَا تَرَكَ  أَزْوَاجُكُمْ...الآية
Dan bagi kamu seprdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kamu”
Dalam hubungan perkawinan ini, suami-istri dapat saling mewarisi dengan ketentun sebagai berikut:
1. Perkawinan. Yang dimaksud dengan perkawinan di sini adalah perkawinan yang sah menurut agama, yaitu perkawinan yang telah memenuhi syarat dan rukun seperti yang diatur dalam ajaran Islam, baik sudah dipergauli atau belum pernah dipergauli, disamping itu, perkawinan itu tidak dianggap fasid (rusak) oleh Pengadilan Agama, karena perkawinan yang fasid menurut sari’ah adalah perkawinan yang tidak sah. 
 Oleh karena itu, bila salah seorang mati di antara suami- istri maka mereka saling mewarisi. Tidak termasuk dalam hal ini hubungan yang disebabkan perzinahan, walaupun adanya hubungan badan antara pezina, mereka tidak dapat saling mewarisi, dan anak yang dilahirkan akibat perzinahan tidak mendapatkan warisan dari bapaknya, tapi akan mendapatkan dari ibunya.
2.      Perkawinan itu dalam posisi:
 Pemberi waris meninggal dalam keadaan perkawinan masih utuh –tidak dalam perceraian yang ba’in shugra’-. Dalam posisi ini suami-istri dapat saling mempusakai, yaitu berakhirnya perkwinan semata mata dengan matinya salah seorang suami-istri.



Artikel Sebelumnya:

Fiqih Mawaris, Sumber Hukum Waris

C.  SUMBER HUKUM WARIS
 
Ilmu Waris Islam adalah merupakan bagian dari ilmu Fiqh. Tentu ia memiliki sumber sebagaimana layak Ilmu Fiqh lainnya. Ilmu Waris bersumber dari sumber pokok ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. yang diperkuat oleh Ijma ulama. Al-Qur’an sebagai sumber pertama menjelaskan secara jelas hak-hak penerimaan warisan dari harta warisan yang ditinggalkan, seperti yang dijelaskan dalam berbagai ayat, seperti ayat 7, 11, 12 dan 176 dari surat al-Nisa’, dan surat lainnya.  Disamping itu ilmu Mawaris Islam bersumber dari al-Hadist, seperti hadist yang diriwayatkan al-Dairamiy:
قَالَ النَِّبيُّ  صَلَّى اللهُ  عَليَْهِ  وَ سَلَّمَ: " اِلْحَقُوا  اْلفَرَائِضَ  بِأَهْلِهَا،  فَمَا بَقِيَ فَهُوَ  ِلأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ"
“Nabi bersabda: “Berikanlah harta pusaka kepada orang-orang yang berhak. Sesudah itu, sisanya untuk orang laki-laki yang lebih utama”.
Selain hadist di atas itu, Ijma’ juga merupakan salah satu sumber dari ilmu Mawaris, karena banyak hal yang menjadi kesepakatan ulama yang diterapkan dalam pembagian harta warisan, seperti:
a.       Status pembagian warisan antara kakek dan saudara-saudara. Dalam al-Qur’an hal ini tidak dijelaskan, akan tetapi menurut kebanyakan ulama dengan cara mengikuti pandangan Zaid bin Sabit, bahwa bagian kakek harus mendapat bagian yang paling menguntungkan, dari beberapa  cara: Muqasamah (bagi rata), 1/6 seluruh harta peninggalan, 1/3 sisa, jika mereka bersama zawil furudh lainnya dan jika mereka tidak bersama zawil furudh mereka menerima muqasamah dan  1/3 seluruh harta.
b.      Status cucu yang ayahnya lebih dahulu meninggal daripada kakek yang bakal menerima warisan bersama saudara-saudara ayah cucu yang meninggal tadi. Menurut undang-undang Hukum Waris Mesir setelah mengadopsi pandangan ulama Salafi dan Khalafi, bahwa cucu tadi mendapat warisan dengan jalan wasiat wajibah. Misalnya ada seorang meninggal dunia (A), dia mempunyai dua orang anak (B) dan (C) dimana  (C) ini telah meninggal lebih dahulu sebelum (A) meninggal dan memiliki anak (D). Maka harta peninggalan si (A) diambil seluruhnya (B) sebab ia menghijab cucu (D). Tetapi, susugguhnya ia akan mendapatkan bagian ayahnya bila ayahnya masih hidup, oleh karena itu ia diberikan dengan jalan wasiat wajibah.
 
D.  HUBUNGAN DENGAN HUKUM WARIS NASIONAL
Hukum waris Islam merupakan bagian hukum yang diberlakukan bagi orang-orang yang memeluk agama Islam, sebab di Indonesia diberlakukan pada umumnya beberapa hukum waris, diataranya:
1.      Untuk warga negara golongan Indonesia asli, pada perinsipnya berlaku hukum adat sesuai dengan daerah masing-masing.
2.      Untuk warga negara golongan Indonesia asli yang beragama Islam di berbagai daerah diberlakukan hukum Islam yang sangat berpengaruh.
3.      Bagi orang Arab pada umumnya berlaku hukum Islam secara keseluruhan.
4.      Bagi orang-orang Tionghoa dan Erofa berlaku hukum warisan dari Gugerlijik Wetboeh.
 
Artikel Terkait:

Fiqih Mawaris 3 ( Penerima Warisan)

B.  ASAS-ASAS HUKUM KEWARISAN
Setiap ilmu tentunya memiliki asas tertentu yang menjadi ciri khas dalam disiplinnya. Demikian juga ilmu waris Islam memiliki asas yang khusus yang digali dari sumbernya sebagaimana yang dijelaskan berikut. Asas kewarisan yang terdapat dalam sumber hukum Ilmu Faraidh, baik yang digali dari al-Qur’an ataupun al-Sunnah dapat dikalsifikasi menjadi beberapa bagian, antara lain adalah:
a.       Asas Ijbari. Kata Ijabari secara bahasa dapat diartikan “paksaan”, yaitu melakukan sesuatu di luar kehendak sendiri. Dalam hal ini hukum waris berarti “terjadinya peralihan harta seorang yang telah meninggal dunia kepada yang masih hidup dengan sendiri. Artinya pemberi waris tidak memiliki perbuatan hukum baik untuk menolak atau menghalanginya terjadinya peralihan harta tersebut. Dengan kata lain, bahwa dengan meninggalnya pemberi waris maka hartanya langsung dapat berpindah tangan kepada penerima warisan, apakah ia suka menerima atau tidak dengan tampa perkecualian. Ijbar ini dapat dilihat pada tiga sisi: 1). Segi peralihan harta. 2). Segi jumlah harta yang beralih. 3). Segi penerima warisan. Ketentuan asas ini bersumber pada firman Allah an-Nisa’ (4) ayat 7: dimana kata  “Nashib" pada ayat yang dimaksud  dapat berarti saham, jatah, bagian dari harta peninggalan si pewaris sebagaimana yang dimaksud ayat tersebut. Ayat 7 (tujuh) yang dimaksud adalah:
ِللرِّجَالِ   نَصِيْبٌ   ِمَّما تَرَكَ  الْوَالِدَانِ وَ  اْلأَقْرَبُوْنَ وَ  لِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِداَنِ وَ الأَقْرَبُوْنَ مِمّا قَلَّ أَوْ كَثُرَ نَصِيْبًأ مَفْرُوْضًا
Artinya:
“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi bagi istri ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut yang telah ditetapkan
b.      Asas Bilateral, yaitu seorang dapat menerima hak warisan dari dua jalur; ibu dan ayah. Asas ini secara tegas ditemui dalam ketentuan al-Qur’an surat an-Nisa’ (4) ayat 7 di atas dan berikut  11 –surat al-Nisa'- seperti berikut:
يُوصِيكُمْ االلهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لاَ تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا فَرِيضَةً مِنْ الله ِ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Artinya:
Allah perintahkan kamu mengenai (pembahagian harta pusaka untuk) anak-anak kamu, iaitu bahagian seorang anak elaki menyamai bahagian dua orang anak perempuan. Tetapi jika anak-anak perempuan itu lebih dari dua, maka bahagian mereka ialah dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh si mati. Dan jika anak perempuan itu seorang saja, maka bahagiannya ialah satu perdua (separuh) harta itu. Dan bagi ibu bapa (si mati), tiap-tiap seorang dari keduanya: satu perenam dari harta yang ditinggalkan oleh si mati, jika si mati itu mempunyai anak. Tetapi jika si mati tidak mempunyai anak, sedang yang mewarisinya hanyalah kedua ibu bapaknya, maka bahagian ibunya ialah satu pertiga. Kalau pula si mati itu mempunyai beberapa orang saudara (adik-beradik), maka bahagian ibunya ialah satu perenam. (Pembahagian itu) ialah sesudah diselesaikan wasiat yang telah diwasiatkan oleh si mati, dan sesudah dibayarkan hutangnya. lbu-bapa kamu dan anak-anak kamu, kamu tidak mengetahui siapa di antaranya yang lebih dekat serta banyak manfaatnya kepada kamu (Pembahagian harta pusaka dan penentuan bahagian masing-masing seperti yang diterangkan itu ialah) ketetapan dari Allah; sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.
Demikian juga beberapa ayat berikut ini, seperti ayat 12 (dua belas) surat al-Nisa' berikut:
وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمْ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلالَةً أَوْ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ  مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنْ اللهِ وَاالله ُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ
Artinya:
Dan bagi kamu satu perdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isteri kamu jika mereka tidak mempunyai anak. Tetapi jika mereka mempunyai anak maka kamu beroleh satu perempat dari harta yang mereka tinggalkan, sesudah ditunaikan wasiat yang mereka wasiatkan dan sesudah dibayarkan hutangnya. Dan bagi mereka (isteri-isteri) pula satu perempat dari harta yang kamu tinggalkan, jika kamu tidak mempunyai anak. Tetapi kalau kamu mempunyai anak maka bahagian mereka (isteri-isteri kamu) ialah satu perlapan dari harta yang kamu tinggalkan, sesudah ditunaikan wasiat yang kamu wasiatkan, dan sesudah dibayarkan hutang kamu. Dan jika si mati yang diwarisi itu, lelaki atau perempuan, yang tidak meninggalkan anak atau bapa, dan ada meninggalkan seorang saudara lelaki (seibu) atau saudara perempuan (seibu) maka bagi tiap-tiap seorang dari keduanya ialah satu perenam. Kalau pula mereka (saudara-saudara yang seibu itu) lebih dari seorang, maka mereka bersekutu pada satu pertiga (dengan mendapat sama banyak lelaki dengan perempuan), sesudah ditunaikan wasiat yang diwasiatkan oleh si mati, dan sesudah dibayarkan hutangnya; wasiat-wasiat yang tersebut hendaknya tidak mendatangkan mudarat (kepada waris-waris). (Tiap-tiap satu hukum itu) ialah ketetapan dari Allah. Dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Penyabar.
Selanjutnya yang dijadikan sandaran juga adalah ayat 176 surat al-Nisa' sebagai berikut:
يَسْتَفْتُونَكَ قُلْ اللهُُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ إِنْ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالاً وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا وَاللهُُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya:
Mereka  meminta fatwa kepadamu. Katakanlah: “Allah membei fatwa kepada kamu tentang kalalah: jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempnyia saudara perempuan, maka baginyanya seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mepusakainya jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orng, maka bagi keduanya dua pertiga dari  harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka saudara-saudara laki-laki dan perempaun, maka bahagian saudara laki-laki sebanyak bahagian dua saudara perempuan. Allah menreankan kepada kamu supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Dalam beberapa ayat tersebut dijelaskan bahwa seorang dapat mewarisi warisan keluarganya, baik dari pihak laki-laki dan perempuan.
c.       Asas Individual, yaitu bahwa setiap orang berhak atas bagian yang didapatinya tampa terkait dengan ada atau tidak adanya pada ahli waris lainnya. Dengan demikian bagian yang diperoleh seorang dari harta warisan adalah dapat dimiliki secara perorangan dan tidak ada sangkut pautnya ahli waris lain terhadap harta yang diterimanya, sehingga ia memiliki kebebasan penuh terhadap harta yang diterimanya. Ketentuan atas asas ini adalah berdasarkan ayat 7 surat al-Nisa’, dimana disana dijelaskan bagian masing-masing orang.
d.      Asas Keadilan Berimbang, yaitu asas yang mengarahkan kepada perimbangan antara hak dan kewajiban antara yang diperoleh dengan keperluan dan kegunaan, sehingga faktor jenis kelamin tidak menentukan dalam hak kewarisan. Hal ini berbeda dengan yang diberlakukan pada adat yang dikenal dengan garis keturunan patrinial, yaitu garis keturunan yang ditarik dari keturunan bapak Sementara dasar hukum asas peimbangan ini adalah surat an-Nisa’ ayat 7, 11, 12, dan 176 sebagaimana telah disebutkan.
e.       Asas Kewarisan Semata Akibat Kematian, yaitu bahwa hukum waris Islam memandang terjadinya pewarisan semata-semata disebabkan adanya kematian yang pemberi warisan. Sementara harta yang diberikan pada saat pemberi warisan masih hidup bukanlah dinamakan harta warisan, melainkan hibah atau wasiat
Itulah asas pokok Ilmu Mawaris Islam, bila salah satu dari asas itu tidak terpenuhi maka jelas tidak dikatakan Ilmu Waris Islam. Keberadaan Ilmu Mawaris dengan segala asas yang dikandungnya adalah bersumber dari beberapa sumber yang akan dijelaskan berikut.
 
Artikel Terkait :

Recent

PROFIL FINANCIAL PLANNER - ILA ABDULRAHMAN

ILA ABDULRAHMAN, S.Pt., RIFA, RFC Siti Ruhailah Abdulrahman, S.Pt., RPP, RFA,   RIFA, RFC atau yang dikenal dengan Ila Abdulrahman, ad...

Baca Juga